Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Perbandingan Ritual Perawatan Jenazah Lintas Agama di Indonesia: Kajian Antropologi Kematian

    • Oct 30 2026 • 16 Dilihat

    I. Pendahuluan

    Kematian adalah takdir yang pasti dialami oleh setiap manusia, namun cara memaknai dan meresponsnya sangat dipengaruhi oleh agama dan kebudayaan yang dianut. Sebagai negara dengan keragaman agama terbesar di dunia, Indonesia menghadirkan ragam ritual perawatan jenazah yang berbeda-beda antara pemeluk Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, maupun penganut kepercayaan lokal. Keragaman ini penting dipahami oleh tenaga kesehatan, khususnya perawat, karena dalam praktiknya perawat kerap mendampingi pasien pada fase terminal dan berinteraksi langsung dengan keluarga yang tengah berduka lintas latar belakang keyakinan. Ketidaktahuan terhadap perbedaan ritual dapat memicu ketidaknyamanan, bahkan berisiko mencederai nilai spiritual keluarga pada momen paling rentan dalam kehidupan mereka.

    Fenomena ini semakin relevan mengingat rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Indonesia melayani pasien dari latar belakang agama yang sangat beragam dalam satu ruang perawatan yang sama. Perawat dituntut tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga peka terhadap dimensi spiritual dan kultural pasien, terutama pada fase akhir kehidupan yang penuh muatan emosional bagi keluarga. Oleh sebab itu, esai ini bertujuan membandingkan ritual perawatan jenazah pada beberapa tradisi keagamaan di Indonesia melalui kajian antropologi kematian, serta menganalisis. implikasinya bagi penguatan kompetensi budaya dan spiritual perawat dalam memberikan asuhan yang holistik kepada pasien dan keluarga menjelang serta setelah kematian.

    II. Pembahasan

    Dalam kajian antropologi, kematian dipahami bukan semata peristiwa biologis, melainkan proses sosial yang mengorganisasi ulang tatanan masyarakat yang ditinggalkan. Van Gennep menjelaskan kematian sebagai salah satu rites of passage yang terdiri atas tiga fase, yakni pemisahan, liminalitas, dan penggabungan kembali, sementara Hertz memperkenalkan konsep kematian ganda yang menunjukkan bahwa kematian sosial-spiritual seseorang tidak selalu terjadi bersamaan dengankematian biologisnya (Metcalf & Huntington, 1991). Kerangka ini membantu menjelaskan mengapa berbagai tradisi di Indonesia memperlakukan jenazah dengan cara dan rentang waktu yang sangat berbeda satu sama lain, meskipun tujuannya sama-sama untuk menghormati yang telah meninggal dan menenangkan yang ditinggalkan.

    Dalam Islam, jenazah dimandikan, dikafani, disalatkan, dan dikuburkan secepat mungkin sebagai wujud kesederhanaan dan penghormatan. Dalam tradisi Kristen, proses berduka justru lebih menekankan pendampingan spiritual bagi keluarga melalui ibadah penghiburan dan misa arwah dengan penguburan atau kremasi yang umumnya dilaksanakan dalam waktu yang relatif singkat.

    Alkitab memberikan landasan pemaknaan kematian yang kerap dirujuk dalam ibadah penghiburan, salah satunya pada Kitab Pengkhotbah 3:1-2 yang menyatakan, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal” (Alkitab, Terjemahan Baru, LAI, 2011). Ayat ini menegaskan bahwa kematian dipandang sebagai bagian dari rancangan ilahi yang wajar dan memiliki waktunya sendiri, sehingga umat didorong menerimanya dengan iman, bukan dengan penyangkalan. Para pelayan pastoral umumnya memaknai ayat ini sebagai dasar pelayanan menjelang ajal (pastoral care), yang menempatkan penerimaan dan pengharapan sebagai inti pendampingan keluarga berduka.

    Pada tradisi Hindu-Bali, ritual Ngaben mengkremasi jenazah untuk membebaskan atma dari ikatan raga, dan sering ditunda hingga bertahun-tahun demi kelayakan upacara, sebuah contoh nyata dari konsep kematian ganda Hertz. Sementara itu, komunitas Buddha dan Tionghoa-Konghucu memperlakukan penghormatan kepada leluhur sebagai relasi berkelanjutan yang tidak berhenti pada penguburan, ditandai dengan ritual ziarah tahunan. Masyarakat adat seperti Toraja bahkan memperlakukan jenazah sebagai “orang sakit yang belum benar-benar meninggal secara sosial sampai upacara Rambu Solo yang megah dilaksanakan (Volkman, 1985). Perbedaan-perbedaan teknis ini, jika dianalisis lebih jauh, sesungguhnya berbagi struktur yang sama: seluruh tradisi menempatkan jenazah dalam periode transisi yang memerlukan keterlibatan komunitas, dan seluruh tradisi menggunakan simbol pemurnian-air, api, atau waktu itu sendiri-sebagai media transisi antara dunia yang hidup dan yang mati.

    Bagi profesi keperawatan, pemahaman terhadap keragaman ritual ini memiliki implikasi praktis yang signifikan, khususnya dalam pelayanan paliatif dan asuhan menjelang ajal (end-of-life care). Leininger (2002) melalui teori keperawatan transkultural menegaskan bahwa asuhan yang tidak mempertimbangkan nilai budaya dan spiritual pasien berisiko menimbulkan cultural imposition, yakni pemaksaan nilai perawat terhadap pasien yang dapat memperburuk pengalaman berduka keluarga. Puchalski (2006) menambahkan bahwa penilaian spiritual (spiritual assessment) perlu menjadi bagian rutin asuhan keperawatan paliatif, termasuk memahami preferensi keluarga terhadap tata cara perawatan jenazah, kehadiran pemuka agama, serta waktu yang dibutuhkan sebelum jenazah dipindahkan. Dalam praktiknya, perawat yang memahami bahwa keluarga Hindu-Bali atau Toraja mungkin memerlukan waktu dan proses yang berbeda dibandingkan keluarga Muslim atau Kristen akan mampu memfasilitasi komunikasi yang lebih empatik antara pihak rumah sakit, rohani, dan petugas pemulasaraan jenazah, sehingga proses transisi tersebut dapat berlangsung dengan tenang dan bermartabat bagi semua pihak yang terlibat.

