Zahra Al Tafun Nisa • Sep 12 2026 • 22 Dilihat

Bidan adalah seorang Perempuan yang telah lulus Pendidikan kebidanan yang diakui pemerintah serta memenuhi kualifikasi untuk didaftarkan (register) atau memiliki izin yang sah (lisensi) untuk melakukan praktik bidan (International Confederation of Midwifes,2011). Kebidanan adalah ilmu yang membuat bidan dapat memberikan pelayanan kebidanan pada ibu dalam masa pra konsepsi, hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir. Bidan memegang peran yang sangat mulia serta strategis dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya dalam menjaga kesehatan ibu, bayi, dan anak. Mulai dari masa kehamilan, persalinan hingga masa pertumbuhan. Profesi bidan tidak hanya membutuhkan penguasaan ilmu dan keterampilan dalam memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan karakter yang baik. Seorang bidan perlu memiliki kejujuran, kedisiplinan, kesabaran, tanggung jawab, kepedulian, serta kemampuan mengendalikan diri ketika menghadapi berbagai kondisi pasien. Karakter tersebut tidak terbentuk secara langsung, tetapi membutuhkan proses latihan dan pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus. Oleh karena itu, karakter bidan menjadi hal yang sangat mendasar dan menentukan kualitas pelayanan yang diberikan. Karakter tersebut tidak dapat hanya dianggap sebagai pelengkap atau tambahan, melainkan merupakan inti dari kompetensi profesional seorang bidan. Ngadiyono et al (2016) menunjukkan bahwa mahasiswa kebidanan perlu mengembangkan religiusitas, disiplin, tanggung jawab, kejujuran, kepedulian sosial, kerja keras, dan kemampuan berkomunikasi. Karakter tersebut perlu dibentuk sejak masa pendidikan agar calon bidan mampu memberikan pelayanan secara profesional dan bertanggung jawab.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembentukan karakter sering kali menjadi aspek yang terabaikan dalam kurikulum pelatihan tenaga kesehatan. Akibatnya, kita kerap menjumpai tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan akademis tinggi namun kurang memiliki ketulusan saat merawat pasien. Media sosial dipenuhi dengan laporan mengenai tenaga kesehatan yang memperlakukan pasien BPJS secara tidak adil. Bidan menghadapi berbagai tantangan dalam praktik sehari-hari, termasuk tekanan kerja yang tinggi, beban emosional yang berat, keterbatasan fasilitas, serta tuntutan untuk berinteraksi dengan pasien dan keluarga yang memiliki beragam karakter. Tanpa fondasi karakter yang kuat, seorang bidan rentan mengalami kelelahan emosional, hilangnya motivasi kerja, dan penurunan kualitas pelayanan; mereka bahkan bisa saja terjerumus pada perilaku yang melanggar etika profesi seperti ketidakjujuran, kelalaian, atau sikap tidak ramah terhadap pasien.
Imam Al-Ghazali, seorang ulama besar dan filsuf Islam yang dikenal sebagai “Hujjatul Islam”, telah menyusun sebuah sistem pendidikan karakter yang sangat komprehensif dalam karya-karyanya, terutama dalam kitab Ihya Ulumuddin. Dalam pandangan Al-Ghazali, pembentukan karakter bukanlah hal yang terjadi secara tiba-tiba atau hanya mengandalkan bakat bawaan, melainkan merupakan sebuah proses yang berkelanjutan, sistematis, dan membutuhkan usaha sungguh-sungguh dari dalam diri sendiri. Dua konsep kunci yang menjadi inti dari metode pembentukan karakter menurut Al-Ghazali adalah mujahadah dan riyadhah. Mujahadah berarti berjuang melawan hawa nafsu dan kebiasaan buruk, sedangkan riyadhah Latihan dan pembiasaan membentuk perilaku baik secara terus-menerus hingga menjadi watak yang menetap. Konsep ini sejalan dengan QS. Asy-Syams ayat 9, yang menegaskan keberuntungan bagi orang yang menyucikan jiwa.
Mujahadah (الُمَجاَهَدُة) berasal dari kata Arab ˝ُمَجاَهَدة – ُيَجاِهُد – َجاَهَد (jāhada–yujāhidu–mujāhadatan) yang berarti bersungguh-sungguh berjuang atau berusaha keras. Dalam perspektif Imam Al-Ghazali, mujahadah merupakan usaha sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu dan kecenderungan buruk dalam diri, seperti malas, mudah marah, sombong, dan tidak disiplin. Dalam materi esai, mujahadah diarahkan pada usaha mahasiswa untuk mengendalikan diri dan memperbaiki perilaku secara terus-menerus (Purnama & Santalia, 2022).
