Helen Juli Friska Br. Panjaitan • Oct 30 2026 • 15 Dilihat

Seperti yang kita ketahui bahwa Keperawatan pada dasarnya bukan sekadar profesi yang menuntut keterampilan teknis dan penguasaan ilmu biomedis, melainkan sebuah panggilan pelayanan yang berpusat pada caring, yaitu kepedulian yang tulus terhadap kebutuhan manusia sebagai pasien, baik secara fisik, emosional, maupun spiritual. Namun dalam realitas ruang rawat sehari-hari, tekanan beban kerja yang tinggi, rutinitas prosedural yang ketat, serta tuntutan efisiensi pelayanan kerap membuat esensi caring tergerus menjadi sekadar tindakan mekanis, sehingga pasien lebih banyak diperlakukan sebagai objek tindakan medis ketimbang subjek yang utuh dan bermartabat. Kondisi ini menuntut adanya kerangka nilai yang lebih dalam untuk mengembalikan makna sejati dari pelayanan keperawatan, dan di sinilah konsep kenosis Kristus sebagaimana tertulis dalam Injil Filipi 2:6-8 menjadi relevan, sebab ayat tersebut menggambarkan secara utuh bagaimana Kristus yang setara dengan Allah rela mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan merendahkan diri-Nya sampai taat kepada kematian demi keselamatan umat-umat nya.
Topik ini menjadi penting untuk dikaji karena kenosis bukan sekadar konsep teologis abstrak, melainkan model suatu tindakan pengosongan dan pengorbanan diri yang secara langsung berkorespondensi dengan tuntutan etik profesi keperawatan, yaitu kesediaan untuk melayani dengan iklash dan tanpa pamrih, merendahkan diri di hadapan penderitaan orang lain, dan mengutamakan kebutuhan pasien untuk kenyamanan diri. Dengan menempatkan kenosis Kristus sebagai kerangka teologis bagi praktik caring, keperawatan tidak lagi dipahami semata sebagai pekerjaan klinis, melainkan sebagai wujud nyata dari pelayanan kasih yang meneladani Kristus sendiri. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulisan esai ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana makna kenosis dalam Injil Filipi 2:6-8 dapat diterjemahkan menjadi kerangka teologis yang memperkaya dan memperdalam praktik caring dalam dunia keperawatan, sekaligus menelusuri implementasinya secara konkret dalam pelayanan kepada pasien di ruang rawat
Untuk memahami bagaimana kenosis Kristus dapat menjadi kerangka teologis bagi caring dalam keperawatan, pertama-tama perlu ditelusuri secara cermat apa yang sesungguhnya terjadi dalam Injil Filipi 2:6-8 (TB)â yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salibâ. Paulus menulis bahwa Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah (en morphÄ theou), tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, melainkan Ia mengosongkan diri-Nya sendiri (heauton ekenÅsen), mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Kata kerja ekenÅsen inilah yang menjadi jantung dari seluruh gagasan kenosis, sebuah tindakan aktif, disengaja, dan penuh kesadaran untuk melepaskan hak dan keistimewaan demi menyatu dengan yang dilayani. Ini bukan pengosongan yang pasif atau terpaksa, melainkan pilihan kasih yang lahir dari kehendak bebas. Lebih jauh, ayat 8 menambahkan dimensi ketaatan: Kristus taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Di sini tampak bahwa kenosis tidak berhenti pada momen inkarnasi, tetapi berlanjut sebagai jalan hidup yang konsisten, sebuah proses perendahan diri yang terus-menerus demi kepentingan orang lain.
Ketika pola gerak ini dibawa ke ranah keperawatan, kesejajarannya terasa begitu kuat. Seorang perawat yang menjalankan tugasnya di ruang rawat inap, ICU, atau IGD, pada dasarnya dihadapkan pada pilihan yang serupa setiap harinya: mempertahankan jarak profesional yang aman dan efisien, atau “mengosongkan diri” untuk benar-benar hadir bagi pasien yang menderita. Caring sejati dalam keperawatan menuntut perawat melepaskan sejenak statusnya sebagai tenaga medis yang berkuasa atas informasi dan tindakan, lalu menempatkan diri sejajar dengan pasien sebagai sesama manusia yang rentan. Ini terlihat nyata misalnya ketika seorang perawat memilih duduk sejenak di sisi tempat tidur pasien yang ketakutan menjelang operasi, memegang tangannya, mendengarkan kecemasannya tanpa terburu-buru mencatat tanda vital, padahal jadwal shift-nya padat dan masih ada belasan pasien lain yang harus ditangani. Tindakan sekecil itu adalah bentuk kenosis mini: pengosongan waktu, tenaga, dan fokus diri demi kehadiran penuh bagi orang lain.
