Elfatu Rahman • Jun 09 2026 • 14 Dilihat

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Berbagai inovasi di bidang komunikasi, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan industri telah meningkatkan kualitas hidup manusia secara signifikan. Namun, kemajuan tersebut juga menghadirkan berbagai tantangan moral dan etika, seperti penyalahgunaan teknologi, penyebaran informasi palsu, kerusakan lingkungan, hingga krisis nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, diperlukan suatu landasan yang mampu mengarahkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar tetap memberikan manfaat bagi manusia. Salah satu landasan tersebut adalah agama.
Dalam sejarah peradaban Islam, agama dan ilmu pengetahuan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Islam justru mendorong umatnya untuk berpikir, meneliti, membaca, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw., yaitu perintah membaca (iqra’), menunjukkan pentingnya ilmu dalam kehidupan manusia. Sejarah juga mencatat bahwa peradaban Islam pada masa keemasan berhasil melahirkan ilmuwan besar di berbagai bidang seperti kedokteran, matematika, astronomi, fisika, dan filsafat.
Di era digital saat ini, hubungan antara agama, ilmu pengetahuan, dan teknologi menjadi semakin penting. Agama berfungsi sebagai sumber nilai dan etika, ilmu pengetahuan sebagai sarana memahami realitas, sedangkan teknologi menjadi alat untuk menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ketiganya perlu berjalan secara harmonis agar kemajuan yang dicapai manusia tidak hanya menghasilkan kesejahteraan material, tetapi juga kemaslahatan spiritual dan sosial.
Agama, ilmu pengetahuan, dan teknologi merupakan tiga unsur yang saling melengkapi dalam kehidupan manusia. Agama memberikan nilai dan arah moral, ilmu pengetahuan menyediakan pemahaman rasional terhadap realitas, sedangkan teknologi menjadi sarana penerapan ilmu untuk kesejahteraan manusia. Kemajuan peradaban yang berkelanjutan hanya dapat tercapai apabila ketiganya dikembangkan secara terpadu dan seimbang.
A. Konsep Agama
Agama merupakan sistem keyakinan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Dalam Islam, agama tidak hanya mengatur aspek ibadah ritual, tetapi juga memberikan pedoman dalam pengembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial, dan budaya. Menurut Nasr (2003, hlm. 28), agama berfungsi sebagai sumber makna dan nilai yang membimbing manusia dalam menggunakan akal serta pengetahuannya secara bertanggung jawab.
B. Konsep Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan adalah hasil usaha manusia untuk memahami fenomena alam melalui pengamatan, penelitian, dan pemikiran rasional. Islam memandang ilmu sebagai sarana untuk mengenal kebesaran Allah dan memahami hukum-hukum alam yang diciptakan-Nya. Al-Qur’an berulang kali mendorong manusia untuk berpikir, mengamati, dan mengambil pelajaran dari alam semesta.
C. Konsep Teknologi
Teknologi merupakan penerapan ilmu pengetahuan untuk memecahkan berbagai permasalahan kehidupan manusia. Teknologi dapat berupa alat, sistem, maupun metode yang membantu manusia meningkatkan efektivitas dan efisiensi kehidupannya. Dalam perspektif Islam, teknologi dipandang sebagai sarana yang dapat bernilai positif apabila digunakan untuk kemaslahatan dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral agama.
A. Teori Integrasi Ilmu dan Agama
Teori integrasi menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dan agama bukanlah dua entitas yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Al-Attas (1995, hlm. 17) menjelaskan bahwa ilmu harus dibangun di atas landasan nilai-nilai ketuhanan agar tidak kehilangan arah dan tujuan kemanusiaannya.
B. Teori Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Al-Attas (1995, hlm. 43) mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan modern perlu diarahkan kembali kepada nilai-nilai spiritual agar tidak terjebak dalam sekularisme. Ilmu tidak hanya berorientasi pada aspek material, tetapi juga harus memperhatikan dimensi moral dan spiritual.
C. Teori Etika Teknologi
Menurut Beekun (1997, hlm. 81), perkembangan teknologi harus selalu mempertimbangkan aspek etika, keadilan, tanggung jawab sosial, dan kemaslahatan masyarakat. Tanpa etika, teknologi berpotensi menimbulkan kerusakan dan ketimpangan sosial.
Penelitian Budianto, Kurnia, dan Galih (2021) menunjukkan bahwa Islam memiliki hubungan yang positif dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam tidak menolak kemajuan teknologi, melainkan mendorong pemanfaatannya untuk mendukung dakwah dan kemaslahatan umat.
