Amelia Salma Putri • Sep 04 2026 • 55 Dilihat

Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang menjadi perhatian karena dapat berlangsung dalam waktu lama, menurunkan kualitas hidup, dan menyebabkan kematian. Penyakit kardiovaskuler, kanker, penyakit pernapasan kronis, dan diabetes merupakan kelompok PTM utama. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa PTM menyebabkan sedikitnya 43 juta kematian pada tahun 2021 atau sekitar 75% dari kematian global yang tidak berkaitan dengan pandemi. Faktor risikonya banyak berhubungan dengan perilaku, seperti penggunaan tembakau, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, serta faktor metabolik berupa tekanan darah tinggi, obesitas, gula darah tinggi, dan kadar lemak darah yang tidak normal (World Health Organization [WHO], 2025).
Besarnya masalah PTM menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada pengobatan setelah seseorang sakit. Pencegahan dan deteksi dini perlu dilakukan sejak seseorang masih sehat atau baru memiliki faktor risiko. Dalam kondisi tersebut, perawat memiliki posisi penting karena berinteraksi langsung dengan individu, keluarga, dam masyarakat. Perawat tidak hanya memberikan pelayanan ketika penyakit sudah terjadi, tetapi juga dapat membantu masyarakat mengenali faktor risiko, membangun kebiasaan sehat, dan memanfaatkan pelayanan kesehatan secara tepat. Oleh karena itu, esai ini membahas peran perawat dalam program nasional pencegahan PTM dengan menghubungkannya dengan bukti ilmiah, kebijakan kesehatan, nilai-nilai Islam, serta penerapannya dalam praktik keperawatan.
PTM pada dasarnya tidak munculnya hanya karena satu penyebab. Kondisi tersebut merupakan hasil interaksi berbagai faktor, termasuk faktor genetik, lingkungan, fisiologis, dan perilaku. WHO menjelaskan bahwa penggunaan tembakau, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, dan penggunaan alkohol yang berbahaya dapat meningkatkan risiko PTM. Faktor perilaku tersebut kemudian dapat berhubungan dengan peningkatan tekanan darah, berat badan, gula daah, dan kadar kolesterol. Karena sebagian faktor risiko dapat diubah, pencegahan PTM perlu diarahkan pada perubahan perilaku sekaligus deteksi dan pengendalian faktor risiko secara teratur.
Upaya tersebut sejalan dengan program kesehatan di Indonesia, salah satunya perilaku CERDIK, yaitu cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pencegahan PTM tidak hanya dilakukan melalui tindakan medis, tetapi juga melalui perubahan kebiasaan sehari-hari. Selain itu, pemerintah telah menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2026 tentang Penanggulangan Penyakit yang secara khusus mencakup penanggulangan PTM, partisipasi masyarakat, pencatatan dan pelaporan, serta pembinaan dan pengawasan. Dengan demikian, pencegahan PTM merupakan bagian dari upaya kesehatan yang membutuhkan keterlibatan tenaga kesehatan dan masyarakat.
Dalam pelaksanaan program tersebut, perawat dapat berperan sebagai edukator, pemberi pelayanan, pelaksana deteksi dini, konselor, pemantau, dan pendamping. Peran tersebut penting karena masyarakat tidak selalu mampu menerjemahkan informasi kesehatan menjadi tindakan nyata. Misalnya, seseorang mungkin mengetahui bahwa tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, tetapi belum tentu memahami apa yang harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah perawat dapat membantu menghubungkan informasi kesehatan dengan tindakan yang realistis sesuai kondisi individu.
Perawat dapat melakukan pengkajian terhadap faktor risiko sesuai kompetensi dan kewenangannya, misalnya dengan mengukur tekanan darah, berat badan, tinggi badan, dan lingkar perut. Hasil pemeriksaan tidak seharusnya hanya dicatat, tetapi juga dijelaskan kepada masyarakat. Apabila ditemukan hasil yang berisiko, perawat dapat memberikan edukasi, melakukan pemantauan, dan menganjurkan pemeriksaan lanjutan sesuai kebutuhan. Pendekatan tersebut membuat kegiatan deteksi dini memiliki manfaat yang lebih besar karena masyarakat tidak hanya mengetahui hasil pemeriksaan, tetapi juga memahami langkah yang dapat dilakukan setelahnya.
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa peran perawat dalam pencegahan dan pengelolaan PTM memiliki dasar yang kuat. Gomez del Pulgar et al. (2022) melakukan systematic review terhadap intervensi keperawatan untuk pasien PTM. Penelitian tersebut menemukan bahwa intervensi perawat berupa kunjungan rumah, perawatan di rumah, serta pendidikan kesehatan individu dan kelompok dapat membantu meningkatkan gaya hidup sehat dan kualitas hidup pasien. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa edukasi keperawatan bukan sekadar kegiatan menyampaikan informasi, tetapi dapat menjadi bagian dari intervensi yang mendukung perubahan perilaku.
