Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Hikmah Sakit Sebagai Sarana Penggugur Dosa Menurut Hadis Riwayat Bukhari Muslim

    • Sep 21 2026 • 31 Dilihat

    I. Pendahuluan

    Sakit merupakan bagian dari kehidupan manusia yang dapat memengaruhi kondisi fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Dalam kehidupan sehari-hari, sakit sering dipahami sebagai gangguan yang harus segera dihilangkan. Namun, dalam perspektif Islam, sakit juga dapat menjadi ujian yang mengandung hikmah. Seorang muslim dianjurkan menghadapi sakit dengan sabar, tetap berikhtiar memperoleh pengobatan, serta bertawakal kepada Allah SWT. Dengan demikian, sakit tidak hanya dipandang sebagai penderitaan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk meningkatkan kesabaran dan keimanan.

    Pembahasan mengenai hikmah sakit penting bagi mahasiswa kebidanan karena pelayanan kebidanan berhadapan langsung dengan perempuan yang dapat mengalami nyeri, ketidaknyamanan, kecemasan, dan perubahan kondisi selama kehamilan, persalinan, serta masa nifas. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim menjelaskan bahwa penyakit dan berbagai penderitaan dapat menjadi sebab dihapuskannya sebagian dosa. Oleh karena itu, esai ini bertujuan menganalisis hikmah sakit berdasarkan Al-Qur’an dan hadis, mengaitkannya dengan pandangan ulama serta kajian ilmiah, dan menjelaskan penerapannya dalam pelayanan kebidanan.

    II. Pembahasan

    Al-Qur’an memberikan kerangka dasar bahwa ujian merupakan bagian dari kehidupan manusia. Dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 155, Allah SWT berfirman:

    وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ

    “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 155).

    Ayat tersebut menunjukkan bahwa ujian merupakan bagian dari kehidupan manusia dan kesabaran merupakan sikap yang mendapatkan kabar gembira dari Allah SWT. Dalam konteks sakit, ayat tersebut bukan berarti seseorang harus menginginkan penyakit atau menolak pengobatan. Sebaliknya, seorang muslim diajarkan untuk menerima keadaan yang sedang dialami dengan kesabaran dan tetap melakukan usaha untuk mendapatkan kesembuhan. Pada ayat berikutnya, Allah SWT juga menjelaskan bahwa orang-orang yang ketika ditimpa musibah mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” adalah orang yang mendapatkan rahmat dan petunjuk dari Allah SWT. Sakit dapat menjadi kesempatan meningkatkan kesabaran dan keimanan.

    Hikmah sakit sebagai sarana penggugur dosa secara lebih jelas dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW. Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

    مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

    “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, dan kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal itu.” (HR. Bukhari No. 5641–5642).

    Hadis tersebut memberikan gambaran bahwa penderitaan yang dialami seorang muslim tidak selalu menjadi sesuatu yang sia-sia. Bahkan, rasa sakit yang kecil sekalipun dapat menjadi sebab dihapuskannya sebagian dosa apabila Allah menghendakinya. Hadis riwayat Muslim juga memperkuat makna tersebut. Rasulullah SAW bersabda:

    مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلَا نَصَبٍ وَلَا سَقَمٍ وَلَا حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلَّا كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

    “Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu penyakit, kelelahan, kesedihan, atau kegelisahan, melainkan dengannya sebagian kesalahan-kesalahannya dihapus.” (Sahih Muslim, no. 2573).

    Menurut pemahaman penulis, kedua hadis tersebut memberikan harapan kepada seorang muslim ketika menghadapi sakit. Sakit yang dirasakan bukan berarti Allah SWT sedang meninggalkan atau tidak menyayangi seseorang. Sebaliknya, sakit dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesabaran, mendekatkan diri kepada Allah, mengevaluasi diri, dan memperoleh pengampunan atas sebagian dosa. Namun, pemahaman tersebut tidak boleh menyebabkan seseorang sengaja mempertahankan rasa sakit atau menolak pengobatan.

    Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan ulama mengenai sikap sabar dalam menghadapi ujian. Kesabaran tidak dapat dipahami sebagai sikap menyerah tanpa melakukan usaha. Seorang muslim tetap dianjurkan melakukan ikhtiar untuk mendapatkan kesembuhan. Doa dan tawakal tidak bertentangan dengan usaha medis. Justru, keduanya dapat berjalan secara bersamaan. Menurut penulis sebagai mahasiswa, seseorang yang sedang sakit dapat menerima kondisi tersebut dengan sabar sambil tetap berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, mengonsumsi obat sesuai anjuran, melakukan pemeriksaan, serta mengikuti tindakan yang diperlukan. Dengan demikian, keyakinan agama dan usaha kesehatan dapat saling melengkapi.

