Sahanni Arthayita Sihotang • Oct 21 2026 • 31 Dilihat

Penyakit jantung tahap akhir dapat menimbulkan berbagai masalah seperti sesak napas, kelelahan, keterbatasan aktivitas, kecemasan, dan penurunan kualitas hidup. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga psikologis, sosial, dan spiritual pasien. Ketakutan terhadap perkembangan penyakit dan kematian juga dapat dirasakan oleh pasien maupun keluarga. Oleh karena itu, pelayanan keperawatan perlu memperhatikan kenyamanan, kualitas hidup, kebutuhan emosional dan spiritual, serta martabat pasien secara menyeluruh. Salah satu pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut adalah pelayanan paliatif. Pelayanan paliatif merupakan pendekatan yang bertujuan untuk mencegah dan mengurangi penderitaan serta meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi penyakit serius. Pada penyakit kardiovaskular lanjut, pelayanan paliatif dapat diberikan bersamaan dengan terapi penyakit dan tidak hanya diberikan ketika pasien mendekati kematian. Pelayanan ini mencakup pengendalian gejala, komunikasi yang efektif, pengambilan keputusan bersama, perencanaan perawatan, serta dukungan terhadap kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritual pasien (Graven et al., 2025).
Perawat memiliki peranan penting dalam pelayanan paliatif karena perawat berinteraksi dengan pasien secara berkelanjutan dan dapat mengenali perubahan kondisi serta kebutuhan pasien. Nunciaroni et al. (2023) menjelaskan bahwa praktik perawat dalam pelayanan paliatif pada pasien gagal jantung meliputi pengelolaan gejala, peningkatan kenyamanan dan kesejahteraan, pelayanan yang menyeluruh, keterlibatan keluarga, komunikasi yang efektif, serta pengenalan kebutuhan pasien terhadap pelayanan paliatif. Hal tersebut menunjukkan bahwa perawat tidak hanya berperan dalam melakukan tindakan klinis, tetapi juga membantu pasien dan keluarga menghadapi penderitaan secara menyeluruh. Dalam perspektif Kristen, pelayanan kepada orang sakit merupakan salah satu bentuk nyata kasih kepada sesama. Yesus berkata dalam Matius 25:36, “ketika Aku sakit, kamu melawat Aku.” Ajaran tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap orang sakit memiliki nilai penting dalam kehidupan iman Kristen. Kasih juga menjadi perintah Yesus dalam Yohanes 13:34 agar manusia saling mengasihi sebagaimana Kristus telah mengasihi. Oleh karena itu, bagi perawat Kristen, pelayanan kepada pasien dapat menjadi sarana untuk mewujudkan kasih Kristus melalui profesinya.
Esai ini bertujuan untuk membahas penerapan kasih Kristus dalam pelayanan keperawatan paliatif bagi pasien jantung tahap akhir berdasarkan prinsip iman Kristen dan ilmu keperawatan. Pembahasan akan menguraikan pentingnya pelayanan paliatif, hubungan kasih Kristus dengan perilaku caring, serta penerapannya melalui pelayanan yang holistik, komunikasi terapeutik, dukungan spiritual, keterlibatan keluarga, dan penghormatan terhadap martabat pasien.
Pasien jantung tahap akhir memiliki kebutuhan kompleks karena dapat mengalami penderitaan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Gejala seperti sesak napas dan kelelahan dapat membatasi aktivitas, meningkatkan ketergantungan, serta menimbulkan kecemasan dan ketakutan terhadap kematian. Oleh karena itu, pelayanan keperawatan perlu memandang pasien secara holistik. Pelayanan paliatif penting karena tidak hanya bertujuan mempertahankan kehidupan, tetapi juga mengurangi penderitaan dan meningkatkan kualitas hidup. Graven et al. (2025) menjelaskan bahwa pelayanan paliatif mencakup pengelolaan gejala, komunikasi, pengambilan keputusan bersama, perencanaan perawatan, serta dukungan bagi pasien dan keluarga. Dengan demikian, pelayanan paliatif membantu memberikan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan, nilai, tujuan, dan kondisi pasien.
