Putri Febriani • Aug 26 2026 • 36 Dilihat

Kesehatan ibu dan anak itu penting untuk pembangunan kesehatan karena kondisi ibu dari masa kehamilan, persalinan, nifas, hingga perawatan anak sangat mempengaruhi kesejahteraan generasi mendatang. Permasalahan kesehatan ibu dan anak sering bersifat kompleks sehingga tidak dapat ditangani oleh satu profesi saja. Bidan, dokter, perawat, ahli gizi, apoteker, tenaga laboratorium, dan profesi kesehatan lainnya perlu bekerja secara terkoordinasi untuk memberikan pelayanan yang komprehensif. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menekankan pentingnya pelayanan yang terintegrasi dan berpusat pada individu, termasuk kerja sama multidisiplin dalam sistem pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Dalam perspektif Islam, kerja sama dapat dilandasi nilai ta‘āwun atau tolong-menolong dalam kebaikan. Salah satu landasan yang relevan adalah hadis Nabi Muhammad saw. yang mengibaratkan orang-orang beriman seperti satu tubuh. Hadis tersebut menggambarkan adanya kepedulian, solidaritas, dan keterhubungan antarbagian. Nilai ini relevan dengan kolaborasi interprofesional karena setiap tenaga kesehatan memiliki fungsi berbeda tetapi saling membutuhkan. Esai ini bertujuan menganalisis perumpamaan satu tubuh dalam hadis Nabi sebagai model etis dan konseptual bagi kolaborasi interprofesional dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak serta penerapannya dalam praktik kebidanan.
Kolaborasi interprofesional atau Interprofessional Collaboration (IPC) merupakan proses kerja sama antara dua atau lebih profesi kesehatan yang saling berkomunikasi, menghargai kompetensi masing-masing, dan mengambil tindakan secara terkoordinasi untuk mencapai tujuan pelayanan. Kolaborasi bukan berarti semua profesi menjalankan tugas yang sama, melainkan setiap anggota bekerja sesuai kompetensi dan kewenangannya. Dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak, bidan melakukan asuhan kebidanan, dokter menangani masalah medis sesuai tugasnya, perawat mendukung asuhan dan pemantauan, ahli gizi membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi, apoteker memastikan penggunaan obat secara tepat, dan tenaga laboratorium mendukung pemeriksaan diagnostik.
Pelayanan kesehatan ibu dan anak membutuhkan kerja sama tersebut karena kebutuhan pasien dapat berubah sepanjang kehamilan, persalinan, masa nifas, dan perawatan bayi. WHO menjelaskan bahwa jaringan pelayanan yang terhubung secara sengaja dapat mendorong kerja tim multidisiplin dan pelayanan yang komprehensif, adil, menghormati pasien, serta berkesinambungan. Kerja sama antarprofesi juga membantu mencegah pelayanan yang terfragmentasi dan memperkuat sistem rujukan ketika ibu atau bayi mengalami komplikasi.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Landasan Islam mengenai satu tubuh terdapat dalam QS. Al-Hujurat ayat 10: ’’Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat’’
Landasan utama pembahasan ini adalah hadis Nabi Muhammad saw.: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh turut merasakannya dengan tidak tidur dan demam” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menggambarkan bahwa anggota tubuh mempunyai fungsi yang berbeda, tetapi tetap berada dalam satu kesatuan. Ketika satu bagian mengalami gangguan, bagian lain memberikan respons. Menurut penjelasan Imam An-Nawawi, hadis ini menunjukkan pentingnya kasih sayang, kepedulian, dan saling membantu di antara sesama.