    Dari sisi ilmiah, aspek religiusitas dan spiritualitas juga dapat berperan dalam proses seseorang menghadapi penyakit. Ferreira-Valente et al. (2022) melalui systematic review mengenai religiositas/spiritualitas pada pasien dengan nyeri kronis menemukan bahwa hubungan religiositas atau spiritualitas dengan fungsi psikologis dalam sejumlah penelitian cenderung positif, sedangkan hubungan dengan nyeri dan gangguan fisik lebih lemah. Hal ini menunjukkan bahwa spiritualitas dapat menjadi salah satu sumber coping atau cara seseorang menghadapi kondisi sulit, terutama dalam aspek psikologis. Namun, spiritualitas tidak dapat dianggap sebagai pengganti pengobatan medis.

    Penelitian systematic review yang dilakukan Thuné-Boyle et al. (2006) juga menunjukkan bahwa coping religius atau spiritual pada sebagian pasien dapat memberikan makna, kenyamanan, dan harapan ketika menghadapi penyakit. Meskipun demikian, hasil penelitian tidak selalu seragam sehingga manfaat spiritualitas harus dipahami secara hati-hati. Menurut penulis, hal tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan yang menyeluruh dalam pelayanan kesehatan. Pasien tidak hanya memiliki kebutuhan fisik, tetapi juga dapat memiliki kebutuhan emosional dan spiritual. Akan tetapi, dukungan spiritual harus diberikan sesuai dengan keyakinan dan keinginan pasien, bukan dipaksakan oleh tenaga kesehatan.

    Dalam pelayanan kebidanan, pemahaman mengenai sakit dan spiritualitas memiliki keterkaitan yang sangat penting. Perempuan dapat mengalami rasa sakit dan ketidaknyamanan selama kehamilan, persalinan, maupun masa nifas. Selain rasa sakit fisik, seorang ibu juga dapat mengalami kecemasan dan ketakutan terhadap kondisi dirinya maupun bayinya. Oleh sebab itu, bidan tidak cukup hanya memperhatikan kondisi fisik, tetapi juga perlu memberikan pelayanan yang menghargai martabat dan kondisi psikologis pasien. World Health Organization (WHO) menekankan pentingnya respectful maternal and newborn care yang mencakup penghormatan terhadap martabat, privasi, kerahasiaan, hak pasien, pilihan yang terinformasi, serta pencegahan perlakuan buruk dalam pelayanan maternal dan neonatal.

    Sebagai mahasiswa kebidanan, penulis memandang bahwa ketika menghadapi pasien muslim yang sedang mengalami sakit atau nyeri, bidan perlu memberikan pelayanan secara profesional dan penuh empati. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan kondisi keselamatan pasien dan memenuhi kebutuhan klinisnya. Setelah itu, apabila pasien menginginkannya, bidan dapat memberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan spiritual seperti berdoa atau mendapatkan dukungan dari keluarga. Dukungan tersebut harus dilakukan tanpa mengganggu tindakan medis dan tanpa memaksakan keyakinan tertentu kepada pasien.

    Bidan perlu mendengarkan keluhan pasien, menjelaskan kondisi dengan bahasa yang mudah dipahami, meminta persetujuan sebelum tindakan, menjaga privasi, serta menghormati keputusan pasien sesuai keselamatan dan kewenangan profesional. Prinsip ini sejalan dengan respectful maternity care yang menekankan martabat, informasi, informed consent, privasi, kerahasiaan, serta penghormatan terhadap kebebasan dan otonomi pasien (Jolivet et al., 2021). Menurut penulis, kesabaran juga perlu dimiliki tenaga kesehatan dalam mendampingi pasien yang cemas atau kesakitan. Sikap empati dan komunikasi yang baik dapat membuat pasien merasa lebih aman dan dihargai.

    Namun, hadis mengenai penggugur dosa harus disampaikan secara bijaksana. Tenaga kesehatan tidak dapat memastikan bahwa rasa sakit tertentu pasti menghapus dosa seseorang karena hal tersebut merupakan ketetapan Allah SWT. Hadis juga tidak boleh digunakan untuk membuat pasien menolak pengobatan atau pengurangan nyeri. Kesabaran dan tawakal tetap dapat berjalan bersama ikhtiar medis. Menurut penulis, keseimbangan antara aspek spiritual dan medis merupakan bentuk penerapan Pendidikan Agama yang tepat dalam pelayanan kebidanan.

    Konsep sakit sebagai sarana penggugur dosa dapat memberikan harapan dan kekuatan bagi pasien muslim dalam menghadapi kondisi sulit. Namun, pemahaman agama harus tetap proporsional. Dalam pelayanan kebidanan, nilai spiritual seharusnya mendukung, bukan menggantikan, pelayanan kesehatan yang aman, berbasis bukti, dan sesuai standar profesi.

    Dengan demikian, integrasi nilai spiritual dalam pelayanan kebidanan harus dilakukan secara proporsional. Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip pelayanan yang berpusat pada pasien. WHO juga menekankan komunikasi efektif dan dukungan berkelanjutan dalam pelayanan maternitas (WHO, 2025). Bagi mahasiswa kebidanan, pemahaman ini dapat menjadi bekal untuk membangun hubungan terapeutik yang tidak hanya berorientasi pada tindakan klinis, tetapi juga pada pengalaman dan kebutuhan pasien sebagai manusia.

