Nayla Julmaira • Oct 16 2026 • 64 Dilihat

Ilmu pengetahuan merupakan salah satu unsur penting dalam perkembangan peradaban manusia. Kemajuan suatu masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kemampuan manusia dalam mencari, mengembangkan, dan menerapkan ilmu pengetahuan. Dalam sejarah dunia, peradaban Islam pernah mengalami masa kejayaan ilmu pengetahuan yang melahirkan banyak ilmuwan besar dalam berbagai bidang. Para ilmuwan Muslim tidak hanya mempelajari ilmu agama, tetapi juga mengembangkan ilmu kedokteran, matematika, astronomi, filsafat, kimia, dan bidang ilmu lainnya. Tradisi tersebut menunjukkan bahwa Islam memiliki perhatian yang besar terhadap kegiatan membaca, belajar, mengamati, berpikir kritis, dan mengembangkan ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Salah satu bidang yang berkembang pesat dalam peradaban Islam adalah ilmu kedokteran. Pada masa tersebut muncul tokoh-tokoh besar yang memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu kesehatan, di antaranya Abu Ali al-Husain ibn Abdullah ibn Sina atau lebih dikenal sebagai Ibnu Sina dan Ala al-Din Abu al-Hassan Ali ibn Abi-Hazm al-Qarshi al-Dimashqi atau Ibnu Nafis. Kedua tokoh tersebut memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan ilmu kedokteran. Ibnu Sina dikenal melalui karya monumentalnya, Al-Qanun fi al-Tibb atau The Canon of Medicine, sedangkan Ibnu Nafis dikenal karena penjelasannya mengenai peredaran darah pulmonal atau peredaran darah kecil.
Karya dan pemikiran kedua tokoh tersebut menunjukkan adanya budaya riset dalam peradaban Islam. Mereka tidak hanya menerima pengetahuan yang telah ada, tetapi juga mempelajari, mengkritisi, mengembangkan, dan menyebarkan pengetahuan. Ibnu Nafis bahkan berani menolak pandangan anatomi yang telah diterima selama berabad-abad karena tidak sesuai dengan pengamatan dan penalarannya. Kajian sejarah kedokteran menunjukkan bahwa Ibnu Nafis merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah pemahaman sirkulasi pulmonal dan menentang gagasan Galen mengenai adanya jalur langsung melalui sekat jantung.
Pembahasan mengenai Ibnu Sina dan Ibnu Nafis menjadi penting bagi mahasiswa kesehatan, khususnya mahasiswa keperawatan. Hal tersebut karena profesi keperawatan membutuhkan kemampuan berpikir kritis, penerapan ilmu berbasis bukti, keterampilan melakukan pengamatan, serta kemauan untuk terus belajar.
Tujuan penulisan esai ini adalah menganalisis kontribusi Ibnu Sina dan Ibnu Nafis sebagai pelopor budaya riset dalam peradaban Islam serta menjelaskan relevansi semangat keilmuan mereka terhadap pendidikan dan praktik profesional keperawatan.
Budaya riset dapat dipahami sebagai kebiasaan atau tradisi untuk memperoleh pengetahuan melalui proses sistematis, seperti membaca, mengamati, mengidentifikasi masalah, mengumpulkan informasi, menganalisis, menguji, dan menyimpulkan suatu permasalahan. Budaya riset tidak hanya berkaitan dengan kegiatan penelitian formal di perguruan tinggi, tetapi juga mencakup sikap ilmiah dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang memiliki budaya riset akan terbiasa mempertanyakan sesuatu secara kritis, mencari sumber yang dapat dipercaya, dan tidak mudah menerima informasi tanpa bukti.
Dalam Islam, pencarian ilmu memiliki kedudukan yang penting. Salah satu dasar yang menunjukkan pentingnya aktivitas membaca dan belajar terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al-‘Alaq ayat 1–5:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1–5).
Ayat tersebut memiliki hubungan yang sangat kuat dengan budaya ilmu. Perintah “bacalah” menjadi salah satu simbol bahwa manusia didorong untuk memperoleh pengetahuan. Dalam konteks ilmiah, membaca merupakan langkah awal untuk memahami suatu permasalahan sebelum melakukan penelitian. Namun, membaca dalam pengertian yang lebih luas juga dapat berarti mengamati dan memahami fenomena yang terjadi di sekitar manusia.
