Airin Anan Dita • Oct 19 2026 • 33 Dilihat

Ma’rifatullah, yaitu mengenal Allah SWT dengan sebenar-benarnya pengenalan, merupakan pondasi utama keimanan seorang muslim. Islam mengajarkan bahwa jalan untuk mencapai ma’rifatullah dapat ditempuh melalui dua jenis ayat: ayat qauliyah, yakni firman Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an, dan ayat kauniyah, yakni tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terhampar di alam semesta, termasuk pada diri manusia itu sendiri. Uniknya, Al-Qur’an sebagai ayat qauliyah justru banyak memuat penjelasan tentang ayat kauniyah, salah satunya adalah proses penciptaan manusia dalam rahim. Fenomena inilah yang kemudian dikenal dalam kajian keislaman sebagai i’jaz ‘ilmi, yaitu kemukjizatan Al-Qur’an dari sisi keselarasannya dengan temuan ilmu pengetahuan modern, jauh sebelum teknologi manusia mampu mengamatinya.
Topik ini menjadi sangat relevan, khususnya bagi mahasiswa dan tenaga kesehatan di bidang kebidanan, karena embriologi bukan sekadar materi ilmiah yang dipelajari di bangku kuliah, melainkan juga medan langsung tempat mereka mengabdi setiap hari mendampingi ibu hamil dan janin dalam kandungannya. Esai ini bertujuan untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an tentang tahapan perkembangan embrio manusia, menelaah keselarasannya dengan penjelasan ilmiah modern serta pendapat para ulama, dan merumuskan keterkaitannya dengan penguatan nilai spiritual dalam pelayanan kebidanan sehari-hari.
Secara etimologis, i’jaz ‘ilmi tersusun dari kata i’jaz (kemukjizatan) dan ‘ilmi (ilmiah), yang secara istilah diartikan sebagai pemberitaan Al-Qur’an tentang fakta-fakta alam yang baru dapat dibuktikan kebenarannya oleh sains modern berabad-abad kemudian. Salah satu contoh paling menonjol dari i’jaz ‘ilmi adalah uraian Al-Qur’an mengenai tahapan penciptaan manusia dalam rahim, sebagaimana disebutkan secara rinci dalam surah Al-Mu’minun ayat 12 sampai 14.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ ﴿١٢﴾ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ ﴿١٣﴾ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ ﴿١٤
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan ‘alaqah, lalu ‘alaqah itu Kami jadikan mudgah, dan mudgah itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 12–14)
Ayat di atas menguraikan rangkaian tahapan yang sangat sistematis: nutfah (setetes air mani), ‘alaqah (sesuatu yang menggantung/segumpal darah), mudgah (segumpal daging), pembentukan ‘izam (tulang belulang) yang kemudian dibungkus lahm (daging/otot), hingga akhirnya terbentuk khalqan akhar, yaitu makhluk baru yang berbeda bentuknya. Keterangan ini diperkuat oleh hadis riwayat Abdullah bin Mas’ud RA yang menjelaskan durasi tiap fase, “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘alaqah selama itu pula, kemudian menjadi mudgah selama itu pula. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya…” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menjadi penjelas (bayan) yang mempertegas bahwa proses tersebut berlangsung bertahap dan terukur, bukan seketika.
Ayat lain yang relevan adalah surah Az-Zumar ayat 6, yang menjelaskan dimensi lingkungan tempat janin berkembang.
يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِّن بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ
Artinya: “Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.” (QS. Az-Zumar [39]: 6)
Para mufasir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tiga kegelapan yang dimaksud adalah kegelapan dinding perut, kegelapan dinding rahim, dan kegelapan selaput (plasenta/korion) yang menyelimuti janin, sebuah gambaran yang secara struktural sangat sesuai dengan lapisan anatomis yang melindungi janin selama masa kehamilan.
Ditinjau dari sudut pandang ilmu kedokteran modern, uraian Al-Qur’an tersebut memiliki kesesuaian yang mengagumkan dengan tahapan embriogenesis yang dipetakan oleh embriologi kontemporer. Nutfah dipahami sepadan dengan fase zigot dan pembelahan sel awal pascapembuahan (fertilisasi) hingga implantasi pada dinding rahim. Fase ‘alaqah, yang secara bahasa berarti ‘sesuatu yang menempel atau menggantung’ sekaligus ‘segumpal darah’, sejalan dengan gambaran embrio pada minggu ke-2 hingga ke-3 yang menempel erat pada endometrium dan tampak seperti gumpalan darah akibat proses vaskularisasi awal. Fase mudgah, yang berarti ‘sesuatu yang dikunyah’, berkesesuaian dengan tampilan embrio pada minggu ke-4 hingga ke-6 yang memiliki somit (bakal ruas tubuh) menyerupai bekas gigitan atau kunyahan. Tahap pembentukan tulang yang kemudian dibungkus otot juga sejalan dengan proses osifikasi (pengerasan tulang rawan) yang secara embriologis memang didahului pembentukan kerangka kartilago sebelum jaringan otot menyelubunginya. Kesesuaian tahapan inilah yang menjadi salah satu argumen ilmuwan embriologi Keith L. Moore ketika diminta menelaah ayat-ayat penciptaan manusia dalam Al-Qur’an; ia menyatakan bahwa deskripsi Al-Qur’an tentang tahapan perkembangan embrio konsisten dengan pengetahuan embriologi modern, sesuatu yang mustahil diketahui secara rinci oleh manusia pada abad ke-7 Masehi tanpa alat bantu optik semacam mikroskop.
