Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • 5 Karakteristik Akhlak Islam

    • Sep 06 2026 • 71 Dilihat

    I. PENDAHULUAN

    Akhlak menempati kedudukan sentral dalam ajaran Islam karena ia merupakan buah dari keimanan dan ibadah seorang muslim. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah melalui akidah dan syariat, tetapi juga membimbing perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari melalui akhlak. Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa misi utama kerasulannya adalah menyempurnakan akhlak manusia, sebagaimana akan diuraikan lebih lanjut dalam esai ini. Fenomena degradasi moral yang terjadi di tengah masyarakat modern, mulai dari krisis kejujuran, hilangnya rasa hormat antarindividu, hingga rendahnya empati dalam interaksi sosial dan profesional, menunjukkan betapa pentingnya pemahaman yang utuh tentang akhlak islamiyah sebagai pedoman hidup.

    Akhlak islamiyah memiliki karakteristik khas yang membedakannya dari sistem etika buatan manusia lainnya. Karakteristik ini menjadikan akhlak Islam bersifat kokoh, universal, dan aplikatif dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk dalam praktik profesi seperti pelayanan kebidanan. Esai ini bertujuan untuk menguraikan lima karakteristik akhlak islamiyah, yaitu rabbaniyah, insaniyah, syumuliyah, tawazun (keseimbangan), dan waqi’iyyah (realistis), disertai ilustrasi konkret penerapannya dalam praktik kebidanan profesional dan bermartabat.

    II. PEMBAHASAN

    Akhlak islamiyah memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dari sistem etika lain. Thohir (2007) menegaskan bahwa keunikan konsep akhlak Islam terletak pada landasan wahyu serta keterpaduannya dengan seluruh dimensi kehidupan manusia, sementara Bafadhol (2017) menekankan bahwa penguatan pendidikan akhlak menjadi kunci pembentukan karakter mulia dalam masyarakat. Berikut diuraikan lima karakteristik tersebut beserta ilustrasi penerapannya dalam praktik kebidanan.

    Karakteristik pertama akhlak islamiyah adalah rabbaniyah, yaitu bersumber langsung dari wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan hasil rekayasa akal atau adat istiadat manusia semata. Sifat rabbaniyah ini menjadikan standar baik dan buruk dalam Islam bersifat tetap dan tidak berubah mengikuti selera zaman. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Qalam ayat 4 tentang keagungan akhlak Rasulullah:

    وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

    “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam [68]: 4) (Kementerian Agama RI, 2019).

    Ayat ini menegaskan bahwa akhlak mulia Rasulullah merupakan cerminan dari nilai-nilai yang diwahyukan Allah, sehingga menjadi teladan abadi bagi seluruh umat manusia. Karena bersumber dari wahyu, akhlak rabbaniyah memberikan motivasi ibadah dalam setiap perilaku baik, sekaligus rasa tanggung jawab kepada Allah, bukan sekadar kepada manusia atau institusi. Dalam praktik kebidanan, sifat rabbaniyah ini tercermin misalnya ketika seorang bidan tetap mencatat hasil pemeriksaan pasien secara jujur apa adanya dalam partograf, sekalipun tidak ada pengawas yang melihat dan sekalipun hasil tersebut berpotensi membuatnya terlihat kurang cermat di mata atasan. Kesadaran bahwa setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, bukan sekadar di hadapan institusi, mendorong bidan untuk konsisten berlaku jujur bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.

    Karakteristik kedua adalah insaniyah, yaitu akhlak islamiyah yang sejalan dengan fitrah kemanusiaan yang suci. Islam tidak membebani manusia dengan aturan yang bertentangan dengan naluri dasarnya, melainkan mengarahkan fitrah tersebut kepada kebaikan. Nata (2015) menjelaskan bahwa akhlak Islam senantiasa memuliakan martabat manusia tanpa memandang status sosial, sehingga nilai-nilai seperti kasih sayang, kejujuran, dan keadilan berlaku universal bagi siapa pun. Sebagai ilustrasi konkret, karakteristik ini tampak ketika seorang bidan memberikan pelayanan yang sama telitinya, baik kepada pasien pengguna BPJS dengan kondisi ekonomi terbatas maupun kepada pasien umum, tanpa membedakan intensitas perhatian, kesabaran, atau kualitas komunikasi berdasarkan status sosial-ekonomi pasien tersebut.