Al-Ghazali menjelaskan bahwa hawa nafsu sering kali mengajak manusia pada kemalasan, kelalaian, egoisme, kesabaran yang tipis, serta keinginan untuk mencari kenyamanan pribadi di atas kepentingan orang lain. Oleh karena itu, langkah pertama dalam pembentukan karakter adalah berani mengakui kekurangan diri sendiri dan berjuang untuk mengubahnya. Mujahadah bukan berarti menyiksa diri, melainkan menahan diri dari hal-hal yang merugikan dan melatih diri untuk melakukan hal yang benar meskipun hal itu tidak mudah atau tidak menyenangkan bagi diri sendiri.
Riyadhah (رَياَضُة’ِ ال) berasal dari kata Arab رِيَاضَة˝ – يُرِيضُ – رَاضَ yang berkaitan dengan makna melatih, membiasakan, dan mendisiplinkan diri.
Dalam pemikiran Imam Al-Ghazali, riyadhah merupakan proses latihan dan pembiasaan diri untuk mengendalikan jiwa serta membentuk akhlak yang baik. Proses ini dilakukan secara berulang dan berkelanjutan sampai perilaku baik menjadi kebiasaan dalam diri (Zulfahmi et al., 2026).
Setelah seseorang mulai mampu mengendalikan hawa nafsunya melalui mujahadah, barulah ia dapat melangkah ke tahap berikutnya, yaitu riyadhah. Al-Ghazali menekankan bahwa akhlak yang mulia bukanlah pemberian semata yang datang begitu saja, melainkan hasil dari latihan yang terus-menerus. Keduanya dilakukan secara terus-menerus agar nilai kebaikan tidak hanya diketahui, tetapi menjadi kebiasaan dan bagian dari kepribadian (Purnama & Santalia, 2022; Zulfahmi et al., 2026). Konsep ini sejalan dengan QS. Asy-Syams ayat (9) yang menunjukkan pentingnya usaha memperbaiki dan membersihkan diri dari sifat buruk.
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَّٰكىهَ اۖ ٩
Artinya: sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).
Dalam pendidikan kebidanan, mujahadah dapat diterapkan dengan melatih mahasiswa mengendalikan kelemahan diri, seperti rasa malas, menunda tugas, mudah menyerah, cemas menghadapi praktik, atau mudah terpancing emosi. Sementara itu, riyadhah diterapkan melalui pembiasaan perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa dapat membiasakan diri datang tepat waktu, belajar secara teratur, menjaga kebersihan, berbicara sopan, menghormati dosen dan pembimbing, menjaga kerahasiaan pasien, serta menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh. Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dapat membentuk karakter jujur, disiplin, tanggung jawab, sabar, dan peduli.
Sedangkan untuk riyadhah, pembiasaan dapat dilakukan dengan cara-cara sederhana namun dilakukan secara terus-menerus. Misalnya, membiasakan diri menyapa pasien dengan senyum sebelum memeriksa, membiasakan diri menjelaskan setiap tindakan medis yang akan dilakukan agar pasien merasa tenang dan dihargai, membiasakan diri mengucapkan terima kasih dan menghargai kerja sama tim, serta membiasakan diri berdoa sebelum memulai tindakan persalinan agar diberi kekuatan dan kesabaran. Hal-hal kecil ini jika dilakukan setiap hari tanpa putus akan membentuk pola pikir dan pola sikap yang akhirnya menjadi karakter yang kuat.
Al-Ghazali juga menekankan bahwa riyadhah tidak akan berjalan maksimal tanpa didukung oleh pengetahuan dan niat yang benar. Oleh karena itu, seorang bidan yang ingin membentuk karakternya juga harus terus menambah wawasan keilmuannya, karena karakter yang baik harus didukung oleh kemampuan profesional yang memadai agar dapat memberikan manfaat yang nyata.
Mujahadah dan riyadhah juga dapat membentuk kesabaran, pengendalian emosi, dan empati. Dalam pelayanan kebidanan, pasien dapat mengalami rasa takut, cemas, nyeri, maupun perubahan emosi. Oleh karena itu, calon bidan perlu belajar mengendalikan diri agar tetap tenang dan mampu berkomunikasi dengan baik. Hal ini dapat dilakukan dengan membiasakan diri mendengarkan pasien, menjaga ucapan, berpikir sebelum bertindak, dan melakukan muhasabah setelah menghadapi suatu masalah. Nilai tersebut sejalan dengan QS. Al-‘Asr ayat 1–3 tentang pentingnya kesabaran dan kebenaran.
وَالْعَصْرِۙ ١
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢
اِلَّا الَّذِيْنَ ٰامَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەِۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ٣
Artinya: Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran. (QS. Al-‘Asr ayat 1–3).
