Aiga Maulany • Sep 02 2026 • 48 Dilihat

Interaksi akademik merupakan bagian penting dalam kehidupan mahasiswa karena proses pendidikan tidak hanya berlangsung melalui kegiatan belajar secara individual, tetapi juga melalui diskusi, kerja kelompok, organisasi, praktikum, dan kegiatan pembelajaran lainnya. Dalam proses tersebut, setiap individu memiliki latar belakang, kemampuan, karakter, dan cara berpikir yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat menjadi kekuatan apabila dikelola dengan komunikasi yang baik, saling menghargai, dan rasa tanggung jawab. Sebaliknya, komunikasi yang tidak sehat, sikap egois, kurangnya tanggung jawab, penyebaran informasi yang tidak benar, serta kebiasaan merendahkan orang lain dapat menimbulkan konflik dan menghambat pencapaian tujuan bersama. Oleh karena itu, diperlukan landasan etika yang dapat membimbing anggota kelompok dalam berinteraksi secara sehat. Dalam perspektif Islam, etika interaksi tidak hanya berkaitan dengan tata krama sosial, tetapi juga merupakan bagian dari akhlak dan tanggung jawab seorang Muslim kepada Allah Swt. dan kepada sesama manusia.
Etika interaksi akademik Islami dapat menjadi fondasi dalam membangun budaya kerja tim yang sehat karena Islam mengajarkan amanah, kejujuran, keadilan, tabayyun, musyawarah, tolong-menolong dalam kebaikan, serta menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan dunia pendidikan dan pelayanan kesehatan, termasuk kebidanan.
Etika interaksi akademik Islami dapat dipahami sebagai seperangkat nilai dan perilaku dalam berkomunikasi, belajar, berdiskusi, dan bekerja sama yang berlandaskan ajaran Islam. Etika tersebut mencakup hubungan manusia dengan Allah Swt. sekaligus hubungan manusia dengan sesama. Dalam konteks akademik, etika Islami berarti menjalankan aktivitas pendidikan dengan niat yang baik, jujur dalam memperoleh dan menyampaikan ilmu, bertanggung jawab terhadap tugas, menghormati dosen dan teman, serta menghindari perilaku yang merugikan orang lain. Dengan demikian, keberhasilan akademik tidak semata-mata diukur dari nilai yang diperoleh, tetapi juga dari proses yang ditempuh untuk memperoleh nilai tersebut. Menyontek, melakukan plagiarisme, mengambil hasil kerja orang lain, menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, ataupun membebankan tugas kepada anggota kelompok merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip etika Islam.
Salah satu dasar utama etika kerja adalah amanah. Allah Swt. berfirman dalam QS. An-Nisa’ ayat 58:
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا
Artinya: “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Menurut Ibnu Katsir, perintah menunaikan amanah dalam ayat tersebut memiliki cakupan yang luas, termasuk amanah yang berkaitan dengan hak Allah dan hak sesama manusia (Ibnu Katsir, n.d.). Amanah bukan hanya berupa barang yang dititipkan, tetapi juga segala tanggung jawab yang diberikan kepada seseorang. Dalam konteks kerja kelompok, amanah dapat diwujudkan dengan mengerjakan bagian tugas yang telah disepakati, mengumpulkan pekerjaan tepat waktu, tidak memanipulasi data, dan tidak mengklaim pekerjaan anggota lain sebagai hasil pribadi.
Selain amanah, Islam mengajarkan pentingnya bekerja sama dalam kebaikan. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak hanya menganjurkan kerja sama, tetapi juga memberikan batas mengenai tujuan kerja sama. Kerja sama harus diarahkan pada kebaikan dan tidak digunakan untuk menutupi kesalahan atau melakukan tindakan yang merugikan.
Prinsip kerja sama tersebut diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»,
Artinya: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan; sebagian menguatkan sebagian yang lain.” Nabi saw. kemudian merapatkan jari-jari kedua tangannya sebagai ilustrasi hubungan tersebut. (Al-Bukhari, n.d.).
Hadis ini memberikan gambaran bahwa anggota kelompok seharusnya saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Dalam kerja tim, keberhasilan satu anggota seharusnya dipandang sebagai bagian dari keberhasilan bersama. Apabila seorang anggota mengalami kesulitan, anggota lainnya dapat memberikan dukungan sesuai kemampuan. Dalam pelayanan kebidanan, prinsip ini sangat penting karena pelayanan kesehatan tidak dilakukan oleh satu profesi secara terpisah. Bidan perlu berkomunikasi dan berkolaborasi dengan dokter, perawat, tenaga laboratorium, ahli gizi, serta tenaga kesehatan lainnya sesuai kebutuhan pasien.
Al-Qur’an melarang prasangka berlebihan, mencari-cari kesalahan, dan ghibah. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 12:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌۭ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًۭا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌۭ رَّحِيمٌۭ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini melarang prasangka yang tidak memiliki dasar dan mendorong seorang Muslim untuk tidak menuduh atau mencurigai orang lain tanpa alasan yang benar (Ibnu Katsir, n.d.). Dalam kehidupan kelompok, prasangka dapat muncul ketika seorang anggota terlambat mengumpulkan tugas, tidak hadir dalam diskusi, atau memberikan pendapat yang berbeda. Daripada langsung menganggap anggota tersebut tidak bertanggung jawab, anggota kelompok sebaiknya mencari penjelasan terlebih dahulu. Sikap tersebut dapat mencegah konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Musyawarah juga menjadi prinsip penting dalam budaya kerja tim Islami. Allah Swt. berfirman dalam QS. Asy-Syura ayat 38:
وَٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَ
Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
