Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Integrasi Iman, Ilmu, dan Amal dalam Perumpamaan Pohon yang Baik: Refleksi Bagi Profesionalisme Ahli Gizi

    • Oct 28 2026 • 20 Dilihat

    PENDAHULUAN

    Pembangunan kesehatan nasional yang berkelanjutan sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia kesehatan yang profesional, berintegritas, dan berlandaskan nilai-nilai etika yang kokoh. Dalam konteks pelayanan kesehatan modern, profesi ahli gizi (nutrisionis dan dietisien) memegang peranan yang sangat krusial dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat, pencegahan penyakit, serta pemulihan kondisi klinis pasien. Namun demikian, dinamika kompleks dalam dunia medis, komersialisasi industri pangan, serta godaan materialisme kerap kali menguji komitmen etis para tenaga kesehatan. Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan sebuah fondasi filosofis dan spiritual yang mapan, yakni kerangka integrasi antara iman, ilmu, dan amal.

    Dalam pandangan Islam, hubungan antara iman, ilmu, dan amal tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketiganya membentuk satu kesatuan yang utuh, di mana iman bertindak sebagai akar penopang, ilmu sebagai batang dan dahan yang menopang, serta amal sebagai buah manis yang memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia. Metafora indah mengenai keutuhan ini secara eksplisit diabadikan dalam Al-Qur’an melalui perumpamaan “pohon yang baik” (syajarah thayyibah). Perumpamaan ini tidak hanya mengandung kedalaman teologis, tetapi juga menawarkan paradigma transformatif bagi pembentukan karakter profesionalisme kesehatan.

    Pentingnya topik ini didasari oleh realitas bahwa keahlian teknis-saintifik (hard skills) yang dimiliki seorang ahli gizi tidak akan memberikan dampak optimal-bahkan dapat berpotensi disalahgunakan tanpa diimbangi oleh kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral (soft skills). Oleh karena itu, tulisan ilmiah ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam konsep integrasi iman, ilmu, dan amal berdasarkan alegori pohon yang baik, serta merumuskan implikasi aplikatifnya terhadap peningkatan profesionalisme dan standar etik pelayanan ahli gizi dalam menjawab tantangan kesehatan masyarakat masa kini.

    PEMBAHASAN

    Landasan filosofis integrasi iman, ilmu, dan amal termaktub secara agung dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 24-25. Allah SWT berfirman:

    ุฃูŽู„ูŽู…ู’ ุชูŽุฑูŽ ูƒูŽูŠู’ููŽ ุถูŽุฑูŽุจูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽุซูŽู„ู‹ุง ูƒูŽู„ูู…ูŽุฉู‹ ุทูŽูŠูู‘ุจูŽุฉู‹ ูƒูŽุดูŽุฌูŽุฑูŽุฉู ุทูŽูŠูู‘ุจูŽุฉู ุฃูŽุตู’ู„ูู‡ูŽุง ุซูŽุงุจูุชูŒ ูˆูŽููŽุฑู’ุนูู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงุกู (ูขูค) ุชูุคู’ุชููŠ ุฃููƒูู„ูŽู‡ูŽุง ูƒูู„ูŽู‘ ุญููŠู†ู ุจูุฅูุฐู’ู†ู ุฑูŽุจูู‘ู‡ูŽุง ูˆูŽูŠูŽุถู’ุฑูุจู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุซูŽุงู„ูŽ ู„ูู„ู†ูŽู‘ุงุณู ู„ูŽุนูŽู„ูŽู‘ู‡ูู…ู’ ูŠูŽุชูŽุฐูŽูƒูŽู‘ุฑููˆู†ูŽ (ูขูฅ)

    Artinya: “Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Ibrahim: 24-25).

    Para ulama tafsir ternama, seperti Ibnu Katsir (2000), menjelaskan bahwa kalimah thayyibah dalam ayat ini merepresentasikan akumulasi keimanan yang menancap kuat di dalam hati seorang mukmin. Akar yang teguh (ashluhaa thaabit) menyimbolkan tauhid dan keimanan yang tidak tergoyahkan oleh prasangka maupun godaan duniawi. Cabang yang menjulang ke langit (far’uhaa fis-samaa’) menggambarkan ilmu pengetahuan yang terus berkembang, membumbung tinggi, dan terhubung dengan hidayah ilahiah. Sementara itu, buah yang dihasilkan sepanjang waktu (tu’tii ukulahaa kulla hiin) merepresentasikan amal saleh, karya nyata, serta kontribusi bermanfaat yang tiada putus bagi sesama manusia.