Pada akhirnya, mujahadah dan riyadhah perlu berjalan bersama dengan pendidikan ilmu dan keterampilan kebidanan. Dengan latihan dan pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus, konsep Imam Al-Ghazali ini dapat membantu membentuk calon bidan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga jujur, disiplin, sabar, bertanggung jawab, mampu mengendalikan diri, dan memiliki kepedulian terhadap pasien.
Pemanfaatan metode mujahadah dan riyadhah dalam perspektif Imam Al-Ghazali dapat menjadi salah satu upaya dalam membentuk karakter calon bidan. Menurut Imam Al-Ghazali, pembentukan akhlak membutuhkan usaha untuk melawan sifat buruk (mujahadah) serta latihan dan pembiasaan untuk menumbuhkan perilaku baik (riyadhah). Penerapannya dalam pendidikan kebidanan dapat dilakukan melalui pembiasaan jujur, disiplin, bertanggung jawab, sabar, mampu mengendalikan emosi, serta memiliki empati dan kepedulian terhadap pasien.
Pemanfaatan metode mujahadah dan riyadhah dalam perspektif Imam Al-Ghazali dapat menjadi salah satu upaya yang efektif dalam pembentukan karakter bidan. Mujahadah mengajarkan pentingnya perjuangan melawan hawa nafsu dan berbagai sifat negatif, sedangkan riyadhah menekankan latihan serta pembiasaan perilaku positif yang dilakukan secara berkelanjutan. Kedua metode tersebut berperan dalam membentuk kepribadian yang berakhlak mulia dan memiliki pengendalian diri yang baik.
Dalam pendidikan kebidanan, penerapan mujahadah dan riyadhah dapat dilakukan melalui pembiasaan sikap disiplin, jujur, sabar, bertanggung jawab, peduli, serta mampu mengendalikan emosi ketika menghadapi pasien dan berbagai situasi pelayanan kesehatan. Pembiasaan tersebut tidak hanya mendukung perkembangan karakter, tetapi juga meningkatkan kualitas profesionalisme calon bidan dalam menjalankan tugasnya.
Dengan demikian, pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai mujahadah dan riyadhah masih sangat relevan untuk diterapkan dalam pendidikan kebidanan. Melalui penerapan kedua metode tersebut secara konsisten, diharapkan dapat terbentuk bidan yang tidak hanya kompeten dalam keterampilan klinis, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, berintegritas, berakhlak mulia, serta mampu memberikan pelayanan kesehatan yang profesional, aman, dan manusiawi kepada masyarakat.
Al-Ghazali, I. (tt). Ihya Ulumuddin. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
International Confederation of Midwives. (2011). Definisi dan Standar Profesi Bidan. Diakses dari https://icm.org
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Ngadiyono, N., Bahiyatun, B., & Suherni, T. (2016). Implementasi Pendidikan Karakter Mahasiswa Jurusan Kebidanan Poltekkes Semarang Tahun 2015. Jurnal Kebidanan, 5(11), 1–9. https://doi.org/10.31983/jkb.v5i11.2876
Purnama, Y., & Santalia, I. (2022). Pemikiran Etika Imam Al-Ghazali dan Relevansinya untuk Metode Penyucian Jiwa. Living Islam: Journal of Islamic Discourses, 5(2), 231–244. https://doi.org/10.14421/lijid.v5i2.3822
Zulfahmi, A., An Nu’man, & Noorhayati, S. M. (2026). Konsep Pembiasaan (Riyadhah) dalam Pendidikan Karakter Menurut Al-Ghazali. At-Taklim: Jurnal Pendidikan Multidisiplin, 3(5), 84–95. https://doi.org/10.71282/at-taklim.v3i5.1905
Kontributor: Zahra Al Tafun Nisa
Editor: Dani Habibi, M.Ag.
I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...
PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...
I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...
Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...
I. Pendahuluan Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...
I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

PENDAHULUAN Korupsi di Indonesia telah menjadi masalah struktural yang sangat kompleks dan memberikan dampak destruktif terhadap seluruh sendi k...

1. PENDAHULUAN Agama adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam. Terkadang ada cerita yang secara keliru menggabungk...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu tantangan serius yang dapat menghambat pembangunan sektor kesehatan di berbagai negara. Praktik koru...

1. PENDAHULUAN Latar Belakang Korupsi merupakan salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan berkelanjutan, khususnya di sektor kesehatan. Se...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan sistemik yang paling menghambat pembangunan nasional di Indonesia. Berdasarkan laporan ...

No comments yet.