    Karakteristik ketiga adalah syumuliyah atau menyeluruh, artinya akhlak islamiyah mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari hubungan dengan Allah, sesama manusia, hingga lingkungan alam. Tidak ada satu pun ranah kehidupan, baik pribadi, keluarga, sosial, maupun profesi, yang luput dari bimbingan akhlak Islam. Ilyas (2016) menyebutkan bahwa keluasan cakupan inilah yang membuat akhlak Islam berbeda dari etika sekuler yang cenderung membatasi diri pada ranah tertentu saja, misalnya hanya pada etika profesi tanpa menyentuh dimensi spiritual. Contoh nyatanya, seorang bidan yang menerapkan syumuliyah tidak hanya bersikap ramah saat berhadapan langsung dengan pasien, tetapi juga jujur saat serah terima jaga (shift) kepada rekan sejawat, sabar ketika menghadapi keluarga pasien yang cemas menunggu di luar ruang bersalin, serta aktif berkontribusi pada kegiatan kesehatan masyarakat seperti posyandu dan penyuluhan di lingkungan tempat tinggalnya.

    Karakteristik keempat adalah tawazun, yaitu keseimbangan atau moderasi (wasathiyah). Akhlak islamiyah tidak mengenal sikap ekstrem, baik yang berlebihan (ifrath) maupun yang meremehkan (tafrith). Keseimbangan ini tampak dalam bagaimana Islam menuntun manusia untuk tegas terhadap kesalahan namun tetap lembut dan penuh empati terhadap pelakunya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

    “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Hadis ini diriwayatkan antara lain oleh Imam Malik dalam Al-Muwatta’ dan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, sebagaimana dikutip dalam Al-Asqalani (2000).

    Hadis ini menunjukkan bahwa kesempurnaan akhlak menjadi tujuan risalah kenabian, yang di dalamnya terkandung prinsip keseimbangan antara hak dan kewajiban, antara ketegasan dan kasih sayang. Sebagai contoh, ketika seorang bidan mendapati tanda gawat janin pada pasien primigravida yang hendak melahirkan, sikap tawazun tampak dari kemampuannya mengambil keputusan klinis secara cepat dan tegas untuk merujuk ke fasilitas dengan kapasitas operasi sesar, sekaligus tetap menenangkan pasien dan keluarganya agar tidak panik selama proses rujukan berlangsung.

    Karakteristik kelima adalah waqi’iyyah, yaitu realistis dan aplikatif dalam kehidupan nyata. Akhlak islamiyah bukan sekadar konsep ideal yang bersifat teoretis, melainkan tuntunan yang dapat diterapkan langsung oleh manusia dengan segala keterbatasannya. Islam memahami kondisi manusia yang tidak sempurna, sehingga menyediakan ruang bagi taubat dan perbaikan diri secara bertahap. Sifat realistis ini relevan dengan implementasi akhlak dalam praktik profesi kebidanan, misalnya dalam bentuk kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) yang dilandasi kejujuran, ketelitian, dan tanggung jawab, sebagaimana ditegaskan dalam kode etik profesi bidan (Ikatan Bidan Indonesia, 2021). Anastasya dan Gurning (2023) juga menemukan bahwa kepatuhan terhadap prosedur pelayanan turut menentukan mutu dan tingkat kepuasan pasien terhadap layanan kesehatan. Sebagai ilustrasi, ketika seorang bidan di fasilitas dengan keterbatasan alat menyadari adanya kekeliruan kecil dalam pencatatan rekam medis akibat situasi darurat yang mendesak, sikap waqi’iyyah mendorongnya untuk segera melaporkan dan memperbaiki kekeliruan tersebut secara jujur, alih-alih menutupinya demi menjaga citra pribadi—mencerminkan pemahaman bahwa manusia tidak sempurna namun tetap dituntut untuk terus memperbaiki diri.

    Kelima karakteristik tersebut, yakni rabbaniyah, insaniyah, syumuliyah, tawazun, dan waqi’iyyah, saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan sistem akhlak yang utuh. Seorang tenaga kesehatan, khususnya bidan, yang menginternalisasi kelima karakteristik ini akan mampu memberikan pelayanan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga sarat nilai spiritual dan kemanusiaan, sehingga tercipta pelayanan kebidanan yang holistik, beretika, dan bermartabat.