    Kedudukan penting keutamaan ilmu dan amal yang dilandasi iman ini senada dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11, yang menegaskan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat. Sejalan dengan manifestasi kebaikan yang terus mengalir, Rasulullah SAW juga bersabda dalam sebuah hadis riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Umar r.a.:

    ุฅูู†ูŽู‘ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ุฌูŽุฑู ุดูŽุฌูŽุฑูŽุฉู‹ ู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ู‚ูุทู ูˆูŽุฑูŽู‚ูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ู‡ูŽุง ู…ูŽุซูŽู„ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ูุŒ ููŽุญูŽุฏูู‘ุซููˆู†ููŠ ู…ูŽุง ู‡ููŠูŽุŸ ู‡ููŠูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุฎู’ู„ูŽุฉู

    Artinya: “Sesungguhnya di antara jenis pohon ada satu pohon yang tidak gugur daunnya, dan pohon itu adalah perumpamaan bagi seorang muslim. Beritahukanlah kepadaku, pohon apakah itu? Dialah pohon kurma.” (HR. Bukhari no. 61 dan Muslim no. 2811).

    Profesor Al-Attas (1995) dalam pemikirannya mengenai islamisasi ilmu menegaskan bahwa ilmu tanpa iman akan kehilangan arah etis dan cenderung menjadi instrumen eksploitasi, sedangkan iman tanpa ilmu akan lumpuh dalam merealisasikan kemaslahatan di muka bumi. Dalam konteks gizi dan kesehatan, Al-Qur’an secara eksplisit memerintahkan manusia untuk mengonsumsi makanan yang halalan thayyiban (halal dan baik/bergizi), sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 168. Pemenuhan aspek thayyib (kualitas gizi, keamanan pangan, dan kecukupan nutrisi) mengandalkan penguasaan ilmu gizi, sedangkan penentuan aspek halal dan keberkahan bersumber dari keimanan.

    Apabila konsep syajarah thayyibah diimplementasikan dalam profesionalisme ahli gizi, maka ketiga elemen terintegrasi tersebut mewujud dalam dimensi profesional yang sangat terstruktur. Pertama, Iman sebagai Akar Integritas Profesi. Bagi seorang ahli gizi, iman yang kokoh melahirkan integritas moral, kejujuran akademik, dan niat ibadah dalam menjalankan profesi. Ahli gizi yang beriman memahami bahwa pelayanan gizi yang diberikannya bukan sekadar rutinitas pekerjaan komersial, melainkan bagian dari amanah ilahiah untuk menjaga kualitas hidup manusia (hifzh an-nafs). Kesadaran ini mencegah praktisi gizi dari tindakan malpraktik, konflik kepentingan dengan produsen suplemen atau industri pangan yang tidak sehat, serta manipulasi data klinis atau riset gizi.

    Kedua, Ilmu sebagai Batang dan Dahan Kompetensi Akademik. Batang yang kokoh dan dahan yang merimbun menggambarkan penguasaan ilmu gizi berbasis bukti ilmiah (evidence-based nutrition) yang senantiasa diperbarui. Ahli gizi profesional dituntut untuk terus mengasah keilmuannya dalam biokimia gizi, dietetika klinis, gizi masyarakat, hingga konseling nutrisi. Sebagaimana cabang pohon yang terus bertumbuh menjangkau udara segar, ilmu pengetahuan ahli gizi harus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan inovasi kesehatan terkini tanpa melupakan prinsip-prinsip dasar kebenaran ilmiah dan etika profesi (Almatsier, 2011; Persagi, 2018).

    Ketiga, Amal sebagai Buah Pelayanan Profesional. Buah yang ranum dan bermanfaat merepresentasikan aplikasi klinis dan sosial dari kepakaran gizi. Amal seorang ahli gizi terwujud dalam preskripsi diet yang akurat bagi pasien rumah sakit, edukasi gizi yang komunikatif dan empatik kepada masyarakat luas, intervensi penanganan stunting pada balita, hingga penyusunan kebijakan gizi publik yang berkeadilan. Pelayanan gizi yang didasari rasa kasih sayang (rahmah) dan kepedulian sosial merupakan bentuk konkrit dari amal shaleh yang memberikan dampak nyata bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat (Gibney et al., 2009; Supariasa et al., 2016).

    Secara empiris, berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa integrasi nilai spiritual dan pemahaman agama berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan kepuasan pasien. Penelitian yang dilakukan oleh Utami dan Hidayat (2020) mengindikasikan bahwa tenaga kesehatan yang menginternalisasi nilai-nilai keagamaan memiliki tingkat kepatuhan etis dan empati yang lebih tinggi saat melakukan asuhan nutrisi pasien dibandingkan mereka yang hanya berfokus pada aspek teknis-prosedural. Selain itu, kajian dari Rahmadi et al. (2021) menekankan bahwa pendekatan konseling gizi berbasis spiritualitas mampu meningkatkan kepatuhan diet pasien penyakit kronis, seperti diabetes melitus dan hipertensi, secara signifikan karena menyentuh kesadaran internal pasien.

