Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Ibarat Satu Tubuh dalam Sabda Nabi Sebagai Cermin Kerja Sama Antarprofesi Kesehatan

    • Oct 28 2026 • 15 Dilihat

    I. Pendahuluan

    Setiap kali seseorang mengalami sakit gigi, seluruh badan ikut merasa tidak nyaman. Tidur jadi susah, makan jadi tidak nikmat, bahkan untuk berpikir jernih pun terasa berat, padahal yang bermasalah hanya satu bagian kecil dari tubuh. Gambaran sederhana inilah yang justru dipakai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjelaskan bagaimana seharusnya hubungan antarsesama orang beriman: saling terhubung, saling merasakan, dan saling menopang seperti satu tubuh yang utuh. Perumpamaan ini terasa sangat dekat dengan dunia kerja para tenaga kesehatan masa kini, sebab pelayanan kepada pasien tidak pernah bisa diselesaikan oleh satu profesi saja.

    Dalam praktik pelayanan kesehatan sehari-hari, seorang pasien yang dirawat di rumah sakit biasanya berhubungan dengan banyak pihak sekaligus: dokter yang menegakkan diagnosis, perawat yang mendampingi selama masa perawatan, ahli gizi yang mengatur pola makan sesuai kondisi tubuhnya, apoteker yang memastikan obat diberikan dengan tepat, hingga tenaga rekam medis yang menjaga data kesehatannya tetap rapi. Ketika salah satu dari mereka bekerja sendiri-sendiri tanpa berkoordinasi, risiko kesalahan menjadi lebih besar dan pemulihan pasien bisa terhambat. Sebaliknya, ketika semua profesi ini bergerak bersama seperti anggota tubuh yang saling menopang, hasil perawatan pasien cenderung menjadi lebih baik.

    Esai ini ditulis untuk menelaah bagaimana hadis tentang perumpamaan satu tubuh, yang dilengkapi dengan prinsip tolong-menolong dalam Al-Qur’an, dapat menjadi landasan nilai bagi kerja sama antarprofesi kesehatan (interprofessional collaboration). Melalui pembahasan ini, penulis ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan bukan sekadar pelengkap normatif, melainkan dapat menjadi fondasi berpikir yang relevan dan aplikatif bagi siapa saja yang kelak akan bekerja dalam tim pelayanan kesehatan.

    II. Pembahasan

    Hadis tentang perumpamaan tubuh yang satu diriwayatkan dari sahabat Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sebagai berikut.

    مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

    Artinya: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan berlemah lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari No. 6011 dan Muslim No. 2586).

    Hadis ini tidak sedang berbicara tentang anatomi tubuh manusia, tetapi tentang cara pandang terhadap sesama. Sebuah tubuh hanya bisa berfungsi dengan baik apabila setiap anggotanya bekerja sesuai perannya masing-masing, sekaligus tetap peka terhadap kondisi anggota tubuh yang lain. Mata tidak bisa menggantikan tugas tangan, tangan tidak bisa menggantikan tugas kaki, namun ketiganya tetap satu kesatuan yang saling merasakan. Prinsip inilah yang oleh para ulama sering dijelaskan sebagai ukhuwah, yakni ikatan persaudaraan yang melahirkan kepedulian nyata, bukan sekadar rasa simpati di dalam hati. Sikap peduli semacam ini, jika dipindahkan ke ruang kerja tenaga kesehatan, berarti setiap profesi harus menyadari bahwa keberhasilan seorang pasien bukan prestasi satu pihak saja, melainkan hasil kerja bersama.

    Nilai kepedulian dan tolong-menolong ini juga ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Ma’idah ayat 2.

    وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

    Artinya: “…dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2).