    III. Penutup

    Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sakit dalam perspektif Islam bukan hanya penderitaan, tetapi juga dapat menjadi ujian dan sarana penghapusan sebagian dosa bagi seorang mukmin. Q.S. Al-Baqarah ayat 155–157 mengajarkan kesabaran dalam menghadapi musibah, sedangkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim menjelaskan bahwa penyakit dan berbagai penderitaan dapat menjadi sebab dihapuskannya sebagian dosa. Dari perspektif mahasiswa kebidanan, pemahaman tersebut perlu disertai ikhtiar medis agar pasien tetap memperoleh pemeriksaan, pengobatan, dan pelayanan yang aman. Mahasiswa kebidanan perlu meningkatkan komunikasi terapeutik, empati, serta kepekaan terhadap kebutuhan spiritual pasien tanpa memaksakan keyakinan. Dengan demikian, pelayanan kebidanan dapat memperhatikan aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual dengan tetap berpegang pada keselamatan dan standar profesional.

    Daftar Pustaka

    Al-Bukhari, M. I. (n.d.). Sahih al-Bukhari 5641–5642. Sunnah.com. https://sunnah.com/bukhari:5641

    Ferreira-Valente, M. A., Sharma, S., Torres, S., Smothers, Z., Pais-Ribeiro, J., Abbott, J. H., & Jensen, M. P. (2022). Does religiosity/spirituality play a role in function, pain-related beliefs, and coping in patients with chronic pain? A systematic review. Journal of Religion and Health, 61(3), 2331–2385. https://doi.org/10.1007/s10943-019-00914-7

    Jolivet, R. R., Gausman, J., Kapoor, N., Langer, A., Sharma, J., & Semrau, K. E. A. (2021). Operationalizing respectful maternity care at the healthcare provider level: A systematic scoping review. Reproductive Health, 18, 194. https://doi.org/10.1186/s12978-021-01241-5

    Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

    Muslim, I. (n.d.). Sahih Muslim 2573. Sunnah.com. https://sunnah.com/muslim:2573

    Thuné-Boyle, I. C., Stygall, J., Keshtgar, M. R., & Newman, S. P. (2006). Do religious/spiritual coping strategies affect illness adjustment in patients with cancer? A systematic review of the literature. Social Science & Medicine, 63(1), 151–164. https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2005.11.055

    World Health Organization. (2025). Compendium on respectful maternal and newborn care. https://www.who.int/publications/i/item/9789240110939

    Kontributor: Putri Maulyda Nasution

    Editor: Dani Habibi, M.Ag.

    Share to

    Related News

    Tauhid sebagai Paradigma Pelayanan: Refl...

    by Cyrilla Maheswari • Oct 06 2026

    Pendahuluan Tenaga kesehatan merupakan bagian terpenting dalam keberlangsungan pelayanan kesehatan k...

    Adab Interaksi Akademik Islami Sebagai M...

    by Rangga Alfizar • Oct 06 2026

    PENDAHULUAN Pendidikan tinggi kesehatan, termasuk program studi gizi, tidak hanya menuntut mahasiswa...

    Ballighu ‘Anni Walau Ayah sebagai Pija...

    by Santika Ghazelya Rayputri • Oct 06 2026

    A. Pendahuluan Persoalan gizi masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan kesehatan di Indonesi...

    Hak Atas Kesehatan Sebagai Perwujudan Hi...

    by Alika Putri Soleha • Sep 28 2026

    1. Pendahuluan Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar sekaligus hak fundamental setiap manus...

    Kompetensi Klinis dan Kedalaman Spiritua...

    by Shofwatun Nisa • Sep 17 2026

    I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...

    Akhlak Kepada Allah Sebagai Fondasi Spir...

    by Selvi Hertati Br Simbolon • Sep 17 2026

    PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Agama dan Kemanusiaan: Mana Yang Lebih Penting?

    1. PENDAHULUAN Perjalanan sejarah manusia selalu memperlihatkan hubungan yang erat antara agama dan kehidupan sosial. Agama hadir bukan hanya se...

    14 Jun 2026

    Quarter-Life Crisis dan Konsep Tawakal: Menguba...

    PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usia 20-an merupakan fase perkembangan yang berkaitan dengan pencarian jati diri, pembentukan kemandirian, dan pe...

    28 May 2026

    Tata Kelola Kampus Berintegritas : Konflik Nila...

    1. PENDAHULUAN Perguruan tinggi sejatinya bukan sekadar lembaga pencetak tenaga ahli, melainkan pusat pembentukan karakter dan nilai-nilai luhu...

    12 Apr 2026

    Akhlak Kepada Allah Sebagai Fondasi Spiritual P...

    PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu kelahir...

    Saat Tidak Ada yang Melihat: Ujian Kesadaran Hu...

    1. PENDAHULUAN Bayangkan sebuah persimpangan jalan di malam hari. Lampu merah menyala, namun tidak ada kendaraan lain, tidak ada polisi, dan kam...

    03 Jun 2026
    back to top