Penelitian Lekuwich et al. (2022) juga memberikan gambaran bahwa intervensi yang dipimpin perawat dalam pelayanan primer berkaitan dengan perbaikan berbagai hasil kesehatan, termasuk tekanan darah, pengendalian gula darah, aktivitas fisik, pola makan, dan pengurangan penggunaan tembakau. Pasien juga menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi terhadap pelayanan yang melibatkan perawat. Berdasarkan temuan tersebut, perawat mempunyai peluang besar untuk memperkuat pencegahan PTM karena pelayanan keperawatan dapat menyentuh aspek klinis sekaligus perilaku pasien.
Dalam perspektif Islam, upaya menjaga kesehatan juga dapat dikaitkan dengan ajaran untuk tidak berlebihan dalam makan dan minum. Allah Swt. Berfirman dalam QS. Al-A`raf ayat 31:
ٰبَنِىۡۤ اٰدَمَ خُذُوۡا زِيۡنَتَكُمۡ عِنۡدَ كُلِّ مَسۡجِدٍ وَّكُلُوۡا وَاشۡرَبُوۡا وَلَا تُسۡرِفُوۡا ۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الۡمُسۡرِفِيۡن
Artinya: “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A`raf: 31).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak melarang manusia menikmati makanan dan minuman, tetapi memberikan batas agar tidak berlebihan. Jika dikaitkan dengan pencegahan PTM, prinsip tersebut relevan dengan upaya menjaga pola makan. Namun, menurut analisis penulis, ayat ini tidak seharusnya digunakan untuk menyimpulkan bahwa semua PTM disebabkan oleh pola makan berlebihan. PTM memiliki banyak faktor penyebab, sehingga nilai agama perlu ditempatkan sebagai landasan perilaku dan moral, sedangkan penjelasan mengenai risiko kesehatan. Dengan cara tersebut, integrasi agama dan ilmu keperawatan dapat dilakukan secara seimbang.
Rasulullah saw. juga mengajarkan pentingnya mengambil tindakan yang bermanfaat. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda:
لْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِز
Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu merasa lemah.” (HR. Muslim No. 2664).
Hadis tersebut dapat dipahami sebagai dorongan untuk mengambil langkah yang bermanfaat dan tidak pasif menghadapi kondisi kehidupan. Dalam konteks pencegahan PTM, menjaga kesehatan dapat menjadi salah satu bentuk ikhtiar. Perawat dapat membantu pasien memahami bahwa pemeriksaan kesehatan, aktivitas fisik, pola makan yang sesuai, pengelolaan stres, dan mengikuti pengobatan ketika diperlukan merupakan bentuk usaha untuk menjaga kesehatan. Dengan demikian, nilai agama dapat memperkuat motivasi pasien tanpa menggantikan dasar ilmiah dalam pelayanan kesehatan.
Menurut analisis penulis, tantangan terbesar dalam pencegahan PTM bukan hanya kurangnya pengetahuan, tetapi juga kesulitan mengubah kebiasaan. Karena itu, perawat sebaiknya tidak hanya memberikan nasihat secara umum. Edukasi perlu disesuaikan dengan kondisi, kebiasaan, kemampuan, dan hambatan setiap pasien. Misalnya, kepada seseorang yang memiliki kebiasaan merokok, perawat dapat membantu mengidentifikasi alasan dan situasi yang membuat pasien sulit mengurangi atau menghentikan kebiasaan tersebut, kemudian memberikan dukungan dan pemantauan secara bertahap. Kepada pasien diabetes, perawat dapat membantu memahami hubungan antara pola makan, aktivitas fisik, pemeriksaan gula darah, pengobatan, dan risiko komplikasi. Pendekatan yang berpusat pada pasien membuat edukasi lebih realistis dibandingkan hanya memberikan larangan.
Penerapan peran tersebut dapat dilakukan di puskesmas, Posbindu PTM, keluarga, sekolah, kampus, maupun komunitas. Sebagai contoh, dalam kegiatan Posbindu PTM, perawat dapat membantu melakukan pemeriksaan faktor risiko, menjelaskan hasilnya, memberikan edukasi, dan menentukan apakah seseorang perlu mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Pada masyarakat yang memiliki tekanan darah tinggi, perawat dapat memberikan edukasi mengenai pembatasan konsumsi garam, aktivtas fisik, pemeriksaan rutin, dan kepatuhan terhadap anjuran tenaga kesehatan. Pada pasien diabetes, perawat dapat memberikan pendidikan mengenai perawatan diri dan pemantauan kondisi. Pada masyarakat yang ingin berhenti merokok, perawat dapat memberikan dukungan perilaku dan melakukan pemantauan perkembangan pasien. Pelaksanaan tersebut tetap harus dilakukan sesuai kompetensi, kewenangan, dan prosedur pelayanan kesehatan.