Penelitian Nunciaroni et al. (2023) menunjukkan bahwa perawat berperan penting dalam pelayanan paliatif pasien gagal jantung melalui pengelolaan gejala, peningkatan kenyamanan, komunikasi, keterlibatan keluarga, dan pelayanan menyeluruh. Karena sering berinteraksi langsung dengan pasien, perawat dapat mengenali perubahan kondisi dan kebutuhan yang tidak selalu terlihat secara klinis. Diop et al. (2017) juga menemukan bahwa intervensi paliatif dapat memberikan manfaat terhadap kualitas hidup dan kepuasan pasien serta membantu mengurangi kecemasan dan depresi. Namun, perbedaan desain dan kualitas penelitian perlu diperhatikan. Oleh karena itu, pelayanan paliatif perlu disesuaikan dengan kondisi setiap pasien dan tetap memperhatikan kebutuhan fisik, psikologis, sosial, serta spiritual berdasarkan bukti ilmiah. Kusnanto (2019) menjelaskan bahwa caring merupakan bagian penting dalam keperawatan profesional yang diwujudkan melalui perhatian, kepedulian, penghargaan, dan tanggung jawab terhadap pasien. Pada pasien jantung tahap akhir, caring dapat dilakukan dengan mendengarkan keluhan, membantu kebutuhan dasar, menjaga privasi, dan memberikan pelayanan dengan sabar. Bakar et al. (2017) juga menemukan adanya hubungan antara spiritualitas perawat dan perilaku caring. Namun, spiritualitas bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas pelayanan karena kompetensi, pendidikan, pengalaman, komunikasi, dan kondisi pasien juga berpengaruh. Oleh karena itu, kasih Kristus perlu diterapkan bersama ilmu keperawatan dan profesionalisme.
Teladan Yesus dalam menghadapi penderitaan dapat dilihat melalui kisah Lazarus dalam Yohanes 11:1–44. Ketika Marta dan Maria mengalami kesedihan karena kematian Lazarus, Yesus tidak mengabaikan kesedihan mereka. Yohanes 11:35 mencatat, “Maka menangislah Yesus.” Kisah tersebut menunjukkan bahwa kehadiran dan empati merupakan bagian penting ketika menghadapi seseorang yang sedang menderita. Dalam praktik keperawatan, hal tersebut dapat diterapkan melalui komunikasi terapeutik. Ketika pasien mengungkapkan rasa takut terhadap kematian, kecemasan terhadap penyakit, atau kekhawatiran terhadap keluarganya, perawat perlu memberikan kesempatan kepada pasien untuk berbicara dan mengungkapkan perasaannya. Kasih Kristus juga dapat diwujudkan melalui penghormatan terhadap martabat dan otonomi pasien. Pasien jantung tahap akhir mungkin bergantung pada perawat dan keluarga dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, mandi, dan berpindah posisi. Oleh karena itu, perawat perlu tetap melibatkan pasien dalam proses pelayanan dengan menjelaskan tindakan dan meminta persetujuan. Privasi pasien juga harus dijaga, terutama saat melakukan tindakan pada bagian tubuh yang bersifat pribadi. Hal tersebut merupakan bentuk kasih karena pasien tetap dihargai sebagai manusia yang memiliki martabat, bukan sekadar sebagai objek perawatan. Kasih Kristus dapat diterapkan melalui pemenuhan kebutuhan spiritual pasien. Bagi pasien Kristen yang menginginkannya, perawat dapat memfasilitasi doa, membaca Alkitab, mendengarkan lagu rohani, atau mendapatkan pendampingan rohaniwan. Namun, perawat tidak boleh memaksakan keyakinannya. Jika pasien memiliki keyakinan berbeda, perawat harus menghormatinya dan membantu memperoleh dukungan spiritual sesuai kebutuhan. Hal ini merupakan bentuk penghormatan terhadap martabat dan kebebasan pasien. Keluarga juga perlu diperhatikan karena dapat mengalami kecemasan, kesedihan, dan ketakutan kehilangan. Perawat dapat memberikan edukasi, menjawab pertanyaan keluarga, serta membantu memahami kondisi dan kebutuhan pasien. Keterlibatan keluarga dapat memberikan dukungan emosional bagi pasien dan membantu keluarga menghadapi perkembangan penyakit.
Penerapan kasih Kristus juga harus tetap berada dalam batas kompetensi dan kode etik profesi. Perawat tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan pasien seorang diri. Jika terdapat masalah yang berada di luar kewenangan perawat, diperlukan kolaborasi dengan dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Riley (2015) menjelaskan bahwa perawat memiliki peran penting dalam pengelolaan pasien gagal jantung sebagai bagian dari pelayanan profesional. Dengan demikian, kasih dan profesionalisme bukanlah dua hal yang bertentangan. Kasih dapat menjadi dasar yang mendorong perawat memberikan pelayanan dengan sungguh-sungguh sedangkan ilmu keperawatan dan standar profesional memastikan pelayanan tersebut dilakukan secara aman dan bertanggung jawab. Kasih harus diwujudkan melalui tindakan yang nyata seperti mendengarkan pasien, menghormati keputusan pasien, melibatkan keluarga, dan mempertahankan martabat pasien. Perawat Kristen dapat menunjukkan kasih Kristus melalui kualitas pelayanan yang diberikan tanpa mengabaikan prinsip etika, ilmu pengetahuan, standar profesi, dan hak pasien.
Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kasih Kristus dalam pelayanan keperawatan paliatif bagi pasien jantung tahap akhir dapat diwujudkan melalui pelayanan yang holistik, empati, caring, dan profesional. Pasien tidak hanya mengalami masalah fisik, tetapi juga dapat menghadapi kecemasan, ketakutan, kesedihan, dan pergumulan spiritual. Oleh karena itu, perawat berperan dalam memberikan kenyamanan, mengendalikan gejala, melakukan komunikasi terapeutik, memberikan dukungan emosional dan spiritual, melibatkan keluarga, serta menghormati martabat dan keputusan pasien. Teladan Yesus dalam mengasihi orang yang menderita menjadi dasar bagi perawat Kristen untuk melayani dengan tulus dan penuh kepedulian.
Penerapan kasih Kristus tidak hanya melalui perkataan, tetapi juga tindakan nyata. Perawat Kristen perlu mengintegrasikan kasih dengan ilmu keperawatan, kompetensi, kode etik, dan bukti ilmiah agar pelayanan tetap aman dan bertanggung jawab. Kasih juga diwujudkan dengan menghormati keyakinan, privasi, otonomi, dan hak pasien tanpa memaksakan agama. Dengan demikian, pelayanan keperawatan paliatif dapat menjadi sarana menghadirkan kasih Kristus sehingga pasien jantung tahap akhir dapat menjalani masa sakit dengan lebih nyaman, tenang, dan bermartabat.
Alkitab. (2015). Alkitab Terjemahan Baru (TB). Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.
Bakar, A., Nursalam, Adriani, M., Kusnanto, Qomariah, S. N., Hidayati, L., Pratiwi, I. N., & Ni’mah, L. (2017). Nurses’ spirituality improves caring behavior. International Journal of Evaluation and Research in Education, 6(1), 23–30.
Diop, M. S., Rudolph, J. L., Zimmerman, K. M., Richter, M. A., & Skarf, L. M. (2017). Palliative care interventions for patients with heart failure: A systematic review and meta-analysis. Journal of Palliative Medicine, 20(1), 84–92.
Graven, L. J., Kitko, L., Abshire Saylor, M., Allen, L., Durante, A., Evangelista, L. S., Fiedler, A., Kirkpatrick, J., Mixon, L., & Wells, R. (2025). Palliative care and advanced cardiovascular disease in adults: Not just end-of-life care: A scientific statement from the American Heart Association. Circulation, 151, e1030–e1042.
Kusnanto. (2019). Perilaku Caring Perawat Profesional. Surabaya: Pusat Penerbitan dan Percetakan Universitas Airlangga.
Nunciaroni, A. T., Neves, I. F., Marques, C. S. G., Santos, N. D., Corrêa, V. F. A., & Silva, R. F. A. (2023). Palliative care in heart failure: An integrative review of nurse practice. American Journal of Hospice & Palliative Medicine, 40(1), 96–105.
Riley, J. (2015). The key roles for the nurse in acute heart failure management. Cardiac Failure Review, 1(2), 123–127.
Kontributor: Sahanni Arthayita Sihotang
Editor: Dani Habibi, M.Ag.
PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...
Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...
1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...
PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...
PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...
Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

Pendahuluan Prinsip kebebasan beragama dan penghormatan terhadap otonomi individu merupakan pilar utama dalam menciptakan tatanan sosial yang...

1. PENDAHULUAN Indonesia adalah negara yang lahir dari pertemuan berbagai suku, budaya, dan agama. Sejak awal berdirinya, para pendiri bangsa su...

I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yang tinggi. Bidan berhadapan langsung dengan s...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan masalah struktural yang terjadi hampir di seluruh sektor di Indonesia, merusak fondasi ekonomi, sosial dan tata...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan serius yang dihadapi oleh banyak negara di dunia, baik negara berkembang maupun negara ...

No comments yet.