Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Pelayanan Gizi Berbasis Kasih: Mengintegrasikan Nilai Kekristenan dengan Patient-Centered Care

    • Oct 30 2026 • 7 Dilihat

    I. Pendahuluan

    Pelayanan gizi merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan karena intervensi gizi berkaitan dengan kondisi kesehatan, kemampuan pasien menjalani terapi, serta perubahan perilaku yang diperlukan untuk mencapai tujuan kesehatan. Oleh karena itu, pelayanan gizi tidak cukup dipahami sebagai kegiatan menghitung kebutuhan zat gizi atau memberikan anjuran makanan. Pelayanan gizi juga menuntut tenaga gizi untuk memahami kondisi, kebutuhan, nilai, kebiasaan, kemampuan, serta preferensi setiap pasien. Hal tersebut sejalan dengan pendekatan patient-centered care (PCC), yaitu pendekatan pelayanan yang menempatkan kebutuhan, nilai, pengalaman, dan pilihan pasien sebagai bagian penting dalam proses pelayanan. Dalam praktik dietetik, PCC mencakup hubungan positif antara tenaga gizi dan pasien, komunikasi yang efektif, perilaku humanistik, individualisasi pelayanan, serta keterlibatan pasien dalam proses pengambilan keputusan. Kajian integratif terhadap praktik dietetik mengidentifikasi enam unsur penting PCC, yaitu hubungan positif antara dietisien dan pasien, perilaku humanistik, komunikasi efektif, individualisasi pelayanan, pembagian kekuasaan yang lebih seimbang kepada pasien, serta adanya keterbatasan waktu dalam penerapannya (Sladdin et al., 2017).

    Kebutuhan untuk memberikan pelayanan yang berpusat pada pasien juga memiliki dasar profesional dalam praktik gizi di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/342/2020 menetapkan Standar Profesi Nutrisionis sebagai acuan dalam penyelenggaraan pelayanan profesional. Standar tersebut menegaskan pentingnya kompetensi dan profesionalisme tenaga nutrisionis dalam memberikan pelayanan kepada individu, kelompok, dan masyarakat. Dengan demikian, perhatian terhadap pasien sebagai manusia yang memiliki kebutuhan dan karakteristik individual bukanlah tambahan yang terpisah dari profesionalisme, melainkan bagian dari pelayanan gizi yang berkualitas.

    Dalam perspektif kekristenan, pelayanan kepada manusia juga tidak dapat dilepaskan dari nilai kasih. Markus 12:31 mengajarkan untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri, sedangkan 1 Korintus 13:4 menggambarkan kasih melalui kesabaran, kebaikan, dan sikap yang tidak meninggikan diri. Kasih dalam pelayanan kesehatan tidak cukup dipahami sebagai perasaan pribadi, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan yang menghargai martabat, memperhatikan kebutuhan, dan mengurangi kecenderungan untuk menghakimi pasien. Literatur mengenai etika Kristen dalam pelayanan kesehatan juga menghubungkan konsep Imago Dei, kasih, keadilan, dan tanggung jawab moral dengan pelayanan kesehatan yang manusiawi. Pane et al. (2025) menunjukkan bahwa etika Kristen dapat menjadi dasar normatif untuk menempatkan martabat manusia sebagai bagian penting dalam pelayanan kesehatan.

    Nilai kasih memiliki titik temu yang kuat dengan PCC, tetapi keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Kasih Kristen dapat menjadi landasan etis dan karakter pelayanan, sedangkan PCC menjadi pendekatan praktis dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Dengan demikian, nilai kekristenan tidak menggantikan ilmu gizi dan standar profesi, tetapi memberikan orientasi kemanusiaan dalam penerapan ilmu tersebut. Kasih juga tidak berarti membiarkan pasien tanpa arahan profesional. Sebaliknya, kasih menuntut tenaga gizi untuk memberikan pelayanan secara kompeten, menghargai kebebasan pasien, dan tetap bertanggung jawab terhadap keselamatan pasien.