Selain Al-Qur’an, semangat mencari ilmu juga diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, 2699).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa mencari ilmu merupakan kegiatan yang memiliki nilai positif dalam Islam. Oleh karena itu, mahasiswa seharusnya memiliki semangat belajar yang tinggi. Ilmu tidak hanya dipelajari untuk memperoleh nilai akademik, tetapi juga untuk meningkatkan kemampuan dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Jika dikaitkan dengan profesi kesehatan, pencarian ilmu memiliki nilai yang sangat penting. Tenaga kesehatan harus terus memperbarui pengetahuan karena perkembangan ilmu kedokteran dan keperawatan terus mengalami perubahan. Pengetahuan yang benar dapat membantu tenaga kesehatan memberikan pelayanan yang lebih aman dan efektif kepada pasien.
Ibnu Sina merupakan salah satu ilmuwan Muslim yang paling terkenal dalam sejarah. Ia hidup sekitar tahun 980–1037 M dan dikenal sebagai dokter, filsuf, serta pemikir yang memiliki pengaruh besar. Salah satu karya terbesarnya dalam bidang kedokteran adalah Al-Qanun fi al-Tibb. Karya tersebut menyusun berbagai pengetahuan kedokteran secara sistematis dan menjadi salah satu karya penting dalam sejarah kedokteran.
Al-Qanun fi al-Tibb membahas berbagai aspek kesehatan dan penyakit. Karya tersebut mencakup pengetahuan mengenai anatomi, penyakit, diagnosis, pengobatan, obat-obatan, serta berbagai aspek yang berhubungan dengan kesehatan manusia. Pengaruh karya Ibnu Sina tidak hanya dirasakan di dunia Islam, tetapi juga dalam pendidikan kedokteran di berbagai wilayah selama berabad-abad.
Hal penting yang dapat diteladani dari Ibnu Sina adalah kemampuannya menggabungkan berbagai sumber pengetahuan dan menyusunnya secara sistematis. Ia tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga seorang pemikir yang berusaha mengembangkan pengetahuan. Karya-karyanya menunjukkan bahwa ilmu membutuhkan proses pengumpulan informasi, pengelompokan, analisis, dan penyebaran.
Dalam konteks budaya riset, metode berpikir Ibnu Sina dapat menjadi contoh bagi mahasiswa. Mahasiswa perlu membiasakan diri membaca berbagai sumber ilmiah sebelum membuat kesimpulan. Informasi dari satu sumber sebaiknya tidak langsung diterima tanpa pertimbangan. Mahasiswa harus mampu membandingkan sumber, menilai kredibilitasnya, dan menentukan informasi yang paling relevan.
Selain Ibnu Sina, Ibnu Nafis merupakan tokoh penting dalam perkembangan ilmu kedokteran Islam. Ia hidup sekitar tahun 1213–1288 M. Ibnu Nafis dikenal karena kontribusinya terhadap pemahaman sistem peredaran darah, terutama sirkulasi pulmonal.
Pada masa sebelum Ibnu Nafis, teori Galen mengenai peredaran darah telah memiliki pengaruh besar. Salah satu pandangan tersebut menyatakan bahwa darah dapat melewati sekat antara ventrikel kanan dan ventrikel kiri melalui pori-pori yang tidak terlihat. Ibnu Nafis menolak pandangan tersebut. Berdasarkan pemikiran dan pengamatannya, ia menyatakan bahwa tidak terdapat jalur langsung melalui sekat antara kedua ventrikel tersebut. Darah dari sisi kanan jantung harus menuju paru-paru dan kemudian kembali menuju sisi kiri jantung.
John B. West menjelaskan bahwa Ibnu Nafis merupakan tokoh yang menentang gagasan lama mengenai perpindahan darah melalui sekat interventrikular. Ia menyatakan bahwa darah yang mencapai ventrikel kiri harus melewati paru-paru. Ibnu Nafis juga mengemukakan adanya hubungan atau saluran kecil antara pembuluh darah pulmonal, suatu gagasan yang kemudian dikaitkan dengan pemahaman mengenai kapiler pulmonal.