Saiful (2023) menemukan bahwa integrasi pendidikan agama dengan sains dan teknologi digital mampu membentuk keseimbangan antara kemampuan intelektual dan moral peserta didik. Agama berfungsi sebagai pengontrol etika dalam pemanfaatan teknologi modern.
Sinaga dkk. (2022) menjelaskan bahwa integrasi akidah dengan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat memperkuat karakter umat Islam sekaligus meningkatkan kemampuan mereka dalam menghadapi tantangan globalisasi.
Dalam perspektif Islam, agama dan ilmu pengetahuan memiliki hubungan yang harmonis dan saling melengkapi. Agama memberikan pedoman mengenai tujuan hidup manusia, sedangkan ilmu pengetahuan menjadi sarana untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang terdapat di alam semesta. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (Q.S. Al-‘Alaq [96]: 1). Ayat tersebut menunjukkan bahwa aktivitas membaca, meneliti, dan mencari ilmu merupakan bagian penting dalam ajaran Islam. Selain itu, Allah SWT juga berfirman: “Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Q.S. Az-Zumar [39]: 9)
Menurut Quraish Shihab (2017, hlm. 214), Al-Qur’an tidak berfungsi sebagai buku sains, tetapi memberikan landasan epistemologis yang mendorong manusia untuk berpikir kritis dan melakukan penelitian terhadap fenomena alam. Dalam konteks kontemporer, hubungan agama dan ilmu pengetahuan semakin relevan ketika perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), bioteknologi, dan rekayasa genetika menimbulkan berbagai persoalan etika. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan tidak cukup hanya berlandaskan rasionalitas ilmiah, tetapi juga memerlukan nilai-nilai agama agar kemajuan yang dicapai tetap berorientasi pada kemaslahatan manusia.
Islam mendukung perkembangan teknologi selama penggunaannya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat dan nilai moral. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad). Hadis tersebut menunjukkan bahwa teknologi yang dikembangkan seharusnya memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Perkembangan teknologi digital saat ini telah menghadirkan berbagai inovasi seperti pembelajaran daring, aplikasi Al-Qur’an digital, layanan kesehatan berbasis teknologi, dan sistem transaksi elektronik yang mempermudah kehidupan masyarakat.
Namun demikian, kemajuan teknologi juga memunculkan tantangan baru seperti penyebaran hoaks, cybercrime, perjudian online, serta penyalahgunaan kecerdasan buatan untuk manipulasi informasi. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu identik dengan kemajuan moral. Oleh karena itu, diperlukan integrasi antara penguasaan teknologi dan pendidikan karakter berbasis agama agar masyarakat mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Agama berperan sebagai landasan etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 56). Ayat tersebut menegaskan bahwa setiap aktivitas manusia, termasuk pengembangan teknologi, harus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan sosial. Dalam konsep maqashid syariah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya bertujuan menjaga agama (hifz ad-din), jiwa (hifz an-nafs), akal (hifz al-‘aql), keturunan (hifz an-nasl), dan harta (hifz al-mal).
Secara kritis, berbagai persoalan global seperti perubahan iklim, eksploitasi sumber daya alam, senjata otonom berbasis AI, dan penyalahgunaan data pribadi menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tanpa pengawasan etika dapat menimbulkan kerusakan yang luas. Oleh karena itu, nilai-nilai Islam seperti keadilan, tanggung jawab, amanah, dan kemaslahatan harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap inovasi teknologi.
Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 menuntut manusia untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi secara komprehensif. Namun, penguasaan tersebut harus dibarengi dengan penguatan nilai spiritual dan moral. Allah SWT berfirman: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Q.S. Al-Mujadilah [58]: 11). Ayat ini menunjukkan bahwa keimanan dan ilmu pengetahuan merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun peradaban yang maju. Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa dituntut tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga integritas moral dan tanggung jawab sosial.