    Berdasarkan hal tersebut, esai ini membahas bagaimana nilai kasih dalam kekristenan dapat diintegrasikan dengan PCC dalam pelayanan gizi. Integrasi tersebut diarahkan pada empat praktik utama, yaitu mendengarkan pasien, memahami kondisi individual pasien, melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan, dan memberdayakan pasien untuk menjalankan perubahan yang realistis. Melalui pendekatan tersebut, pelayanan gizi diharapkan tidak hanya tepat secara ilmiah, tetapi juga manusiawi, etis, dan menghargai martabat setiap pasien.

    II. Pembahasan

    A. Patient-Centered Care sebagai Pendekatan dalam Pelayanan Gizi

    Patient-centered care menempatkan pasien sebagai individu yang memiliki nilai, kebutuhan, pengalaman, dan pilihan yang perlu diperhatikan dalam proses pelayanan. Dalam praktik dietetik, penelitian menunjukkan bahwa pasien menginginkan pelayanan yang lebih individual dan keterlibatan yang lebih besar dalam proses perawatan. Sladdin et al. (2017) melalui kajian integratif terhadap 27 penelitian menemukan enam tema utama dalam penerapan PCC pada praktik dietetik, yaitu hubungan positif antara dietisien dan pasien, perilaku humanistik, komunikasi efektif, individualisasi pelayanan, pelibatan pasien dalam pengambilan keputusan, serta keterbatasan waktu dalam penerapannya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pelayanan gizi yang berpusat pada pasien tidak hanya berkaitan dengan jenis intervensi yang diberikan, tetapi juga dengan cara tenaga gizi membangun hubungan dan mengambil keputusan bersama pasien.

    Hal tersebut menunjukkan bahwa intervensi gizi tidak dapat sepenuhnya ditentukan hanya berdasarkan kebutuhan biologis. Dua pasien dengan diagnosis yang sama dapat memiliki kebiasaan makan, kondisi ekonomi, dukungan keluarga, budaya, kemampuan menyediakan makanan, serta tingkat kesiapan berubah yang berbeda. Oleh karena itu, rekomendasi yang secara teori benar belum tentu dapat diterapkan oleh setiap pasien. Individualised nutritional care menekankan bahwa pelayanan gizi perlu disesuaikan dengan kebutuhan, preferensi, nilai, dan tujuan pasien agar pelayanan tidak hanya aman dan efektif, tetapi juga relevan dengan keadaan pasien (Holdoway et al., 2022).

    Keterlibatan pasien juga menjadi bagian penting dalam PCC. Penelitian Sladdin et al. (2018) terhadap 11 pasien yang pernah mengikuti konsultasi dietetik menemukan empat tema utama, yaitu hubungan yang penuh kepedulian, pelayanan yang individual, keterlibatan pasien, dan kemampuan pasien untuk mengambil kendali terhadap kesehatannya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman pasien terhadap pelayanan gizi tidak hanya ditentukan oleh isi rekomendasi, tetapi juga oleh apakah pasien merasa dipahami, dilibatkan, dan didukung dalam proses pelayanan.

    Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa persepsi tenaga kesehatan mengenai PCC belum tentu sama dengan pengalaman pasien. Sladdin et al. (2019) membandingkan persepsi 133 pasien dan 180 dietisien dalam pelayanan primer. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pada beberapa aspek PCC, termasuk pelayanan yang holistik dan individual, hubungan pasien-dietisien, serta pemahaman terhadap pasien. Temuan ini menunjukkan bahwa merasa telah memberikan pelayanan yang berpusat pada pasien belum tentu berarti pasien benar-benar mengalami pelayanan tersebut sebagai pelayanan yang berpusat pada dirinya. Oleh karena itu, evaluasi terhadap pelayanan gizi perlu mempertimbangkan pengalaman pasien, bukan hanya penilaian tenaga kesehatan.