    Ayat ini memberi batasan yang jelas: kerja sama yang dianjurkan adalah kerja sama yang mengarah pada kebaikan. Dalam tafsirnya, Quraish Shihab (2002) menjelaskan bahwa perintah tolong-menolong pada ayat ini bersifat luas dan tidak dibatasi pada golongan tertentu, selama tujuannya adalah kebajikan bersama. Prinsip ini relevan dengan dunia kesehatan, sebab tujuan akhir dari setiap profesi yang terlibat, entah itu dokter, perawat, ahli gizi, apoteker, maupun tenaga penunjang lainnya, sesungguhnya sama, yaitu kesembuhan dan kesejahteraan pasien. Ketika tujuan itu disepakati bersama, perbedaan latar belakang keilmuan seharusnya tidak lagi menjadi penghalang, melainkan menjadi kekuatan karena setiap profesi menyumbangkan keahlian yang berbeda untuk satu tujuan yang sama.

    Gagasan tentang kerja sama lintas profesi ini sebenarnya juga menjadi perhatian dunia kesehatan modern, jauh sebelum istilah tersebut dikenal luas di Indonesia. World Health Organization (2010) melalui Framework for Action on Interprofessional Education and Collaborative Practice menekankan bahwa pelayanan kesehatan yang bermutu hanya dapat tercapai apabila tenaga kesehatan dari berbagai profesi dilatih untuk belajar bersama dan bekerja secara kolaboratif, bukan bekerja terpisah-pisah dalam kotaknya masing-masing. Temuan tinjauan sistematis yang dilakukan Reeves, Pelone, Harrison, Goldman, dan Zwarenstein (2017) turut memperkuat hal ini dengan menunjukkan bahwa intervensi yang memperbaiki kolaborasi interprofesi cenderung memberi dampak positif terhadap proses klinis dan hasil kesehatan pasien, meskipun kualitas buktinya masih perlu terus diperkuat melalui penelitian lanjutan. Artinya, apa yang sudah lama diajarkan lewat perumpamaan satu tubuh dalam hadis, kini juga mendapat dukungan dari kajian ilmiah di bidang kesehatan.

    Contoh konkretnya dapat dilihat pada pelayanan pasien diabetes melitus tipe 2. Bakhtiar, Duma, dan Aminudin (2020) mencatat bahwa penanganan pasien diabetes akan jauh lebih optimal apabila dokter, perawat, ahli gizi, dan apoteker berkolaborasi secara terintegrasi, misalnya dalam menyusun rencana terapi gizi medis yang selaras dengan terapi obat dan pemantauan klinis. Ahli gizi berperan menghitung kebutuhan energi dan menyusun pola makan yang sesuai kondisi gula darah pasien, dokter menentukan target terapi dan memantau perkembangan penyakit, perawat memastikan edukasi harian tersampaikan dan dijalankan pasien, sementara apoteker mengawal ketepatan dosis serta interaksi obat. Jika salah satu peran ini berjalan sendiri tanpa komunikasi dengan yang lain, misalnya ahli gizi menyusun menu tanpa mengetahui perubahan dosis obat terbaru, maka hasil yang diharapkan bisa saja tidak tercapai, bahkan berisiko membahayakan pasien. Situasi ini persis seperti gambaran dalam hadis: ketika satu anggota tubuh bermasalah, anggota yang lain semestinya ikut merasakan dan segera merespons, bukan bersikap acuh seolah tidak ada hubungannya.

    Dari sisi praktik profesi, nilai ini bisa diwujudkan dalam hal-hal yang sederhana namun berdampak besar. Seorang ahli gizi, misalnya, perlu terbiasa membaca catatan medis pasien secara utuh, berdiskusi dengan dokter maupun perawat sebelum menetapkan rencana diet, serta tidak segan menyampaikan masukan apabila menemukan hal yang berpotensi memengaruhi status gizi pasien. Sikap rendah hati untuk saling mendengarkan antarprofesi, menghormati keahlian masing-masing pihak, dan tidak merasa profesinya paling menentukan, sesungguhnya adalah bentuk nyata dari ukhuwah yang diajarkan Nabi. Dengan kata lain, kolaborasi interprofesi bukan hanya persoalan teknis manajemen rumah sakit, tetapi juga persoalan akhlak, yaitu bagaimana seseorang memperlakukan rekan kerja dan pasien dengan penuh kepedulian, sebagaimana ia peduli terhadap tubuhnya sendiri.