Jika dikaitkan dengan teori caring dalam ilmu keperawatan, khususnya human caring theory dari Jean Watson, kesejajaran ini semakin jelas. Watson menekankan bahwa caring bukan sekadar tindakan teknis, melainkan transpersonal caring relationship, sebuah relasi yang menyentuh dimensi spiritual dan emosional pasien, bukan hanya fisiknya. Watson bahkan menyebut adanya “caritas”, istilah yang berakar dari kata Latin untuk kasih yang mengorbankan diri, sebagai inti dari sepuluh faktor karatif yang ia rumuskan. Di titik inilah teologi kenosis memberikan fondasi yang lebih dalam daripada sekadar teori psikologis atau humanistik. Bagi perawat Kristen, caring bukan hanya soal empati manusiawi belaka, melainkan partisipasi dalam pola hidup Kristus sendiri yang rela turun dari kemuliaan-Nya untuk melayani yang lemah. Dengan kata lain, kenosis memberi caring itu jangkar teologis: bukan sekadar strategi komunikasi terapeutik yang bisa dipelajari dari buku, tetapi panggilan rohani yang lahir dari peneladanan terhadap Kristus.
Implementasi konkret dari kerangka ini dapat dilihat dalam berbagai situasi pelayanan di rumah sakit. Ambil contoh perawat yang bertugas merawat pasien paliatif atau pasien dengan penyakit terminal. Dalam situasi seperti ini, tindakan medis sering kali sudah tidak lagi menjadi fokus utama, karena harapan kesembuhan telah tipis. Yang paling dibutuhkan pasien justru kehadiran, sentuhan, dan pendampingan yang tulus, sesuatu yang menuntut perawat mengosongkan diri dari orientasi hasil dan prestasi klinis, lalu sepenuhnya hadir dalam penderitaan pasien tanpa pamrih. Contoh lain adalah ketika perawat harus menangani pasien dengan penyakit menular atau kondisi yang secara sosial dijauhi, seperti pasien HIV/AIDS, kusta, atau pada masa pandemi Covid-19. Di sinilah kenosis menemukan bentuk yang paling nyata: perawat rela menanggalkan rasa aman dan nyaman pribadinya, mempertaruhkan risiko penularan, demi tetap hadir merawat mereka yang oleh masyarakat lain justru dijauhi dan distigmatisasi. Pola ini sangat mirip dengan Kristus yang rela “turun” mendekati orang-orang berdosa, kusta, dan yang dikucilkan, tanpa menjaga jarak demi mempertahankan kesucian status-Nya.
Namun demikian, penerapan kenosis dalam keperawatan bukan tanpa tantangan nyata. Rumah sakit sebagai institusi modern menuntut efisiensi, target waktu tindakan, rasio perawat-pasien yang sering kali tidak ideal, serta beban administratif yang berat. Dalam kondisi seperti ini, “mengosongkan diri” bagi pasien bisa terasa seperti kemewahan yang sulit dijangkau, bahkan berisiko menimbulkan burnout jika tidak diimbangi dengan pengisian ulang diri secara spiritual. Di sinilah pentingnya memahami bahwa kenosis Kristus dalam Injil Filipi 2 tidak berdiri sendiri, melainkan didahului oleh kesatuan dengan Bapa dan diakhiri dengan peninggian oleh Allah Injil filipi 2:9-11, (TB) âItulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!.âArtinya, pengosongan diri sejati bukanlah penghabisan diri tanpa batas, melainkan tindakan kasih yang tetap bersumber dari relasi yang mengisi kembali kekuatan batin. Bagi perawat, ini berarti caring yang meneladani Kristus perlu ditopang oleh kehidupan rohani yang sehat, doa, dan komunitas yang saling menguatkan, supaya pelayanan tidak berujung pada kelelahan yang merusak diri sendiri, melainkan tetap menjadi sumber sukacita dan makna.