    B. Nilai Kasih Kristen sebagai Landasan Etis Pelayanan

    Dalam kekristenan, kasih merupakan nilai penting dalam hubungan manusia dengan sesama. Markus 12:31 mengajarkan untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri, sedangkan 1 Korintus 13:4 menggambarkan kasih sebagai sikap yang sabar dan baik serta tidak meninggikan diri. Nilai tersebut memiliki relevansi dalam pelayanan kesehatan karena pasien merupakan manusia yang dapat mengalami ketakutan, kecemasan, keterbatasan, dan ketidakpastian ketika menghadapi masalah kesehatan.

    Kasih dalam pelayanan gizi tidak seharusnya hanya dipahami sebagai sikap ramah. Kasih perlu diwujudkan melalui kesabaran untuk mendengarkan, kebaikan dalam berkomunikasi, penghormatan terhadap martabat pasien, serta kesediaan membantu pasien menemukan solusi yang dapat dijalankan. Dengan demikian, kasih menjadi perilaku profesional yang dapat terlihat dalam proses pelayanan, bukan hanya keyakinan pribadi yang berada di dalam diri tenaga gizi. Gagasan ini juga sejalan dengan pembahasan terbaru mengenai kasih dalam pendidikan dan pelayanan kesehatan yang menempatkan kasih sebagai komitmen etis terhadap martabat manusia yang mencakup empati, kepedulian, dan penghormatan. Doherty dan Donohoe (2026) menekankan bahwa komitmen tersebut perlu tetap disertai batas profesional agar kasih dalam pelayanan tidak berubah menjadi tindakan yang tidak tepat atau paternalistik.

    Perspektif etika Kristen dalam pelayanan kesehatan juga berkaitan dengan martabat manusia. Pane et al. (2025) menjelaskan bahwa etika Kristen berakar pada konsep Imago Dei, yaitu pemahaman bahwa manusia memiliki martabat yang melekat karena diciptakan menurut gambar Allah. Dalam kerangka tersebut, kasih, keadilan, dan tanggung jawab moral menjadi dasar penting dalam pelayanan kesehatan yang manusiawi. Hal ini memperkuat pandangan bahwa pasien tidak boleh diperlakukan hanya sebagai objek intervensi gizi, tetapi sebagai pribadi yang memiliki nilai dan harus dihormati.

    Karena itu, nilai kasih dapat memperkuat orientasi kemanusiaan dalam PCC. Namun, penerapannya harus tetap menghormati kebebasan dan keyakinan pasien. Mengasihi pasien tidak berarti memaksakan keyakinan atau keputusan tenaga kesehatan kepada pasien. Kirchhoffer (2023) menjelaskan bahwa penghormatan terhadap hati nurani dan keyakinan seseorang berkaitan dengan penghormatan terhadap martabat manusia, terutama dalam lingkungan pelayanan kesehatan yang memiliki keragaman agama dan nilai. Dengan demikian, tenaga gizi Kristen dapat menunjukkan kasih melalui pelayanan yang menghargai pasien tanpa mengharuskan pasien memiliki keyakinan yang sama.

    C. Integrasi Kasih Kristen dan Patient-Centered Care dalam Pelayanan Gizi

    Titik penting dari integrasi kedua konsep tersebut adalah bahwakasih Kristen dapat berfungsi sebagai landasan etis, sedangkan PCC menjadi bentuk operasionalnya dalam pelayanan. Kasih memberikan arah mengenai bagaimana tenaga gizi memperlakukan pasien, sedangkan PCC memberikan kerangka mengenai bagaimana pasien dilibatkan dalam proses pelayanan. Hubungan tersebut dapat diterapkan melalui empat praktik berikut.