    III. Penutup

    Perumpamaan satu tubuh yang disampaikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ternyata memuat pesan yang jauh melampaui zamannya, dan tetap relevan untuk menggambarkan bagaimana seharusnya tenaga kesehatan bekerja hari ini. Ayat tentang tolong-menolong dalam kebajikan memperkuat pesan tersebut dengan menegaskan bahwa kerja sama harus diarahkan pada tujuan yang baik, yaitu kesembuhan dan kesejahteraan pasien. Kajian-kajian kesehatan modern, mulai dari kerangka kerja WHO hingga tinjauan sistematis tentang kolaborasi interprofesi, pada dasarnya memperkuat nilai yang sama, meskipun disampaikan dengan bahasa dan pendekatan yang berbeda. Oleh karena itu, calon maupun tenaga kesehatan, termasuk di bidang gizi, sebaiknya menanamkan dalam dirinya bahwa keberhasilan pelayanan tidak pernah menjadi milik satu profesi, melainkan hasil dari kepedulian bersama layaknya satu tubuh yang utuh. Ke depan, penguatan budaya komunikasi lintas profesi sejak masa pendidikan perlu terus didorong, agar nilai persaudaraan dan tolong-menolong ini benar-benar terwujud dalam praktik pelayanan kesehatan sehari-hari, bukan sekadar menjadi slogan di atas kertas.

    Daftar Pustaka

    Bakhtiar, R., Duma, K., & Aminudin. (2020). Pelaksanaan kolaborasi interprofesional pada pelayanan diabetes melitus tipe 2 di sarana pelayanan kesehatan. Jurnal Kesehatan Husada Mahakam, 10(2), 41–53.

    Al-Bukhari, M. bin I. (t.t.). Shahih al-Bukhari (Kitab al-Adab, Hadis No. 6011).

    Kementerian Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

    Muslim bin al-Hajjaj. (t.t.). Shahih Muslim (Kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab, Hadis No. 2586).

    Reeves, S., Pelone, F., Harrison, R., Goldman, J., & Zwarenstein, M. (2017). Interprofessional collaboration to improve professional practice and healthcare outcomes. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2017(6), CD000072. https://doi.org/10.1002/14651858.CD000072.pub3

    Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.

    World Health Organization. (2010). Framework for action on interprofessional education and collaborative practice. Geneva: World Health Organization.

    Kontributor: Alisya Salsabilla

    Editor: M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Maqashid Syariah sebagai Akar Filosofis ...

    by Keyla Calli Genia • Nov 02 2026

    PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...

    Narrative Medicine dan Integritas Seni d...

    by Ayla Azzura • Nov 02 2026

    Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...

    Transformasi Digital Pelayanan Gizi dala...

    by Fathahila Nailhan • Nov 02 2026

    1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...

    Konsep Ulul Albab sebagai Profil Ideal P...

    by Moses Beladio Sihombing • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...

    Tiga Tingkatan Nafsu dalam Perspektif Ib...

    by Aliya Rahadatul Aisyi • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...

    Politik Sebagai Sarana Mewujudkan Kemasl...

    by Tata Rina Sigita • Oct 31 2026

    Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Transparansi dan Akuntabilitas Sebagai Pilar Ke...

    PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Esai ini mengkaji peran ...

    09 Apr 2026

    Hadist Lima Perkara Sebelum Lima Perkara Sebaga...

    Pendahuluan Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam membangun peradaban manusia. Melalui pendidikan, manusia tidak hany...

    Budaya Integritas Kolektif sebagai Perluasan Ke...

    I. Pendahuluan Institusi gizi baik dalam bentuk unit gizi rumah sakit, puskesmas, layanan katering kesehatan, maupun program gizi masyarakat mer...

    Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan Kampus Berinte...

    1. PENDAHULUAN Latar Belakang Integritas akademik merupakan salah satu pilar utama dalam sistem pendidikan tinggi yang berkualitas. Nilai-nilai ...

    Indeks Persepsi Korupsi Indonesia: Masih Jauh d...

    1. PENDAHULUAN Indeks Persepsi Korupsi (IPK) atau Corruption Perceptions Index (CPI) merupakan indikator global yang mengukur tingkat persepsi k...

    18 Apr 2026
    back to top