Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Adab Interaksi Akademik Islami Sebagai Modal Kerja Tim Yang Sehat Bagi Calon Ahli Gizi

    • Oct 06 2026 • 21 Dilihat

    PENDAHULUAN

      Pendidikan tinggi kesehatan, termasuk program studi gizi, tidak hanya menuntut mahasiswa menguasai kompetensi teknis seperti asuhan gizi klinis, penilaian status gizi, dan manajemen pelayanan makanan, tetapi juga menuntut kemampuan bekerja sama dalam tim. Sejak masa perkuliahan, mahasiswa gizi terbiasa dihadapkan pada tugas kelompok, praktikum bersama, penelitian kolaboratif, hingga praktik kerja lapangan yang melibatkan interaksi dengan sesama mahasiswa, dosen, dan tenaga kesehatan lain. Dalam praktiknya, banyak persoalan yang muncul di lingkungan akademik bukan disebabkan oleh rendahnya kemampuan intelektual, melainkan oleh lemahnya adab dalam berinteraksi, seperti kurangnya rasa hormat kepada dosen dan teman, komunikasi yang kasar, sikap individualis dalam kerja kelompok, hingga kebiasaan menunda tanggung jawab kepada anggota tim yang lain.

      Islam sebagai agama yang menyeluruh (kāffah) memiliki sistem adab yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara berinteraksi dalam menuntut ilmu dan bekerja sama dengan orang lain. Adab dalam Islam bukan sekadar tata krama sosial, melainkan cerminan akhlak yang bersumber dari keimanan, sehingga penerapannya memiliki dimensi spiritual sekaligus dimensi sosial yang saling menguatkan.

      Profesi ahli gizi pada hakikatnya adalah profesi yang kolaboratif. Dalam praktiknya di rumah sakit, puskesmas, maupun institusi lain, ahli gizi senantiasa bekerja bersama dokter, perawat, apoteker, dan tenaga kesehatan lain dalam satu tim asuhan pasien. Kemampuan bekerja sama yang sehat ini tidak muncul secara tiba-tiba ketika seseorang telah menjadi profesional, melainkan dibentuk dan dilatih sejak masa pendidikan melalui kebiasaan berinteraksi yang baik di lingkungan akademik. Oleh karena itu, adab interaksi akademik islami menjadi topik yang penting untuk dikaji karena berfungsi sebagai modal karakter yang akan terus terbawa hingga mahasiswa gizi terjun ke dunia kerja.

      Esai ini bertujuan untuk menguraikan konsep adab interaksi akademik dalam perspektif Islam, memaparkan landasan Al-Qur’an, hadits, dan pendapat ulama terkait adab dan kerja sama, mengaitkannya dengan hasil kajian ilmiah mengenai kerja tim dan kolaborasi interprofesi di bidang kesehatan, serta menganalisis bagaimana adab tersebut dapat diimplementasikan sebagai modal kerja tim yang sehat bagi calon ahli gizi dalam praktik profesinya.

      PEMBAHASAN

        Secara bahasa, adab berarti menerapkan akhlak yang mulia. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari mendefinisikan adab sebagai penerapan segala hal yang dipuji, baik dalam perkataan maupun perbuatan, atau dengan kata lain, mengambil akhlak-akhlak yang mulia. Definisi ini menunjukkan bahwa adab bersifat menyeluruh, mencakup ucapan, sikap, dan perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain.

        Dalam tradisi keilmuan Islam, adab menempati posisi yang sangat penting, bahkan diletakkan sebelum ilmu itu sendiri. Para ulama salaf terdahulu terlebih dahulu mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu, sebagaimana dikisahkan bahwa para tabi’in membutuhkan bimbingan adab yang lebih banyak dibandingkan hadits yang mereka hafalkan. Imam Malik bin Anas pernah menasihati seorang pemuda dari kalangan Quraisy dengan perkataan yang masyhur, “Wahai anak saudaraku, pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” Nasihat ini menegaskan bahwa ilmu yang tidak dilandasi adab berpotensi menjadi beban, sedangkan ilmu yang disertai adab akan membawa keberkahan dan manfaat yang luas.

        Dalam konteks interaksi akademik, adab tercermin dalam berbagai bentuk, seperti keikhlasan dalam menuntut ilmu, kerendahan hati untuk menerima pendapat dan koreksi orang lain, kesabaran dalam berdiskusi, kejujuran dalam menyampaikan pendapat maupun mengakui kesalahan, serta penghormatan kepada dosen, sesama mahasiswa, dan seluruh pihak yang terlibat dalam proses akademik. Adab semacam ini menjadi fondasi penting yang membuat kerja sama dalam tim akademik dapat berjalan secara sehat, karena setiap anggota tim tidak hanya dituntut mampu berkontribusi secara intelektual, tetapi juga mampu menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama anggota tim.

        Al-Qur’an secara eksplisit memerintahkan umat Islam untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 2:

        وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

        “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”

        (QS. Al-Ma’idah [5]: 2)

        Ayat ini menjadi landasan utama konsep ta’awun (kerja sama) dalam Islam, yang mengajarkan bahwa kerja sama hanya dibenarkan selama berada dalam koridor kebaikan dan ketakwaan, dan sebaliknya dilarang keras jika mengarah pada dosa maupun permusuhan.