    1. Mendengarkan pasien dengan sabar

    Penerapan pertama adalah kemampuan tenaga gizi untuk mendengarkan pasien sebelum memberikan rekomendasi. Mendengarkan bukan sekadar membiarkan pasien berbicara, tetapi berusaha memahami pengalaman pasien, kesulitan yang dihadapi, kebiasaan makan, serta alasan di balik pilihan tertentu. Sikap tersebut sejalan dengan karakter kasih dalam 1 Korintus 13:4 yang menggambarkan kasih sebagai sesuatu yang sabar dan baik. Dalam praktik PCC, komunikasi dan hubungan yang positif juga merupakan komponen penting dalam pelayanan dietetik. Sladdin et al. (2017) menunjukkan bahwa hubungan dietisien-pasien, perilaku humanistik, dan komunikasi efektif merupakan bagian utama dari PCC dalam praktik dietetik.

    Sebagai contoh, ketika pasien diabetes belum mengikuti pola makan yang dianjurkan, tenaga gizi tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa pasien tidak disiplin. Tenaga gizi perlu mencari tahu apakah masalah tersebut berkaitan dengan kebiasaan keluarga, kondisi ekonomi, pekerjaan, kurangnya pemahaman, akses terhadap makanan, atau faktor lainnya. Dengan cara ini, masalah gizi dipahami dalam konteks kehidupan pasien, bukan hanya sebagai kegagalan mengikuti instruksi. Pendekatan tersebut juga mengubah posisi tenaga gizi. Tenaga gizi tidak hanya menjadi pemberi instruksi, tetapi menjadi mitra yang membantu pasien memahami masalah dan menemukan pilihan yang dapat dilakukan. Dengan demikian, komunikasi menjadi bagian dari intervensi gizi, bukan sekadar kegiatan pendukung.

    2. Memahami kondisi dan kebutuhan individual pasien

    Kasih juga perlu diwujudkan melalui usaha memahami pasien sebagai individu. Intervensi gizi yang baik bukan hanya intervensi yang benar secara teori, tetapi juga intervensi yang memiliki kemungkinan untuk diterapkan. Holdoway et al. (2022) menjelaskan bahwa individualised nutritional care merupakan pelayanan gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan, preferensi, nilai, dan tujuan pasien. Pendekatan tersebut menempatkan hal-hal yang penting bagi pasien sebagai bagian dari perencanaan pelayanan gizi.

    Sebagai contoh, seorang pasien mungkin dianjurkan mengonsumsi makanan tertentu, tetapi memiliki keterbatasan ekonomi sehingga tidak mampu membeli bahan makanan tersebut secara rutin. Dalam situasi ini, tenaga gizi yang menerapkan PCC tidak berhenti pada pemberian rekomendasi ideal. Tenaga gizi perlu membantu pasien menemukan alternatif bahan makanan yang memiliki nilai gizi sesuai dan lebih memungkinkan untuk diperoleh.

    Di sinilah kasih dan profesionalisme bertemu. Kasih membuat tenaga gizi tidak menghakimi keterbatasan pasien, sedangkan ilmu gizi memberikan kemampuan untuk mencari alternatif yang tetap aman dan tepat secara ilmiah. Dengan demikian, perhatian terhadap kondisi ekonomi pasien bukan berarti menurunkan standar pelayanan, tetapi merupakan bagian dari usaha agar rekomendasi profesional dapat benar-benar diterapkan.

    3. Melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan

    PCC juga menuntut pasien untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Pasien bukan sekadar penerima instruksi, sedangkan tenaga gizi bukan satu-satunya pihak yang menentukan seluruh keputusan. Penelitian mengenai PCC dalam dietetik menunjukkan bahwa keterlibatan pasien dan shared decision-making merupakan bagian penting dari pelayanan yang berpusat pada pasien. Dalam kajian sistematis mengenai model shared decision-making, unsur seperti menjelaskan pilihan, memahami preferensi pasien, menyesuaikan informasi, melakukan pertimbangan bersama, dan membuat keputusan merupakan komponen yang sering muncul dalam berbagai model.