Kontribusi tersebut memperlihatkan salah satu karakter utama budaya riset, yaitu berpikir kritis. Ibnu Nafis tidak menerima teori terdahulu hanya karena teori tersebut telah lama dipercaya. Ia berusaha menilai teori berdasarkan anatomi dan penalaran. Kajian ilmiah mengenai Ibnu Nafis juga menyebutkan bahwa ia secara kritis menilai pandangan para ilmuwan sebelumnya berdasarkan observasi dan eksperimen.
Penemuan tersebut memiliki relevansi langsung dengan bidang keperawatan. Mahasiswa keperawatan mempelajari sistem kardiovaskular dan respirasi untuk memahami bagaimana oksigen dan darah diedarkan ke seluruh tubuh. Pemahaman mengenai sirkulasi pulmonal menjadi dasar untuk memahami berbagai kondisi kesehatan, seperti gangguan pernapasan, penyakit jantung, gangguan pertukaran gas, dan masalah oksigenasi.
Dari perjalanan intelektual Ibnu Sina dan Ibnu Nafis, terdapat sejumlah nilai yang dapat diterapkan oleh mahasiswa. Nilai pertama adalah rasa ingin tahu. Seorang ilmuwan tidak akan berkembang jika tidak memiliki keinginan untuk mengetahui sesuatu yang belum dipahami. Mahasiswa keperawatan juga harus memiliki rasa ingin tahu terhadap kondisi pasien, mekanisme penyakit, tindakan keperawatan, dan perkembangan ilmu kesehatan.
Nilai kedua adalah berpikir kritis. Ibnu Nafis memberikan contoh bahwa teori yang telah lama dipercaya tetap dapat dikaji kembali apabila ditemukan alasan ilmiah yang kuat. Dalam keperawatan, berpikir kritis diperlukan ketika melakukan pengkajian, menentukan masalah keperawatan, menyusun intervensi, melaksanakan tindakan, dan mengevaluasi hasil.
Nilai ketiga adalah ketekunan. Pengembangan ilmu tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Penelitian memerlukan proses membaca, mengumpulkan data, melakukan pengamatan, menganalisis, dan mengevaluasi hasil. Mahasiswa harus memahami bahwa kegagalan dalam belajar atau penelitian merupakan bagian dari proses pengembangan diri.
Nilai keempat adalah kejujuran ilmiah. Ilmu harus dikembangkan berdasarkan data dan fakta. Seorang peneliti tidak boleh memalsukan data atau mengubah hasil penelitian hanya untuk mendapatkan kesimpulan tertentu. Kejujuran menjadi semakin penting dalam bidang kesehatan karena hasil penelitian dapat memengaruhi keselamatan pasien.
Nilai kelima adalah kemanfaatan ilmu. Pengetahuan seharusnya tidak hanya menjadi sesuatu yang disimpan oleh seorang ilmuwan, tetapi dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Prinsip ini sangat sesuai dengan tujuan pelayanan keperawatan yang berorientasi pada kesehatan, keselamatan, kenyamanan, dan kesejahteraan pasien.
Semangat Ibnu Sina dan Ibnu Nafis dapat diterapkan dalam pendidikan keperawatan melalui pengembangan evidence-based nursing. Praktik keperawatan berbasis bukti menuntut perawat untuk menggunakan pengetahuan ilmiah dalam menentukan tindakan yang tepat. Perawat perlu menggabungkan bukti penelitian dengan kemampuan klinis serta kondisi dan kebutuhan pasien.
Sebagai contoh, ketika seorang pasien mengalami gangguan oksigenasi, perawat tidak cukup hanya mengetahui cara memberikan oksigen. Perawat juga perlu memahami indikasi, prosedur, keamanan, pemantauan kondisi pasien, serta hasil penelitian yang mendukung tindakan tersebut. Demikian pula ketika melakukan tindakan seperti mengukur tekanan darah, melakukan pemeriksaan fisik, mengumpulkan sputum, memberikan posisi Fowler atau semi-Fowler, maupun melatih pasien melakukan napas dalam dan batuk efektif, tindakan tersebut harus dilakukan berdasarkan ilmu dan prosedur yang benar.