Gagasan yang menurut penulis penting untuk diperkuat adalah menjadikan perawat sebagai penghubung antara program nasional, ilmu kesehatan, keluarga, dan nilai kehidupan pasien. Program nasional akan sulit memberikan hasil maksimal apabila masyarakat hanya menjadi penerima informasi. Perawat dapat membantu menerjemahkan program seperti CERDIK menjadi tindakan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pada pasien muslim, misalnya, edukasi mengenai pola hidup sehat dapat disampaikan dengan mempertimbangkan nilai agama yang diyakini pasien, selama tetap berdasarkan bukti ilmiah. Pendekatan ini dapat membuat pencegahan PTM menjadi lebih personal, bukan sekadar menjalankan program secara administratif.
Selain itu, pencegahan PTM membutuhkan kerja sama lintas profesi. Perawat tidak bekerja sendiri, tetapi dapat berkolaborasi dengan dokter, ahli gizi, tenaga kesehatan masyarakat, kader, keluarga, dan pihak terkait lainnya. Peran perawat menjadi penting dalam menjaga kesinambungan antara pemeriksaan, edukasi, pemantauan, dan tindak lanjut. Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah masyarakat yang diperiksa, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memahami hasil pemeriksaan dan melakukan perubahan perilaku yang sesuai.
Penyakit tidak menular membutuhkan pencegahan yang dilakukan secara berkelanjutan karena sebagian besar faktor risikonya berkaitan dengan perilaku dan kondisi kesehatan yang dapat dikendalikan. Program nasional seperti CERDIK dan kebijakan penanggulangan penyakit memberikan dasar bagi pelaksanaannya pencegahan PTM di masyarakat. Dalam pelaksanannya, perawat memiliki peran strategis sebagai edukator, pelaksana deteksi dini, konselor, pendamping, dan penghubung antara program kesehatan dengan kebutuhan masyarakat. Bukti penelitian menunjukkan bahwa intervensi perawat dalam pelayanan primer dapat mendukung perubahan perilaku dan berbagai hasil kesehatan. Nilai Islam melalui QS. Al-A`raf ayat 31 dan hadis riwayat Muslim juga dapat memperkuat kesadaran untuk menjaga kesehatan dan melakukan hal yang bermanfaat. Oleh karena itu, pencegahan PTM sebaiknyaa tidak hanya berorientasi pada pemeriksaan, tetapi juga pada pendampingan perubahan perilaku yang berkelanjutan, sesual kebutuhan pasien, berbasis bukti ilmiah, dan tetap menghargai nilai yang diyakini masyarakat.
Gomez del Pulgar, M., Cuevas-Budhart, M. A., Hernandez-Iglesias, S., Kappes, M., Riquelme Contreras, V. A., Rodriguez-Lopez, E., De Almeida Souza, A. M., Gonzalez Jurado, M. A., & Crespo Canizares, A. (2022). Best nursing intervention practices to prevent non-communicable disease: A systematic review. Public Health Reviews, 43, 1604429. https://doi.org/10.3389/phrs.2022.1604429
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2026 tentang Penanggulangan Penyakit. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Lukewich, J., Martin-Misener, R., Norful, A. A., Poitras, M. E., Bryant-Lukosius, D., Asghari, S., Marshall, E. G., Mathews, M., Swab, M., Ryan, D., & Tranmer, J. (2022). Effectiveness of registered nurses on patient outcomes in primary care: A systematic review. BMC Health Services Research, 22, 740. https://doi.org/10.1186/s12913-022-07866-x
Lukewich, J., Asghari, S., Marshall, E. G., Mathews, M., Swab, M., Tranmer, J., Bryant-Lukosius, D., Martin-Misener, R., Norful, A. A., Ryan, D., & Poitras, M. E. (2022). Effectiveness of registered nurses on system outcomes in primary care: A systematic review. BMC Health Services Research, 22, 440. https://doi.org/10.1186/s12913-022-07662-7
World Health Organization. (2025). Noncommunicable diseases. World Health Organization.
Kontributor: Amelia Salma Putri
Editor: Ahmad Ali, M.Pd.
I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...
PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...
I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...
Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...
I. Pendahuluan Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...
I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

1. PENDAHULUAN Sepanjang sejarah peradaban manusia, tidak ada masyarakat yang ditemukan hidup sepenuhnya tanpa dimensi religius. Sejak penemuan ...

PENDAHULUAN Indonesia berdiri di atas fondasi keberagaman yang luar biasa. Kemajemukan suku, budaya, bahasa, dan agama bukanlah sebuah kebetulan...

PENDAHULUAN Korupsi bukan sekadar tindak pidana biasanya adalah persoalan yang telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa secara perlaha...

1. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa peradaban manusia ke dalam era disrupsi digital yang masif. Ruang s...

PENDAHULUAN Ma’rifatullah merupakan proses mengenal Allah SWT melalui pemahaman, penghayatan, dan perenungan terhadap kebesaran serta kekuasaa...

No comments yet.