    Dalam praktiknya, tenaga gizi dapat menawarkan beberapa alternatif yang sesuai dengan kebutuhan klinis kemudian mendiskusikan pilihan yang paling memungkinkan bagi pasien. Misalnya, apabila pasien memiliki beberapa pilihan makanan yang sesuai dengan kebutuhan dietnya, pasien dapat dilibatkan untuk menentukan pilihan yang paling sesuai dengan kebiasaan, budaya, kondisi ekonomi, dan kemampuan pasien.

    Keterlibatan tersebut bukan berarti tenaga gizi menyerahkan seluruh keputusan kepada pasien. Tenaga gizi tetap bertanggung jawab memberikan informasi berdasarkan ilmu, bukti ilmiah, standar profesi, serta pertimbangan keselamatan pasien. Pasien kemudian diberi kesempatan untuk memahami pilihan yang tersedia dan ikut menentukan keputusan yang sesuai dengan nilai dan kondisinya. Dengan demikian, PCC tidak menghilangkan peran profesional tenaga gizi, tetapi mengubah pola hubungan dari sekadar pemberi instruksi menjadi hubungan kerja sama dalam pengambilan keputusan.

    4. Memberdayakan pasien, bukan menghakimi

    Tujuan pelayanan gizi bukan hanya agar pasien mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, tetapi agar pasien memiliki kemampuan dan kemauan untuk menjalankan perubahan tersebut. Oleh karena itu, edukasi gizi perlu dilakukan dengan bahasa yang dapat dipahami, realistis, dan tidak menghakimi.

    Sikap kasih dapat diwujudkan melalui kesabaran ketika pasien belum berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tenaga gizi perlu mengevaluasi hambatan bersama pasien dan membantu menentukan perubahan yang lebih memungkinkan. Pendekatan seperti ini sesuai dengan prinsip individualisasi pelayanan karena tujuan intervensi tidak hanya ditentukan oleh tenaga kesehatan, tetapi juga mempertimbangkan keadaan dan kemampuan pasien.

    Hal ini memperlihatkan bahwa keberhasilan pelayanan gizi tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa banyak informasi yang telah diberikan oleh tenaga gizi. Keberhasilan juga dapat dilihat dari apakah pasien memahami tujuan intervensi, mampu berpartisipasi dalam menentukan pilihan, dan memperoleh dukungan untuk melakukan perubahan yang realistis.

    Dengan demikian, pemberdayaan pasien menjadi titik pertemuan antara kasih dan PCC. Kasih mencegah tenaga gizi memandang pasien secara menghakimi, sedangkan PCC memberikan cara praktis untuk melibatkan pasien dalam menentukan tujuan dan menjalankan perubahan.

    D. Batasan Integrasi: Kasih Tidak Menggantikan Profesionalisme

    Integrasi nilai kekristenan dengan PCC perlu memiliki batas yang jelas. Pelayanan gizi berbasis kasih bukan berarti memberikan pelayanan berdasarkan perasaan semata atau menggantikan ilmu gizi dengan ajaran agama.

    Standar profesi tetap menjadi dasar dalam menjalankan pelayanan gizi. Kementerian Kesehatan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/342/2020 menetapkan Standar Profesi Nutrisionis sebagai acuan profesional dalam penyelenggaraan pelayanan. Dengan demikian, nilai kasih tidak boleh menjadi alasan untuk memberikan rekomendasi yang tidak sesuai dengan bukti ilmiah atau mengabaikan keselamatan pasien.

    Terdapat dua unsur yang harus berjalan bersama. Ilmu dan standar profesi menentukan apa yang secara profesional tepat untuk diberikan, sedangkan kasih menentukan bagaimana pelayanan tersebut diberikan kepada manusia yang menerimanya. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Justru, pelayanan yang berkualitas membutuhkan kompetensi ilmiah sekaligus karakter profesional yang menghargai manusia.