Meskipun demikian, kajian i’jaz ‘ilmi perlu didudukkan secara proporsional dan metodologis. Sejumlah ulama, di antaranya Syekh Yusuf Al-Qaradawi, mengingatkan agar pendekatan i’jaz ‘ilmi tidak dijadikan alat untuk memaksakan penafsiran ayat sesuai teori ilmiah yang sewaktu-waktu masih dapat berubah, sebab kebenaran Al-Qur’an bersifat mutlak sedangkan teori ilmiah bersifat dinamis dan terbuka terhadap revisi. Oleh karena itu, kesesuaian antara ayat embriologi dan temuan sains modern sebaiknya dipahami sebagai bentuk penguat keimanan (tafsir ‘ilmi yang bersifat isyari), bukan sebagai pembenaran mutlak yang menempatkan sains di atas otoritas wahyu.
Kajian ayat-ayat embriologi ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan pelayanan kebidanan. Pertama, pemahaman terhadap tahapan nutfah, ‘alaqah, dan mudgah menumbuhkan penghayatan bahwa kehidupan manusia telah bernilai dan patut dilindungi sejak fase paling awal kehamilan, sehingga menguatkan komitmen etik seorang bidan dalam menjaga keselamatan ibu dan janin sekecil apa pun usia kehamilannya. Kedua, periode organogenesis kritis yang secara embriologis terjadi pada trimester pertama—yang beririsan dengan fase ‘alaqah dan mudgah dalam Al-Qur’an—selaras dengan kaidah asuhan antenatal modern yang menekankan pentingnya deteksi dini kehamilan, pemberian asam folat, serta penghindaran zat teratogenik pada masa-masa awal tersebut. Ketiga, penghayatan bahwa proses penciptaan manusia berlangsung atas kehendak dan kekuasaan Allah mendorong seorang bidan untuk senantiasa bersikap tawadhu, penuh kehati-hatian (ihtiyath), dan menjadikan setiap asuhan kebidanan sebagai bagian dari ibadah, bukan semata rutinitas profesi. Dengan demikian, ayat qauliyah tentang embriologi tidak hanya memperkokoh keimanan tenaga kesehatan, tetapi juga memberi landasan spiritual bagi profesionalisme dan kasih sayang dalam memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi.
Kajian terhadap ayat-ayat qauliyah tentang embriologi dalam surah Al-Mu’minun ayat 12–14 dan surah Az-Zumar ayat 6, yang diperkuat oleh hadis Nabi SAW, menunjukkan keselarasan yang menakjubkan antara firman Allah dan temuan embriologi modern mengenai tahapan nutfah, ‘alaqah, mudgah, pembentukan tulang, dan penyempurnaan wujud manusia. Kesesuaian ini merupakan salah satu bukti i’jaz ‘ilmi Al-Qur’an yang, jika dipahami secara proporsional bersama pendapat para ulama, dapat menjadi sarana memperkokoh ma’rifatullah sekaligus memberi landasan spiritual dan etik bagi tenaga kebidanan dalam memuliakan proses kehidupan manusia sejak dalam kandungan.
Departemen Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan terjemahnya. Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Qur’an Kementerian Agama RI.
Al-Qaradawi, Y. (1999). Al-‘Aql wa al-‘ilm fi al-Qur’an al-karim. Kairo: Maktabah Wahbah.
Ibnu Katsir, I. (2000). Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim (terj.). Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
Moore, K. L., Persaud, T. V. N., & Torchia, M. G. (2019). The developing human: Clinically oriented embryology (11th ed.). Philadelphia: Elsevier.
An-Nawawi, Y. (1392 H). Syarh Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi.
Muslim, I. (t.t.). Shahih Muslim, Kitab al-Qadar, hadis nomor 4781. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi.
Kontributor: Airin Anan Dita
Editor: Ahmad Ali, M.Pd.
PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...
Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...
1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...
PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...
PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...
Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

I. Pendahuluan Kalau ahli gizi bilang tubuh kita butuh makanan seimbang, lalu “makanan” apa yang dibutuhkan akhlak kita? Jawabannya ada di j...

1. PENDAHULUAN Korupsi yang menyebabkan kerugian keuangan negara merupakan persoalan serius di Indonesia karena efeknya langsung menurunkan kapa...

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketuhanan dan keimanan merupakan konsep fundamental dalam ajaran Islam yang menjadi dasar bagi seluruh aspek k...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan masalah struktural yang terjadi hampir di seluruh sektor di Indonesia, merusak fondasi ekonomi, sosial dan tata...

Membangun Karakter Islam yang Nyata di Tengah Generasi Serba Pamer 1. PENDAHULUAN Coba scroll feed Instagram atau TikTok kamu sekarang. Dalam hi...

No comments yet.