Dalam konteks kesehatan, perumpamaan satu tubuh dapat dijadikan model kolaborasi interprofesional. Setiap profesi ibarat organ dengan fungsi yang berbeda. Perbedaan tersebut bukan alasan untuk bekerja sendiri, melainkan menjadi kekuatan ketika seluruh profesi terhubung. Jika seorang ibu mengalami masalah gizi, misalnya, bidan tidak perlu menangani seluruh persoalan secara mandiri, tetapi dapat berkolaborasi dengan ahli gizi dan profesi lain sesuai kebutuhan. Demikian pula pada kehamilan atau persalinan berisiko, koordinasi antara bidan, dokter, perawat, tenaga laboratorium, dan profesi terkait menjadi penting. Kesatuan tujuan tidak menghapus batas kewenangan, tetapi menempatkan setiap profesi dalam hubungan yang saling melengkapi.
Menurut analisis penulis, nilai utama dari hadis tersebut adalah tanggung jawab bersama. Ketika satu bagian “tubuh pelayanan” mengalami masalah, bagian lain tidak boleh bersikap acuh. Kegagalan komunikasi, keterlambatan rujukan, atau kurangnya koordinasi dapat memengaruhi keselamatan pasien. Sebaliknya, komunikasi yang efektif, rasa saling menghormati, dan pemahaman terhadap peran profesi lain dapat memperkuat kualitas pelayanan. WHO juga menekankan bahwa kolaborasi yang saling menghormati diperlukan untuk mengatasi hierarki yang dapat menghambat komunikasi dan kerja tim.
Kajian ilmiah mendukung pentingnya pelayanan yang terintegrasi. WHO menempatkan kerja sama multidisiplin, kontinuitas pelayanan, dan koordinasi sebagai bagian penting dalam peningkatan kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak. Penelitian tentang kolaborasi lintas sektor juga menunjukkan bahwa kerja sama dapat membantu mengisi kesenjangan pelayanan dan menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan sistem kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan kesehatan yang kompleks membutuhkan keterhubungan antara tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan, keluarga, dan masyarakat.
Dalam praktik kebidanan, model satu tubuh dapat diterapkan sejak pelayanan antenatal. Bidan melakukan pengkajian dan pemantauan, kemudian berkolaborasi apabila ditemukan masalah yang memerlukan keahlian lain. Pada ibu dengan kebutuhan nutrisi khusus, bidan dapat bekerja sama dengan ahli gizi; pada kondisi yang membutuhkan terapi medis, dengan dokter dan apoteker; serta pada kasus yang membutuhkan pemeriksaan diagnostik, dengan tenaga laboratorium. Ketika ditemukan tanda bahaya atau komplikasi, komunikasi dan rujukan yang tepat menjadi bentuk tanggung jawab bersama terhadap keselamatan ibu dan bayi.
Kolaborasi berlanjut pada masa persalinan, nifas, dan perawatan bayi. Bidan dan anggota tim dapat bekerja sama dalam promosi ASI eksklusif, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, pencegahan masalah gizi, imunisasi, serta edukasi keluarga. Pelayanan yang berpusat pada pasien juga perlu melibatkan keluarga dan masyarakat karena dukungan di luar fasilitas kesehatan memengaruhi keberhasilan asuhan. WHO menyatakan bahwa keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan merupakan bagian penting dalam peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Penerapan kolaborasi interprofesional sebaiknya dimulai sejak pendidikan tenaga kesehatan. Mahasiswa kebidanan dan mahasiswa profesi lain dapat belajar melalui diskusi kasus, simulasi, dan praktik bersama agar memahami peran masing-masing. Difasilitas pelayanan, kolaborasi dapat diperkuat melalui konferensi kasus, komunikasi efektif, dokumentasi terintegrasi, serah terima yang jelas, dan evaluasi bersama. Dengan demikian, nilai hadis tentang satu tubuh tidak berhenti sebagai konsep moral, tetapi dapat diwujudkan dalam tindakan profesional yang berorientasi pada keselamatan dan kesejahteraan ibu dan anak.