Mahasiswa keperawatan dapat mulai membangun budaya riset dengan membaca jurnal ilmiah, menggunakan buku referensi yang kredibel, membuat laporan praktikum secara objektif, mengikuti kegiatan penelitian, dan belajar mengidentifikasi masalah kesehatan di lingkungan sekitar. Kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi dasar untuk membentuk tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan berpikir ilmiah.
Budaya riset juga dapat membantu perawat dalam menghadapi perkembangan teknologi kesehatan. Saat ini teknologi informasi membuat berbagai informasi kesehatan dapat diperoleh dengan mudah. Namun, tidak semua informasi yang beredar di internet dapat dipercaya. Perawat harus mampu membedakan informasi ilmiah dengan informasi yang tidak memiliki dasar. Kemampuan tersebut merupakan bentuk penerapan sikap kritis yang dapat diteladani dari ilmuwan seperti Ibnu Sina dan Ibnu Nafis.
Selain kemampuan akademik, penerapan nilai Islam dalam budaya riset juga penting. Penelitian di bidang kesehatan harus dilakukan dengan memperhatikan etika dan martabat manusia. Pasien harus diperlakukan dengan hormat dan tidak boleh dijadikan sekadar objek penelitian. Prinsip kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan kemaslahatan harus menjadi dasar dalam kegiatan ilmiah.
Dengan demikian, integrasi antara agama, ilmu pengetahuan, dan profesi keperawatan dapat menghasilkan perawat yang tidak hanya terampil melakukan tindakan, tetapi juga memiliki karakter ilmiah dan moral. Seorang perawat yang memiliki budaya riset akan terus belajar dan tidak merasa cukup dengan pengetahuan yang telah dimilikinya.
Menurut penulis, Ibnu Sina dan Ibnu Nafis dapat disebut sebagai pelopor budaya riset dalam peradaban Islam karena keduanya memperlihatkan karakter ilmuwan yang relevan dengan prinsip penelitian modern. Mereka menunjukkan bahwa ilmu berkembang melalui proses belajar, pengamatan, pemikiran kritis, dan pengembangan pengetahuan.
Ibnu Sina menunjukkan pentingnya membangun pengetahuan secara sistematis. Ia mengumpulkan dan menyusun pengetahuan kedokteran sehingga dapat dipelajari oleh generasi berikutnya. Sementara itu, Ibnu Nafis menunjukkan pentingnya menguji kembali pengetahuan yang telah diterima. Ia tidak hanya mengikuti pendapat sebelumnya, tetapi menggunakan penalaran anatomi untuk memberikan penjelasan yang berbeda mengenai sirkulasi darah. Kajian sejarah kedokteran modern mengakui kontribusi Ibnu Nafis terhadap pemahaman awal sirkulasi pulmonal.
Hal tersebut memberikan pelajaran bahwa perkembangan ilmu membutuhkan dua hal, yaitu kemampuan membangun pengetahuan dan keberanian mengevaluasi pengetahuan. Kedua hal tersebut sangat dibutuhkan dalam keperawatan. Perawat harus mampu mempelajari ilmu yang sudah ada, tetapi juga harus terbuka terhadap hasil penelitian dan inovasi baru.
Menurut penulis, semangat kedua ilmuwan tersebut juga dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa keperawatan yang sedang belajar. Menjadi tenaga kesehatan profesional membutuhkan proses panjang. Mahasiswa mungkin mengalami kesulitan dalam memahami anatomi, fisiologi, komunikasi terapeutik, keterampilan klinis, maupun berbagai teori keperawatan. Namun, proses tersebut harus dijalani dengan ketekunan dan semangat belajar.
Budaya riset tidak harus dimulai dari penelitian besar. Kebiasaan bertanya “mengapa”, mencari sumber yang benar, membaca jurnal, mengamati kondisi pasien, dan mengevaluasi tindakan merupakan langkah sederhana untuk membangun budaya riset. Jika kebiasaan tersebut dilakukan sejak menjadi mahasiswa, maka akan terbentuk tenaga keperawatan yang mampu memberikan pelayanan berdasarkan ilmu dan bukti.