Menurut tafsir As-Sa’di, musyawarah menunjukkan bahwa seseorang tidak semestinya memaksakan pendapatnya sendiri dalam urusan bersama (As-Sa’di, n.d.). Musyawarah dilakukan dengan berkumpul, bertukar pandangan, dan mencari pilihan yang paling membawa kemaslahatan. Musyawarah juga mengajarkan bahwa perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan pertentangan. Yang lebih penting adalah mencari keputusan yang paling baik berdasarkan tujuan bersama dan bukti yang tersedia.
Secara ilmiah, nilai-nilai tersebut sejalan dengan prinsip kerja tim dan pelayanan kesehatan modern. International Confederation of Midwives (ICM) menempatkan komunikasi interpersonal yang efektif, kemampuan bekerja dalam tim, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, pengambilan keputusan bersama, serta kemampuan mengelola ketegangan dan konflik secara konstruktif sebagai bagian dari kompetensi penting praktik kebidanan. ICM juga menekankan komunikasi yang terbuka, jujur, jelas, dan tepat waktu serta penghormatan terhadap sudut pandang anggota tim lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai etika Islami seperti amanah, musyawarah, dan menghargai orang lain memiliki kesesuaian yang kuat dengan kompetensi profesional kebidanan.
Hubungan antara etika Islami dan pelayanan kebidanan juga terlihat dalam konsep respectful maternity care. WHO menempatkan penghormatan dan martabat sebagai bagian penting dari pelayanan maternitas yang berkualitas serta terus mengembangkan pendekatan pelayanan yang menghormati perempuan dan bayi. Nilai tersebut memiliki titik temu dengan ajaran Islam yang menekankan penghormatan terhadap manusia, keadilan, kelembutan, amanah, dan larangan menyakiti sesama. Karena itu, pembentukan budaya kerja tim yang sehat sejak masa pendidikan sangat penting bagi mahasiswa kebidanan
Demikian, etika interaksi akademik Islami tidak seharusnya dipahami hanya sebagai aturan sopan santun dalam pergaulan. Etika tersebut merupakan sistem nilai yang membentuk karakter dan perilaku seseorang dalam menjalankan tanggung jawabnya. Amanah membangun kepercayaan, kejujuran menjaga integritas akademik, sedangkan komunikasi yang baik dan kelembutan mencegah konflik. Jika nilai-nilai tersebut diterapkan secara konsisten, budaya kerja tim akan berkembang menjadi budaya yang saling mendukung, terbuka, adil, dan bertanggung jawab.
Etika interaksi akademik Islami merupakan fondasi penting dalam membangun budaya kerja tim yang sehat karena mengajarkan nilai amanah, kejujuran, keadilan, kerja sama, tabayyun, musyawarah, menjaga lisan, serta sikap lemah lembut. Al-Qur’an dan hadis memberikan pedoman yang jelas agar manusia membangun hubungan berdasarkan tanggung jawab, saling menghormati, dan kebaikan bersama. Nilai-nilai tersebut memiliki keterkaitan yang kuat dengan prinsip profesionalisme dalam kebidanan, terutama dalam komunikasi efektif, kolaborasi interprofesional, penghormatan terhadap martabat perempuan, kerahasiaan informasi, dan pelayanan yang berpusat pada pasien. Oleh sebab itu, penerapan etika Islami perlu dibiasakan sejak lingkungan akademik agar mahasiswa kebidanan mampu membentuk karakter profesional yang bertanggung jawab dan mampu bekerja sama secara harmonis. Budaya kerja tim yang sehat pada akhirnya bukan hanya mendukung keberhasilan akademik, tetapi juga menjadi bekal penting untuk memberikan pelayanan kebidanan yang aman, bermutu, penuh empati, dan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan serta ajaran Islam.
Al-Bukhari, M. I. (n.d.). Sahih al-Bukhari 6026–6027. Sunnah.com.
Al-Ghazali, A. H. M. (1998). Ihya’ ‘ulum al-din (Vol. 3). Dar Mishr li al-Thiba’ah.
As-Sa’di, A. bin N. (n.d.). Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan.
Ibnu Katsir. (n.d.). Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim.
International Confederation of Midwives. (2024). Essential competencies for midwifery practice.
International Confederation of Midwives. (2026). International Code of Ethics for Midwives.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (n.d.). Al-Qur’an dan terjemahannya.
Muslim, I. H. (n.d.). Sahih Muslim 2594.
Muslim, I. H. (n.d.). Sahih Muslim 47a. Sunnah.com.
World Health Organization. (2018). WHO recommendations: Intrapartum care for a positive childbirth experience. World Health Organization.
World Health Organization. (2024). Transitioning to midwifery models of care: Global position paper. World Health Organization.
World Health Organization. (2025). Compendium on respectful maternal and newborn care. World Health Organization.
Kontributor: Aiga Maulany
Editor: Ahmad Ali, M.Pd.
I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...
PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...
I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...
Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...
I. Pendahuluan Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...
I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

1. PENDAHULUAN Latar Belakang Integritas akademik merupakan salah satu pilar utama dalam sistem pendidikan tinggi yang berkualitas. Nilai-nilai ...

1. PENDAHULUAN Agama merupakan pedoman hidup yang komprehensif, mengatur hubungan vertikal manusia dengan Sang Pencipta (Allah Swt.) sekaligus h...

I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan merupakan bidang yang berhubungan langsung dengan kehidupan, kesehatan, keselamatan, dan martabat manusia. Ol...

Menyelaraskan Tren Digital dengan Nilai Agama dan Karakter Bangsa PENDAHULUAN Di sebuah kafe kekinian, sekumpulan anak muda duduk dalam satu mej...

Harmoni Nilai Ketuhanan dalam Dasar Negara Indonesia 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat keberaga...

No comments yet.