Dalam realitas saat ini, kemajuan teknologi sering kali menyebabkan krisis etika, seperti kecanduan media sosial, menurunnya interaksi sosial, dan penyebaran konten yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Oleh karena itu, integrasi agama, ilmu pengetahuan, dan teknologi menjadi kebutuhan strategis untuk membentuk sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan berkarakter.
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa agama, ilmu pengetahuan, dan teknologi memiliki hubungan yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Agama berfungsi sebagai sumber nilai dan pedoman moral, ilmu pengetahuan menjadi sarana untuk memahami realitas dan hukum-hukum alam, sedangkan teknologi merupakan implementasi praktis dari ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia.
Dalam perspektif Islam, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian dari perintah agama yang bertujuan mewujudkan kemaslahatan umat manusia. Islam mendorong umatnya untuk mencari ilmu, melakukan penelitian, serta memanfaatkan teknologi secara bijaksana dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip syariat dan etika.
Peran agama dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat penting sebagai pengontrol moral agar kemajuan yang dicapai tidak menimbulkan kerusakan sosial, lingkungan, maupun kemanusiaan. Tantangan era digital, seperti penyalahgunaan teknologi, hoaks, cybercrime, dan krisis moral, menunjukkan bahwa kemajuan teknologi memerlukan fondasi etika yang kuat.
Oleh karena itu, integrasi agama, ilmu pengetahuan, dan teknologi menjadi kebutuhan mendasar dalam kehidupan modern. Integrasi tersebut akan menghasilkan manusia yang tidak hanya unggul secara intelektual dan profesional, tetapi juga memiliki karakter, tanggung jawab sosial, dan kesadaran spiritual sehingga mampu berkontribusi dalam membangun peradaban yang maju, adil, dan bermartabat.
Al-Qur’an Al-Karim.
Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. ISTAC.
Beekun, R. I. (1997). Islamic Business Ethics. International Institute of Islamic Thought.
Al-Nawawi. (2015). Riyadhus Shalihin. Darul Haq.
Budianto, M. R. R., Kurnia, S. F., & Galih, T. R. S. W. (2021). Perspektif Islam terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 21(1), 55–61. https://doi.org/10.32939/islamika.v21i01.776
Nasr, S. H. (2003). The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity. HarperCollins.
Rahman, F. (1982). Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. University of Chicago Press.
Saiful, S. (2023). Sistem pendidikan Islam, integrasi ilmu pengetahuan agama dan teknologi digital. JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6(2), 1100–1107. https://doi.org/10.54371/jiip.v6i2.1659
Shihab, M. Q. (2017). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati.
Sinaga, A. I., Darlis, A., Nst, A. H., Debataraja, C. S., & Witjaksana, M. (2022). Integrasi antara akidah dan ilmu pengetahuan dan teknologi: Perspektif Al-Qur’an. Ta’lim: Jurnal Studi Pendidikan Islam, 6(1). https://doi.org/10.52166/talim.v6i1.3654
Yedi, P. (2010). Islam mengutamakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jurnal Sosioteknologi.
Kontributor:Â Elfatu Rahman
Editor:Â M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.
Dilema Mahasiswa Muslim di Era Kecerdasan Buatan 1. PENDAHULUAN Perkembangan kecerdasan buatan (Arti...
Saatnya Kita Ngomongin Soal Etika 1. PENDAHULUAN Pernah nggak sih kamu ngeliat seseorang yang skilln...
Ketika Nilai Agama Jadi Fondasi Karier 1. PENDAHULUAN Bayangkan kamu baru saja lulus, dapat kerja pe...
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanyaan mengenai siapa manusia dan untuk apa manusia hidup meru...
Tinjauan Aksiolologis Hukum Islam/Kristen terhadap Penggunaan Artificial Intelligence dalam Pengambi...
Harmoni Nilai Ketuhanan dalam Dasar Negara Indonesia 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia mer...

1. PENDAHULUAN Lingkungan kampus dapat dianggap sebagai cerminan masyarakat yang mengumpulkan individu dari beragam&nbs...

1. PENDAHULUAN Latar Belakang Korupsi merupakan permasalahan sistemik yang berdampak luas terhadap berbagai sektor pembangunan, termasuk ekonomi...

1. PENDAHULUAN Latar Belakang Sektor kesehatan merupakan salah satu sektor vital yang berperan penting dalam menjamin kesejahteraan masyarakat. ...

1. PENDAHULUAN Coba ingat-ingat sebentar, dalam satu minggu terakhir, pernahkah kamu melihat postingan di media sosial yang menjelek-jelekkan ag...

PENDAHULUAN Dalam kehidupan sehari-hari, kecurangan sering dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan tidak terlalu serius, terutama ketika tujuann...

No comments yet.