Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Evidence-Based Nursing Sebagai Wujud Amanah Ilmiah dalam Perspektif Islam

    • Sep 09 2026 • 55 Dilihat

    A. Pendahuluan

    Keperawatan modern menempatkan evidence-based nursing (EBN) sebagai landasan utama dalam pengambilan keputusan klinis. EBN mengintegrasikan bukti ilmiah terbaik, keahlian klinis perawat, serta nilai dan preferensi pasien, sehingga asuhan keperawatan yang diberikan tidak lagi bertumpu pada kebiasaan atau intuisi semata, melainkan pada data dan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Pergeseran paradigma ini penting mengingat kesalahan dalam tindakan keperawatan dapat berakibat fatal bagi keselamatan nyawa pasien, sementara tuntutan profesionalisme menuntut setiap intervensi memiliki dasar yang jelas dan terukur.

    Islam sendiri sangat menjunjung tinggi kedudukan ilmu pengetahuan dan melarang umatnya bertindak tanpa dasar pengetahuan yang jelas. Prinsip ini sejalan dengan semangat EBN yang menolak tindakan berdasarkan asumsi belaka. Dengan demikian, EBN dapat dipandang bukan sekadar tuntutan profesi, melainkan juga wujud amanah ilmiah yang selaras dengan nilai-nilai keislaman, yaitu tanggung jawab seorang perawat untuk memastikan bahwa setiap tindakan yang dilakukan terhadap pasien benar-benar didasarkan pada pengetahuan yang benar atau sah.

    Esai ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara konsep evidence based nursing dengan ajaran Islam, khususnya mengenai kewajiban menuntut dan mengamalkan ilmu secara bertanggung jawab, serta menguraikan implementasinya dalam praktik keperawatan profesional sehari-hari.

    B. Pembahasan

    Evidence-based nursing merupakan pendekatan sistematis yang menuntut perawat mengambil keputusan klinis berdasarkan tiga pilar utama, yaitu bukti penelitian mutakhir, pengalaman dan keahlian klinis, serta nilai dan kondisi unik setiap pasien. Pendekatan ini lahir dari kesadaran bahwa praktik keperawatan yang hanya mengandalkan kebiasaan turun-temurun tanpa evaluasi ilmiah berisiko menimbulkan kerugian bagi pasien dan menghambat perkembangan kualitas pelayanan kesehatan. Dengan EBN, setiap prosedur, mulai dari perawatan luka hingga manajemen nyeri, dievaluasi ulang secara berkala agar senantiasa selaras dengan temuan penelitian terbaru.

    Dalam perspektif Islam, kewajiban untuk bertindak berdasarkan pengetahuan yang sahih ditegaskan dengan jelas. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 36 sebagai berikut.

    وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

    Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra/17: 36).

    Ayat tersebut secara tegas melarang seseorang mengikuti atau melakukan sesuatu tanpa dasar pengetahuan yang jelas, karena kelak setiap tindakan akan dimintai pertanggungjawaban. Bagi seorang perawat, ayat ini menjadi peringatan bahwa memberikan asuhan keperawatan tanpa dasar bukti ilmiah yang valid termasuk bentuk kelalaian yang harus dihindari. Prinsip inilah yang kemudian menjadi fondasi spiritual bagi praktik EBN, yaitu keharusan menimbang setiap intervensi berdasarkan pengetahuan yang teruji, bukan berdasarkan dugaan atau kebiasaan semata.

    Selain Al-Qur’an, hadis Rasulullah SAW juga memberikan landasan mengenai pentingnya ikhtiar berbasis pengetahuan dalam upaya penyembuhan. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam hadis berikut.

    مَا أَنْزَلَ اللَّه دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

    Artinya: “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia turunkan pula obatnya.” (HR. Bukhari, Kitab At-Tibb).

    Hadis ini mengandung pesan bahwa Allah SWT telah menyediakan solusi bagi setiap permasalahan kesehatan, namun solusi tersebut harus dicari melalui ikhtiar, kajian, dan penelitian yang sungguh-sungguh, bukan datang begitu saja. Semangat inilah yang mendorong umat Islam, termasuk tenaga kesehatan untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan tidak berhenti pada satu metode pengobatan tanpa melakukan pembaruan berdasarkan bukti terkini. Ulama kontemporer seperti Rathor dan Shah (2018) menekankan bahwa Islamisasi praktik kedokteran dan keperawatan bukan berarti menolak sains modern, melainkan mengintegrasikan nilai-nilai etika Islam ke dalam proses pengambilan keputusan klinis yang tetap berbasis bukti ilmiah.