Ibnu Sina dan Ibnu Nafis merupakan dua tokoh penting dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dan kedokteran pada peradaban Islam. Ibnu Sina melalui Al-Qanun fi al-Tibb menunjukkan pentingnya penyusunan, pengembangan, dan penyebaran ilmu kedokteran secara sistematis. Sementara itu, Ibnu Nafis menunjukkan pentingnya pengamatan dan pemikiran kritis melalui penjelasannya mengenai sirkulasi pulmonal serta penolakannya terhadap pandangan bahwa darah melewati sekat antara ventrikel kanan dan kiri. Kontribusi Ibnu Nafis terhadap pemahaman sirkulasi pulmonal telah banyak dibahas dalam literatur sejarah kedokteran.
Semangat keilmuan kedua tokoh tersebut sejalan dengan nilai Islam yang mendorong manusia untuk membaca dan mencari ilmu sebagaimana terdapat dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1–5. Hadis Nabi Muhammad SAW tentang keutamaan menempuh jalan untuk mencari ilmu juga menunjukkan bahwa aktivitas keilmuan memiliki kedudukan penting dalam Islam.
Dalam bidang keperawatan, semangat Ibnu Sina dan Ibnu Nafis dapat diterapkan melalui kebiasaan belajar sepanjang hayat, berpikir kritis, melakukan pengamatan, membaca penelitian, menerapkan evidence-based nursing, serta menjaga kejujuran dan etika dalam kegiatan ilmiah. Budaya riset dapat membantu mahasiswa dan perawat meningkatkan kualitas pelayanan sehingga tindakan keperawatan yang diberikan semakin aman, efektif, dan sesuai kebutuhan pasien.
Mahasiswa keperawatan sebaiknya mulai membangun budaya riset sejak masa pendidikan dengan membiasakan membaca sumber ilmiah, mengikuti perkembangan penelitian kesehatan, berpikir kritis terhadap informasi, dan melakukan tugas akademik secara jujur. Institusi pendidikan juga diharapkan memberikan lebih banyak kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat dalam penelitian dan kegiatan ilmiah. Dengan demikian, semangat keilmuan yang diwariskan oleh ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina dan Ibnu Nafis dapat terus dikembangkan dan diterapkan dalam perkembangan ilmu keperawatan modern.
Abdel-Halim, R. E. (2008). Contributions of Ibn Al-Nafis (1210–1288 AD) to the progress of medicine and urology: A study and translations from his medical works. Saudi Medical Journal, 29(1), 13–22.
Buchs, M. (1995). History of a discovery: Ibn Al-Nafis and the lung circulation. Medicina nei Secoli: Journal of History of Medicine and Medical Humanities, 7(1), 95–108.
Loukas, M., Lam, R., Tubbs, R. S., Shoja, M. M., & Apaydin, N. (2008). Ibn al-Nafis (1210–1288): The first description of the pulmonary circulation. The American Surgeon, 74(5), 440–442.
Muslim ibn al-Hajjaj. (n.d.). Sahih Muslim 2699a. Sunnah.com.
The Qur’an. (n.d.). Surah Al-‘Alaq (96): 1–5.
West, J. B. (2008). Ibn al-Nafis, the pulmonary circulation, and the Islamic Golden Age. Journal of Applied Physiology, 105(6), 1877–1880.
Kontributor: Nayla Julmaira
Editor: Dani Habibi, M.Ag.
PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...
Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...
1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...
PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...
PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...
Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

I. Pendahuluan Lingkungan akademik merupakan ruang yang mempertemukan individu dengan latar belakang pengetahuan, karakter, kemampuan, dan cara ...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan kompleks yang hingga saat ini masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan nasional ...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan fenomena sosial yang telah menjadi permasalahan sangat serius dan mendalam di Indonesia. Praktik ini tidak hany...

I. Pendahuluan Institusi gizi baik dalam bentuk unit gizi rumah sakit, puskesmas, layanan katering kesehatan, maupun program gizi masyarakat mer...

I. Pendahuluan Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan manusia, namun akses terhadap layanan dan pengetahuan ke...

No comments yet.