    III. PENUTUP

    Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa akhlak islamiyah memiliki lima karakteristik utama, yaitu rabbaniyah karena bersumber dari wahyu Allah, insaniyah karena sejalan dengan fitrah kemanusiaan, syumuliyah karena mencakup seluruh aspek kehidupan, tawazun karena mengedepankan keseimbangan, dan waqi’iyyah karena bersifat realistis serta dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Kelima karakteristik ini menjadikan akhlak Islam sebagai pedoman hidup yang kokoh sekaligus fleksibel dalam menjawab tantangan zaman. Dalam konteks profesi kebidanan, internalisasi kelima karakteristik tersebut, sebagaimana diilustrasikan melalui berbagai contoh praktik di atas, sangat penting agar pelayanan yang diberikan tidak hanya berorientasi pada aspek klinis, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kejujuran, empati, dan tanggung jawab moral. Oleh karena itu, disarankan agar penguatan akhlak islamiyah terus diintegrasikan dalam pendidikan dan praktik profesi kesehatan, sehingga terwujud tenaga kesehatan yang tidak hanya profesional, tetapi juga berakhlak mulia.

    DAFTAR PUSTAKA

    Al-Asqalani, I. H. (2000). Bulughul Maram min Adillatil Ahkam. Dar Ibn Hazm. https://archive.org/details/in.ernet.dli.2015.398943

    Anastasya, R., & Gurning, F. P. (2023). Analisis mutu pelayanan kesehatan menggunakan metode Servperf dan IPA. TROPHICO: Tropical Public Health Journal, 3(2), 105–111. https://talenta.usu.ac.id/trophico/article/view/13234

    Bafadhol, I. (2017). Pendidikan akhlak dalam perspektif Islam. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 6(12). http://jurnal.staialhidayahbogor.ac.id/index.php/ei/article/view/178

    Ikatan Bidan Indonesia. (2021). Kode etik bidan Indonesia. Pengurus Pusat IBI. https://ikatanbidanindonesia.org/unduh/

    Ilyas, Y. (2016). Kuliah akhlaq. LPPI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. https://www.suaramuhammadiyah.or.id/products/detail/kuliah-akhlaq-909

    Al-Qur’an dan terjemahnya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. https://quran.nu.or.id/al-qalam

    Nata, A. (2015). Akhlak tasawuf dan karakter mulia. Rajawali Pers. https://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=968660

    Thohir, M. (2007). Kajian Islam tentang akhlak dan karakteristiknya. Mimbar: Jurnal Sosial dan Pembangunan, 23(1), 1–14. https://www.neliti.com/publications/7327/kajian-islam-tentang-akhlakdankarakteristiknya

    Kontributor: Keysa Aulia Roza

    Editor: M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Maqashid Syariah sebagai Akar Filosofis ...

    by Keyla Calli Genia • Nov 02 2026

    PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...

    Narrative Medicine dan Integritas Seni d...

    by Ayla Azzura • Nov 02 2026

    Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...

    Transformasi Digital Pelayanan Gizi dala...

    by Fathahila Nailhan • Nov 02 2026

    1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...

    Konsep Ulul Albab sebagai Profil Ideal P...

    by Moses Beladio Sihombing • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...

    Tiga Tingkatan Nafsu dalam Perspektif Ib...

    by Aliya Rahadatul Aisyi • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...

    Politik Sebagai Sarana Mewujudkan Kemasl...

    by Tata Rina Sigita • Oct 31 2026

    Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Kerugian Negara VS Hukuman Koruptor: Ketidaksei...

    1. PENDAHULUAN Korupsi yang menyebabkan kerugian keuangan negara merupakan persoalan serius di Indonesia karena efeknya langsung menurunkan kapa...

    09 Apr 2026

    Evidence-Based Advocacy: Perpaduan Amar Ma’ru...

    I. PENDAHULUAN Era digital menghadirkan ledakan informasi sekaligus krisis kepercayaan publik terhadap pesan-pesan moral dan keagamaan yang disa...

    22 Oct 2026

    Dialog Rasulullah dengan Delegasi Najran Sebaga...

    I.  Pendahuluan Musyawarah dan dialog lintas agama merupakan fondasi utama dalam membangun tatanan masyarakat yang inklusif, damai, dan sal...

    Evidence Based Midwifery dan Tanggung Jawab Ilm...

    PENDAHULUAN Kebidanan merupakan salah satu profesi kesehatan yang memikul tanggung jawab besar karena berhadapan langsung dengan keselamatan ibu...

    06 Sep 2026

    Metode dan Media Penyuluhan Anti Korupsi: Ruang...

    1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan paling mendasar yang menghambat kemajuan bangsa Indonesia. Berdasarkan data Transparenc...

    back to top