    Kajian ilmiah turut memperkuat keterkaitan antara nilai-nilai Islam dan praktik keperawatan berbasis bukti. Arozullah et al. (2018) dalam kajiannya mengenai perspektif ontologis Islam terhadap penyembuhan menjelaskan bahwa Islam memandang penyembuhan sebagai hasil dari perpaduan antara usaha manusia yang rasional ilmiah dan tawakal kepada Allah, sehingga proses ikhtiar melalui penelitian dan pembuktian ilmiah menjadi bagian integral dari keimanan, bukan bertentangan dengannya. Sejalan dengan itu, pada kajian dari Sadat-Hoseini dan Khosropanah (2017) membandingkan konsep caring dalam perspektif Islam dengan teori keperawatan Watson dan Parse, dan menemukan kesesuaian nilai antara kasih sayang, tanggung jawab, serta ketelitian dalam merawat pasien, yang seluruhnya menuntut perawat memiliki kompetensi dan pengetahuan yang mumpuni. Adapun juga Suhaimey, Saidi, dan Mohd Yusof (2023) dalam narrative review mereka- mengenai integrasi prinsip Islam dalam pelayanan kesehatan menegaskan bahwa penerapan nilai-nilai syariah justru memperkuat, bukan menggantikan, standar praktik berbasis bukti yang berlaku secara internasional.

    Berdasarkan uraian di atas, saya memandang bahwa evidence-based nursing dan ajaran Islam memiliki titik temu yang kuat pada aspek amanah ilmiah. Amanah dalam konteks ini dapat dimaknai sebagai perawat yang dapat di percaya dan tanggung jawab perawat untuk senantiasa memperbarui dan mengembangkan pengetahuannya, mengkaji bukti penelitian secara kritis, serta tidak sembarangan menerapkan suatu tindakan tanpa di dasari alasan yang kuat. Ketika seorang perawat mengabaikan bukti ilmiah demi kemudahan atau kebiasaan lama, ia sesungguhnya telah mengkhianati amanah keilmuan yang dibebankan kepadanya, baik secara profesional maupun secara spiritual. Sebaliknya, komitmen terhadap EBN merupakan bentuk konkret dari ketakwaan dan keimanan seorang tenaga kesehatan muslim, karena ia berusaha memberikan yang terbaik bagi pasien berdasarkan ilmu yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

    Implementasi nilai ini dalam praktik profesi keperawatan dapat diwujudkan melalui beberapa langkah nyata. Perawat perlu membiasakan diri membaca dan mengkaji jurnal-jurnal keperawatan terkini sebagai bagian dari pembaruan ilmu, aktif mengikuti pelatihan dan sertifikasi berbasis bukti, serta berani mengevaluasi kembali standar prosedur operasional yang sudah usang apabila ditemukan bukti ilmiah baru yang lebih tepat. Selain itu, integrasi nilai spiritual seperti niat ikhlas dalam merawat pasien dan sikap tawakal setelah berikhtiar secara ilmiah dapat menjadi penyeimbang, sehingga praktik EBN tidak sekadar menjadi tuntutan administratif, melainkan juga ibadah yang bermakna. Qowi, Harmiardillah, dan Lestari (2023) menemukan bahwa perawat yang memahami keterkaitan nilai keislaman dengan tugas profesionalnya cenderung memiliki motivasi kerja dan kualitas pelayanan yang lebih baik, karena mereka memaknai setiap tindakan berbasis bukti sebagai wujud pengabdian, bukan sekadar kewajiban formal.

    C. Penutup

    Evidence-based nursing dan ajaran Islam sesungguhnya tidak berada pada posisi yang berseberangan, melainkan saling menguatkan. Al-Qur’an dan hadis secara jelas mengajarkan bahwa setiap tindakan harus didasarkan pada pengetahuan yang benar atau sah dan dipertanggungjawabkan, sementara EBN menuntut hal yang serupa dalam konteks praktik keperawatan modern. Komitmen terhadap EBN dengan demikian dapat dimaknai sebagai wujud amanah ilmiah seorang perawat muslim, yaitu tanggung jawab untuk terus belajar, mengkaji bukti, dan memberikan asuhan keperawatan terbaik yang sesuai dengan standar prosedur operasional kepada pasien.