    Ketidakseimbangan antara ketiga komponen ini akan berakibat fatal pada profesionalisme. Ahli gizi yang memiliki ilmu tinggi namun hampa dari iman dan komitmen amal berisiko menjadi teknokrat yang dingin, berorientasi semata-mata pada profit, atau mudah tergiur oleh promosi produk makanan olahan berpotensi bahaya bagi kesehatan masyarakat. Sebaliknya, niat baik (iman) tanpa didukung oleh keilmuan gizi yang memadai dapat menyebabkan kesalahan diagnosis gizi maupun preskripsi diet yang membahayakan jiwa pasien. Oleh sebab itu, integrasi harmonis ketiganya sebagaimana pohon yang baik menjadi tuntutan mutlak yang tidak dapat ditawar.

    PENUTUP

    Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa perumpamaan pohon yang baik (syajarah thayyibah) dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 24-25 memberikan fondasi holistik bagi pengembangan profesionalisme ahli gizi. Integrasi antara iman sebagai akar moralitas, ilmu sebagai dahan kompetensi ilmiah, dan amal sebagai buah dedikasi pelayanan merupakan formulasi ideal dalam melahirkan tenaga gizi yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing tinggi.

    Sebagai saran dan rekomendasi, institusi pendidikan perguruan tinggi pengelola program studi gizi perlu menginternalisasikan kurikulum berbasis nilai spiritual dan etika Islam secara terpadu ke dalam mata kuliah gizi klinis maupun gizi masyarakat. Selain itu, bagi para praktisi dan organisasi profesi ahli gizi (seperti PERSAGI dan ASDI), disarankan untuk terus memfasilitasi pelatihan berkelanjutan yang tidak hanya mengasah ketrampilan teknis-saintifik, tetapi juga memperkuat karakter spiritual dan etika profesi, sehingga pelayanan gizi yang diberikan senantiasa memberikan kemaslahatan yang luas bagi masyarakat, bangsa, dan agama.

    DAFTAR PUSTAKA

    Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the metaphysics of Islam: An introduction to the theology and philosophy of Islam. International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).

    Almatsier, S. (2011). Prinsip dasar ilmu gizi. Gramedia Pustaka Utama.

    Gibney, M. J., Margetts, B. M., Kearney, J. M., & Arab, L. (2009). Public health nutrition. Wiley-Blackwell.

    Ibnu Katsir, I. U. (2000). Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (Jilid 4). Dar Thayyibah.

    Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI). (2018). Kode etik ahli gizi Indonesia dan standar profesi gizi. DPP PERSAGI.

    Rahmadi, A., Fitriani, A., & Kurniawan, B. (2021). Efektivitas konseling gizi berbasis nilai spiritual terhadap kepatuhan diet pasien diabetes melitus tipe 2. Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia, 9(2), 85-94.

    Supariasa, I. D. N., Bakri, B., & Fajar, I. (2016). Penilaian status gizi (Edisi 2). EGC.

    Utami, N. S., & Hidayat, R. (2020). Internalisasi etika Islam dan empati profesional dalam pelayanan asuhan gizi di rumah sakit. Jurnal Etika dan Hukum Kesehatan, 6(1), 45-53.

    Kontributor: Puti Haurana Heldo

    Editor:ย M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Maqashid Syariah sebagai Akar Filosofis ...

    by Keyla Calli Genia • Nov 02 2026

    PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...

    Narrative Medicine dan Integritas Seni d...

    by Ayla Azzura • Nov 02 2026

    Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...

    Transformasi Digital Pelayanan Gizi dala...

    by Fathahila Nailhan • Nov 02 2026

    1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...

    Konsep Ulul Albab sebagai Profil Ideal P...

    by Moses Beladio Sihombing • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...

    Tiga Tingkatan Nafsu dalam Perspektif Ib...

    by Aliya Rahadatul Aisyi • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...

    Politik Sebagai Sarana Mewujudkan Kemasl...

    by Tata Rina Sigita • Oct 31 2026

    Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Argumentasi Al-Qur’an tentang Ketuhanan d...

    I. Pendahuluan Al-Qurโ€™an merupakan pedoman hidup umat Islam yang memberikan tuntunan mengenai hubungan manusia dengan Allah SWT serta hubungan...

    04 Sep 2026

    Korupsi dalam Program Gizi: Stunting Akibat Dan...

    1. PENDAHULUAN Masalah stunting masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Berdasarkan Survei Status Giz...

    13 Apr 2026

    Mengemas Penyuluhan Anti Korupsi Agar Tidak Men...

    1. PENDAHULUAN Korupsi masih menjadi salah satu permasalahan serius yang dihadapi Indonesia hingga saat ini. Berbagai upaya telah dilakukan untu...

    Ma’rifatullah melalui Keajaiban Sistem Im...

    Pendahuluan Tubuh manusia merupakan salah satu ciptaan Allah SWT yang memiliki keteraturan dan kompleksitas luar biasa. Setiap organ dan sistem ...

    28 Oct 2026

    HIDUP BUKAN CUMA SOAL FEEDS

    Menemukan Makna Hidup di Era yang Serba Cepat 1. PENDAHULUAN Begitulah ritme hidup banyak anak muda hari ini. Di tengah notifikasi yang tak pern...

    back to top