Perumpamaan satu tubuh dalam hadis Nabi merupakan model yang relevan bagi kolaborasi interprofesional kesehatan ibu dan anak karena mengandung nilai kepedulian, solidaritas, komunikasi, tanggung jawab bersama, dan saling melengkapi. Setiap profesi kesehatan memiliki kompetensi berbeda, tetapi seluruhnya terhubung oleh tujuan yang sama, yaitu memberikan pelayanan berkualitas dan menjaga keselamatan ibu serta anak. Prinsip ta‘āwun dalam Al-Qur’an dan nilai kasih sayang dalam hadis dapat menjadi landasan etis bagi kolaborasi tersebut. Oleh karena itu, pendidikan dan fasilitas pelayanan kesehatan disarankan untuk memperkuat pembelajaran serta praktik interprofesional, meningkatkan komunikasi dan sistem rujukan, serta menumbuhkan budaya saling menghormati agar pelayanan kesehatan ibu dan anak dapat berjalan secara terintegrasi.
Daftar Pustaka
El-Awaisi, A., Yakti, O. H., Elboshra, A. M., Jasim, K. H., AboAlward, A. F., Shalfawi, R. W., Awaisu, A., Rainkie, D., Al Mutawa, N., & Major, S. (2024). Facilitators and barriers to interprofessional collaboration among health professionals in primary healthcare centers in Qatar: A qualitative exploration using the “Gears” model. BMC Primary Care, 25(1), 316. https://doi.org/10.1186/s12875-024-02537-8
Irajpour, A., Ghaljaei, F., & Alavi, M. (2015). Concept of collaboration from the Islamic perspective: The viewpoints for health providers. Journal of Religion and Health, 54(5), 1800–1809. https://doi.org/10.1007/s10943-014-9942-z
Putriana, Y., Risneni, R., Pranajaya, R., & Indrasari, N. (2024). The effectiveness of implementing interprofessional collaboration (IPC) in community health centers regarding exclusive breastfeeding on knowledge, attitudes of mothers and achievements of exclusive breastfeeding. JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati), 10(6), https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kebidanan
Susanti, D., Wulandari, H., Juaeriah, R., & Dewi, S. P. (2017). Penerapan interprofessional education (IPE) pada kelas ibu balita oleh mahasiswa tenaga kesehatan untuk meningkatkan sikap ibu terhadap kesehatan balita di Kota Cimahi. Jurnal Sistem Kesehatan, 3(2). https://jurnal.unpad.ac.id
Vasconcelos, J., Probst, L. F., da Silva, J. A. M., da Costa, M. V., Higashijima, M. N. S., dos Santos, M. L. M., de Souza, A. S., & De Carli, A. D. (2024). Factors associated with interprofessional collaboration in primary health care: A multilevel analysis. Ciência & Saúde Coletiva, 29(1), e10572022. https://doi.org/10.1590/1413-81232024291.10572022
World Health Organization. (2010). Framework for action on interprofessional education & collaborative practice. World Health Organization. WHO Framework for Action.
World Health Organization. (2016). Standards for improving quality of maternal and newborn care in health facilities. World Health Organization. WHO Standards for Maternal and Newborn Care.
Kontributor: Putri Febriani
Editor: Dani Habibi, M.Ag.
I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...
PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...
I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...
Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...
I. Pendahuluan Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...
I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

1. PENDAHULUAN Konflik nilai di lingkungan kampus merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan akademik modern. Keberagaman lat...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan permasalahan serius yang masih menjadi tantangan besar dalam tata kelola pemerintahan di berbagai negara, terma...

1. PENDAHULUAN Korupsi masih menjadi salah satu permasalahan serius yang dihadapi Indonesia hingga saat ini. Berbagai upaya telah dilakukan untu...

A. Pendahuluan Profesi bidan menempati posisi yang sangat khas dalam kehidupan manusia karena bersentuhan langsung dengan peristiwa paling menda...

Saatnya Kita Ngomongin Soal Etika 1. PENDAHULUAN Pernah nggak sih kamu ngeliat seseorang yang skillnya luar biasa, tapi kelakuannya bikin geleng...

No comments yet.