    Selain itu, nilai kekristenan tidak boleh digunakan untuk memaksakan keyakinan kepada pasien. Seorang tenaga gizi Kristen dapat menunjukkan kasih melalui sikap sabar, jujur, menghargai, tidak menghakimi, dan bertanggung jawab tanpa mengharuskan pasien memiliki keyakinan yang sama. Hal ini sejalan dengan prinsip penghormatan terhadap hati nurani dan keyakinan dalam pelayanan kesehatan. Kirchhoffer (2023) menempatkan penghormatan terhadap keyakinan dan hati nurani dalam kaitannya dengan penghormatan terhadap martabat manusia.

    Dengan demikian, pelayanan gizi berbasis kasih memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar “bersikap ramah”. Pelayanan tersebut menuntut kompetensi ilmiah sekaligus karakter profesional yang menghargai manusia. Kasih tanpa kompetensi dapat menghasilkan pelayanan yang tidak memadai, sedangkan kompetensi tanpa penghormatan terhadap manusia dapat menghasilkan pelayanan yang terlalu berorientasi pada tindakan teknis. Integrasi keduanya memungkinkan pelayanan gizi menjadi ilmiah sekaligus manusiawi.

    III. Penutup

    Pelayanan gizi berbasis kasih merupakan pendekatan yang mengintegrasikan kompetensi profesional dengan nilai kemanusiaan berdasarkan iman Kristen. Integrasi tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan ilmu gizi maupun standar profesi, tetapi untuk memberikan orientasi etis dalam cara ilmu dan keterampilan tersebut diterapkan kepada pasien.

    Patient-Centered Care memberikan kerangka praktis agar pelayanan gizi memperhatikan kebutuhan, nilai, preferensi, pengalaman, dan keterlibatan pasien. Sementara itu, nilai kasih Kristen memberikan landasan untuk mewujudkan pelayanan melalui kesabaran, kebaikan, empati, penghargaan terhadap martabat manusia, dan sikap tidak menghakimi. Keduanya dapat dipertemukan melalui empat praktik utama, yaitu mendengarkan pasien, memahami kondisi individual, melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan, dan memberdayakan pasien untuk menjalankan perubahan yang realistis.

    Dengan demikian, tenaga gizi Kristen tidak hanya dituntut untuk mengetahui apa yang benar secara ilmiah, tetapi jugamampu menyampaikan dan menerapkan pengetahuan ilmiah tersebut dengan cara yang menghargai manusia. Pelayanan yang berkualitas bukan hanya pelayanan yang tepat secara klinis, tetapi juga pelayanan yang membuat pasien merasa didengar, dihargai, dan diperlakukan sebagai pribadi. Temuan penelitian dalam praktik dietetik menunjukkan bahwa hubungan, komunikasi, individualisasi, dan keterlibatan pasien merupakan unsur penting dalam pengalaman pelayanan yang berpusat pada pasien.

    Sebagai rekomendasi, pendidikan gizi perlu memperkuat kompetensi komunikasi, empati, pengambilan keputusan bersama, dan pelayanan yang berpusat pada pasien selain kompetensi teknis. Bagi mahasiswa dan calon tenaga gizi Kristen, nilai kasih dapat menjadi dasar pembentukan karakter profesional untuk melayani dengan kompeten, bertanggung jawab, dan tulus, tanpa memaksakan keyakinan kepada pasien. Dengan demikian, integrasi iman dan profesi tidak berhenti sebagai gagasan teoritis, tetapi diwujudkan dalam perilaku pelayanan yang nyata.

    IV. DAFTAR PUSTAKA

    Doherty, C. P., & Donohoe, C. L. (2026). Should love be explicitly stated as a core enabling concept in the medical curriculum? Journal of Medical Education and Curricular Development, 13, 23821205251408337. https://doi.org/10.1177/23821205251408337

    Holdoway, A., Page, F., Bauer, J., Dervan, N., & Maier, A. B. (2022). Individualised nutritional care for disease-related malnutrition: Improving outcomes by focusing on what matters to patients. Nutrients, 14(17), 3534. https://doi.org/10.3390/nu14173534

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Standar Profesi Nutrisionis: Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/342/2020. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