Pada akhirnya, kerangka kenosis ini juga menantang cara pandang institusi kesehatan secara lebih luas. Jika rumah sakit dan sistem pendidikan keperawatan mau menimbang nilai-nilai kenosis Kristus, maka indikator keberhasilan pelayanan tidak boleh berhenti pada kecepatan tindakan atau kepuasan administratif semata, tetapi juga sejauh mana pasien merasa dihargai martabatnya sebagai manusia. Caring yang berakar pada kenosis mengingatkan bahwa di balik setiap alat medis dan protokol klinis, ada pertemuan dua pribadi, perawat dan pasien, yang dipanggil untuk saling memanusiakan, sebagaimana Allah sendiri memilih menjadi manusia untuk memanusiakan kembali mereka yang terluka oleh dosa dan penderitaan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kenosis Kristus sebagaimana termaktub dalam Injil Filipi 2:6-8 memberikan kerangka teologis yang mendalam bagi praktik caring dalam keperawatan, sebab tindakan Kristus mengosongkan diri, mengambil rupa hamba, dan taat sampai mati mencerminkan pola pengorbanan diri yang sejalan dengan tuntutan etis profesi keperawatan, yaitu kesediaan melepaskan kenyamanan pribadi demi hadir sepenuhnya bagi pasien yang menderita. Kesejajaran ini semakin diperkuat oleh human caring theory Jean Watson yang menempatkan caritas sebagai inti relasi caring transpersonal, sehingga kenosis memberi jangkar teologis yang menjadikan caring bukan sekadar keterampilan komunikasi terapeutik, melainkan partisipasi rohani dalam pola hidup Kristus sendiri. Meskipun demikian, penerapan kenosis dalam realitas pelayanan rumah sakit modern menghadapi tantangan nyata berupa tuntutan efisiensi, beban kerja tinggi, dan risiko burnout, yang menegaskan bahwa pengosongan diri sejati harus ditopang oleh kehidupan rohani yang sehat agar tidak berujung pada kelelahan yang merusak diri perawat sendiri.
Penulis merekomendasikan agar institusi pendidikan keperawatan mengintegrasikan nilai kenosis Kristus ke dalam kurikulum etika dan spiritualitas keperawatan, tidak hanya sebagai wacana teologis tetapi sebagai landasan pembentukan karakter pelayanan sejak masa pendidikan. Bagi pihak rumah sakit, khususnya yang berlandaskan nilai Kristiani, perlu disediakan ruang dan waktu bagi perawat untuk memperkuat kehidupan rohani melalui doa bersama, pembinaan spiritual, dan komunitas yang saling menguatkan, sehingga pelayanan yang meneladani kenosis tetap berkelanjutan dan tidak menguras habis diri perawat. Sementara itu, bagi setiap perawat secara pribadi, penghayatan kenosis Kristus hendaknya diwujudkan secara konsisten dalam kesediaan hadir penuh bagi pasien, sekecil apa pun bentuknya, sebagai wujud partisipasi nyata dalam kasih Kristus yang rela merendahkan diri demi memanusiakan mereka yang terluka oleh penderitaan.
Swanson, K. M. (2014). Caring in Nursing Practice. In J. Watson (Ed.), Human Caring Science: A Theory of Nursing (2nd ed.). Jones & Bartlett Learning.
Lembaga Alkitab Indonesia. (2005). Alkitab Terjemahan Baru. LAI. (Teks Filipi 2:6-8)
Putri, A. S., & Wijaya, H. (2024). Etika Kasih Agape sebagai Landasan Caring Perawat Kristen di Ruang Perawatan Intensif. Jurnal Teologi Praktika, 8(1), 22-38.
Nursalam, N., & Efendi, F. (2021). Spiritual Care in Nursing Practice: A Systematic Review of Christian Nursing Perspective. Jurnal Keperawatan Indonesia, 24(3), 198-210.
Nggebu, S. (2023). Konsep Kenosis Yesus Kristus dalam Filipi 2:1-11 sebagai Norma Dasar Spiritualitas Kristen. Integritas: Jurnal Teologi, 5(2), 112-130.
Guthrie, D. (2016). Teologi Perjanjian Baru. BPK Gunung Mulia
Kontributor:Â Helen Juli Friska Br. Panjaitan
Editor:Â Ahmad Fauzi, M.Pd.
PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...
Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...
1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...
PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...
PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...
Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

Pendahuluan Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam pelayanan kesehatan perempuan, ibu, bayi, dan keluarga...

1. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidik...

1. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital yang berlangsung dengan sangat cepat telah membawa perubahan fundamental dalam berbagai aspek kehi...

I. Pendahuluan Pelayanan gizi merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan karena intervensi gizi berkaitan dengan kondisi kesehatan, kema...

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Agama dan kewarganegaraan merupakan dua aspek penting yang membentuk identitas dan kehidupan sosial manusia. A...

No comments yet.