    Daftar Pustaka

    Arozullah, A. M., Padela, A. I., Volkan Stodolsky, M., & Kholwadia, M. A. (2018). Causes and means of healing: An Islamic ontological perspective. Journal of Religion and Health, 58(6), 1929–1936. https://doi.org/10.1007/s10943-018-0666-3

    Melnyk, B. M., & Fineout-Overholt, E. (2019). Evidence-based practice in nursing & healthcare: A guide to best practice (4th ed.). Wolters Kluwer.

    Qowi, N. H., Harmiardillah, S., & Lestari, T. P. (2023). The application of Islamic values in the health services: A nurse perspective. Jurnal Keperawatan, 14(2), 1–10.

    Rathor, M. Y., & Shah, A. S. M. (2018). Improving health care delivery through Islamization of medical practice. IIUM Medical Journal Malaysia, 17(2), 1–9.

    Sadat-Hoseini, A. S., & Khosropanah, A. H. (2017). Comparing the concept of caring in Islamic perspective with Watson and Parse’s nursing theories. Iranian Journal of Nursing and Midwifery Research, 22(2), 83–90. https://doi.org/10.4103/ijnmr.IJNMR_311_14

    Suhaimey, S. S., Saidi, S., & Mohd Yusof, N. (2023). Integration of Islamic principles in healthcare delivery: A narrative review. IIUM Journal of Orofacial and Health Sciences, 6(2), 1–12.

    Kontributor: Ridho Ajun Aditya

    Editor: Dani Habibi, M.Ag.

    Share to

    Related News

    Akhlak Sebagai Buah Keimanan: Refleksi B...

    by Anggun Aulia • Nov 04 2026

    I. Pendahuluan Profesi keperawatan merupakan salah satu profesi kesehatan yang memiliki tanggung jaw...

    Sinergi Hukum Negara, Etika Profesi dan ...

    by Talitha Anindya Wardani • Nov 04 2026

    PENDAHULUAN Keperawatan merupakan profesi yang berperan sentral dalam sistem pelayanan kesehatan kar...

    Fitrah sebagai Dasar Perilaku Hidup Seha...

    by Amanda Febryana Putri • Nov 03 2026

    Pendahuluan Masalah gizi masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Survei Status Gi...

    Pelayanan Spiritual bagi Pasien Nifas se...

    by Jenita Br Surbakti • Nov 03 2026

    I. Pendahuluan Masa nifas merupakan masa yang penting bagi seorang perempuan karena setelah melahirk...

    Penghormatan Martabat Pasien Sebagai Wuj...

    by Zahratus Syifa • Nov 03 2026

    Pendahuluan Dalam konteks asuhan keperawatan, penghormatan terhadap martabat pasien bukan sekadar pr...

    Maqashid Syariah sebagai Akar Filosofis ...

    by Keyla Calli Genia • Nov 02 2026

    PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Implementasi Nilai-Nilai Ketuhanan dalam Pancas...

    Pendahuluan Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman yang sangat tinggi, baik dari segi suku, budaya, bahasa, maupun ...

    01 Jun 2026

    ANTI-KORUPSI BUKAN TREN

    Ketika Nilai Agama Jadi Fondasi Karier 1. PENDAHULUAN Bayangkan kamu baru saja lulus, dapat kerja pertama, dan diam-diam diberi tahu: “Di ...

    Ihsan Sebagai Ruh Patient-Centered Care yang Me...

    Pendahuluan Dunia pelayanan kesehatan modern tengah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan, bergerak dari model paternalistik ke arah pe...

    Politik Uang dalam Perspektif Hadis : Ancaman T...

    PENDAHULUAN Demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Dalam konteks Indonesia, kedaulatan rak...

    Edukasi Kesehatan Sebagai Pemenuhan Hak Masyara...

    I. Pendahuluan Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan manusia, namun akses terhadap layanan dan pengetahuan ke...

    back to top