    Kirchhoffer, D. G. (2023). Dignity, conscience and religious pluralism in healthcare: An argument for a presumption in favour of respect for religious belief. Bioethics, 37(1), 88–97. https://doi.org/10.1111/bioe.13110

    Pane, R. T. H., Sobian, P., & Aliadi, F. (2025). Konstruksi etika Kristen tentang martabat manusia dalam sistem pelayanan kesehatan publik. Coram Mundo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, 7(2), 23–33. https://doi.org/10.55606/corammundo.v7i2.610

    Sladdin, I., Ball, L., Bull, C., & Chaboyer, W. (2017). Patient-centred care to improve dietetic practice: An integrative review. Journal of Human Nutrition and Dietetics, 30(4), 453–470. https://doi.org/10.1111/jhn.12444

    Sladdin, I., Chaboyer, W., & Ball, L. (2018). Patients’ perceptions and experiences of patient-centred care in dietetic consultations. Journal of Human Nutrition and Dietetics, 31(2), 188–196. https://doi.org/10.1111/jhn.12507

    Sladdin, I., Ball, L., Gillespie, B. M., & Chaboyer, W. (2019). A comparison of patients’ and dietitians’ perceptions of patient-centred care: A cross-sectional survey. Health Expectations, 22(3), 457–464. https://doi.org/10.1111/hex.12868

    Jones, M., Eggett, D., Gunnell Bellini, S., Williams, P., & Vaterlaus Patten, E. (2021). Patient-centered care: Dietitians’ perspectives and experiences. Patient Education and Counseling, 104(11), 2724–2731. https://doi.org/10.1016/j.pec.2021.04.008

    Tervonen-Gonçalves, L., et al. (2020). Key components of shared decision making models: A systematic review. BMJ Open, 9(12), e031763. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2019-031763

    Lembaga Alkitab Indonesia. (2019). Alkitab: Terjemahan Baru (TB). Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

    Kontributor: Lilian Pasenda Simanungkalit

    Editor: M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Maqashid Syariah sebagai Akar Filosofis ...

    by Keyla Calli Genia • Nov 02 2026

    PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...

    Narrative Medicine dan Integritas Seni d...

    by Ayla Azzura • Nov 02 2026

    Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...

    Transformasi Digital Pelayanan Gizi dala...

    by Fathahila Nailhan • Nov 02 2026

    1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...

    Konsep Ulul Albab sebagai Profil Ideal P...

    by Moses Beladio Sihombing • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...

    Tiga Tingkatan Nafsu dalam Perspektif Ib...

    by Aliya Rahadatul Aisyi • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...

    Politik Sebagai Sarana Mewujudkan Kemasl...

    by Tata Rina Sigita • Oct 31 2026

    Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Kejujuran dan Amanah: Dua Pilar Integritas Akad...

    I. Pendahuluan Dalam ajaran Islam, mencari ilmu merupakan salah satu hal yang dianjurkan kepada manusia. Pendidikan pada dasarnya tidak hanya be...

    Penyuluhan Anti Korupsi untuk Berbagai Kelompok...

    1. PENDAHULUAN Latar Belakang Korupsi merupakan permasalahan sistemik yang berdampak luas terhadap berbagai sektor pembangunan, termasuk ekonomi...

    09 Apr 2026

    Kontribusi Ibnu Nafis dalam Sirkulasi Darah dan...

    Pendahuluan Perkembangan ilmu kesehatan yang dikenal saat ini merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan berbagai ilmuwan dari berbagai...

    19 Oct 2026

    Determinan Sosial Kesehatan dan Penyakit Tidak ...

    I. Pendahuluan Transisi epidemiologi yang berlangsung di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir telah menggeser pola penyakit dari dominasi pe...

    06 Sep 2026

    Peran Perawat dalam Mewujudkan Masyarakat Madan...

    I. Pendahuluan Indonesia merupakan bangsa besar yang tengah bergerak menuju cita-cita luhur berupa terwujudnya masyarakat madani, yaitu masyarak...

    28 Oct 2026
    back to top