    Kesadaran akan keragaman ritual ini juga relevan dalam konteks komunikasi terapeutik. Perawat yang memahami bahwa keluarga Kristen mungkin membutuhkan kehadiran pendeta untuk doa penghiburan sebelum jenazah dipindahkan, sebagaimana keluarga Muslim membutuhkan waktu untuk memandikan dan mengafani sesegera mungkin, akan mampu menyesuaikan alur pelayanan rumah sakit tanpa mengorbankan aspek administratif maupun aspek spiritual keluarga. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip family-centered care, di mana keluarga dipandang sebagai mitra aktif dalam pengambilan keputusan, bukan sekadar pihak yang menerima informasi. Dengan demikian, kompetensi lintas budaya bukan hanya soal pengetahuan teoretis mengenai ritual keagaman melainkan juga kemampuan praktis perawat untuk menegosiasikan kebutuhan spiritual keluarga dengan prosedur klinis yang berlaku, sehingga proses berduka dapat berlangsung tanpa hambatan yang tidak perlu.

    III. Penutup

    Ritual perawatan jenazah lintas agama di Indonesia menunjukkan variasi teknis yang luas, namun berbagi pola struktural yang sama sebagaimana dijelaskan dalam kerangka antropologi kematian, yaitu adanya periode transisi yang memerlukan penanganan komunitas serta simbol pemurnian sebagai jembatan antara dunia yang hidup dan yang mati. Pemahaman ini penting bagi perawat sebagai tenaga kesehatan yang berada di garis depan pendampingan pasien terminal dan keluarga berduka lintas keyakinan, sekaligus menegaskan bahwa asuhan keperawatan yang baik tidak dapat dilepaskan dari kepekaan terhadap nilai spiritual dan budaya pasien.

    Oleh karena itu, disarankan agar kompetensi budaya dan spiritual, termasuk pengetahuan dasar mengenai ritual kematian berbagai agama, dimasukkan secara eksplisit ke dalam kurikulum pendidikan keperawatan serta pelatihan berkelanjutan bagi tenaga kesehatan. Rumah sakit juga disarankan menyediakan pedoman internal mengenai fasilitasi kebutuhan spiritual lintas agama, agar pelayanan paliatif yang diberikan benar-benar holistik, manusiawi, dan menghormati keberagaman keyakinan pasien serta keluarganya.

    Daftar Pustaka

    Lembaga Alkitab Indonesia. (2011). Alkitab: Terjemahan Baru. Jakarta: LAI.

    Leininger, M. (2002). Culture care theory: A major contribution to advance transcultural nursing knowledge and practices. Journal of Transcultural Nursing, 13(3), 189-192.

    Metcalf, P., & Huntington, R. (1991). Celebrations of death: The anthropology of mortuary ritual (2nd ed.). Cambridge University Press.

    Puchalski, C. M. (2006). Spiritual care: A guide for healthcare professionals. Journal of Palliative Medicine, 9(3), 665-671.

    Van Gennep, A. (1960). The rites of passage (M. B. Vizedom & G. L. Caffee, Trans.). University of Chicago Press. (Original work published 1909)

    Volkman, T. A. (1985). Feasts of honor: Ritual and change in the Toraja highlands. University of Illinois Press.

    Kontributor: Ecca Jelita Simamora

    Editor: M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Maqashid Syariah sebagai Akar Filosofis ...

    by Keyla Calli Genia • Nov 02 2026

    PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...

    Narrative Medicine dan Integritas Seni d...

    by Ayla Azzura • Nov 02 2026

    Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...

    Transformasi Digital Pelayanan Gizi dala...

    by Fathahila Nailhan • Nov 02 2026

    1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...

    Konsep Ulul Albab sebagai Profil Ideal P...

    by Moses Beladio Sihombing • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...

    Tiga Tingkatan Nafsu dalam Perspektif Ib...

    by Aliya Rahadatul Aisyi • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...

    Politik Sebagai Sarana Mewujudkan Kemasl...

    by Tata Rina Sigita • Oct 31 2026

    Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Dampak Korupsi Terhadap Kualitas Layanan Gizi M...

    1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu masalah serius yang masih menjadi tantangan besar dalam sistem pemerintahan dan pelayanan publik di ...

    Harmoni Agama dan Negara: Manifestasi Ketaatan ...

    1. PENDAHULUAN Latar Belakang Agama dan negara adalah dua hal yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Agama hadir sebagai pedoman hidup yang...

    Kreativitas dalam Penyuluhan: Kunci Menyampaika...

    1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan paling destruktif yang dihadapi Indonesia sejak era reformasi. Berdasarkan data Transpa...

    Dampak Korupsi terhadap Pencapaian Target SDGs ...

    1. PENDAHULUAN Latar Belakang Korupsi merupakan salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan berkelanjutan, khususnya di sektor kesehatan. Se...

    11 Apr 2026

    Argumentasi Al-Qur’an tentang Ketuhanan d...

    I. Pendahuluan Al-Qur’an merupakan pedoman hidup umat Islam yang memberikan tuntunan mengenai hubungan manusia dengan Allah SWT serta hubungan...

    04 Sep 2026
    back to top