        Selain itu, Rasulullah SAW memberikan gambaran mengenai eratnya persaudaraan dan kerja sama antar orang beriman melalui sabdanya:

        الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

        “Seorang mukmin dengan mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.”

        (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa Al-Asy’ari)

        Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga bersabda mengenai perumpamaan orang-orang beriman yang saling mengasihi dan menyayangi laksana satu tubuh, sehingga apabila satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh tubuh turut merasakannya (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586). Adapun mengenai keutamaan akhlak, Rasulullah SAW bersabda bahwa mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya (HR. Tirmidzi no. 1162). Hadits-hadits ini menegaskan bahwa kekompakan dan kekuatan sebuah tim atau komunitas sangat bergantung pada kualitas hubungan dan akhlak antar anggotanya, bukan semata-mata pada kemampuan individu.

        Sejumlah ulama tafsir memberikan penjelasan mendalam mengenai makna ta’awun dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2. Ibnu Katsir dan Al-Qurtubi menafsirkan ayat ini sebagai perintah untuk bekerja sama dalam segala hal yang membawa manfaat dan mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus larangan tegas untuk mendukung segala bentuk keburukan. Adapun Ibnu ‘Asyur dalam kitab Tahrir wa Tanwir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah bagi umat Islam untuk saling bekerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan, sekaligus menjadi dasar (ta’lil) larangan berlaku tidak adil kepada suatu kaum hanya karena kebencian, sehingga kerja sama dalam kebaikan harus diutamakan dibandingkan mengikuti hawa nafsu maupun rasa tidak suka kepada rekan kerja.

        Mengenai kedudukan adab dalam menuntut ilmu, Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa adab adalah penerapan akhlak yang mulia dalam ucapan dan perbuatan, sedangkan Imam Malik bin Anas menekankan bahwa adab harus dipelajari dan dimiliki lebih dahulu sebelum ilmu, karena adab merupakan kunci pembuka pemahaman sekaligus penangkal kesombongan bagi seorang penuntut ilmu. Pendapat-pendapat ulama ini memperkuat pemahaman bahwa keberhasilan kerja sama, baik dalam konteks akademik maupun profesional, tidak dapat dilepaskan dari kualitas adab dan akhlak setiap individu yang terlibat di dalamnya.

        Kajian-kajian ilmiah kontemporer di bidang kesehatan turut mendukung pentingnya adab dan akhlak dalam kerja tim, meskipun disampaikan dengan istilah yang berbeda, yaitu komunikasi efektif dan kolaborasi interprofesi (interprofessional collaboration/IPC). Sebuah telaah literatur terhadap tujuh publikasi ilmiah tentang pendidikan interprofesional (interprofessional education/IPE) pada mahasiswa kesehatan menemukan bahwa pengalaman belajar lintas profesi memberikan pengaruh positif terhadap komunikasi, kejelasan peran, dan dinamika kerja tim mahasiswa. Temuan serupa juga dilaporkan dalam kajian sistematis mengenai dampak praktik kolaborasi interprofesional, yang menunjukkan bahwa kolaborasi yang terstruktur dan terkoordinasi memungkinkan terwujudnya perawatan yang lebih terorganisir dan komprehensif bagi pasien.

        Penelitian lain yang mengkaji keterampilan komunikasi dan kerja tim tenaga kesehatan menemukan bahwa komunikasi yang buruk menjadi penyebab sebagian besar kesalahan medis, sementara penguatan budaya komunikasi dan kolaborasi antarprofesi sangat diperlukan untuk menjawab tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks. Sejalan dengan itu, kajian lain juga menyoroti bahwa budaya kerja yang hierarkis dan kurangnya kejelasan pembagian peran menjadi hambatan utama terwujudnya kolaborasi interprofesional yang efektif.

        Salah satu contoh konkret kolaborasi ahli gizi dengan profesi kesehatan lain di Indonesia dapat dilihat dari kegiatan edukasi interprofesional yang diselenggarakan bagi mahasiswa Program Studi S1 Gizi dan D3 Farmasi STIKes Holistic Purwakarta pada September 2025 dalam rangka pencegahan diabetes melitus tipe 2. Kegiatan yang diikuti oleh 91 mahasiswa dari kedua program studi ini dirancang untuk membangun pemahaman bersama mengenai peran ahli gizi dan apoteker secara komplementer, ahli gizi berfokus pada pengaturan pola makan dan edukasi gizi, sedangkan apoteker berperan dalam edukasi penggunaan obat dan gaya hidup sehat, dalam menangani pasien diabetes. Hasil evaluasi pretest dan posttest menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor pemahaman peserta, dengan peningkatan paling menonjol pada topik peran apoteker dalam edukasi gaya hidup. Menariknya, pemahaman mahasiswa mengenai bentuk sinergi konkret antara ahli gizi dan apoteker justru belum menunjukkan peningkatan yang berarti, sebuah temuan yang mengindikasikan bahwa sekadar mempertemukan mahasiswa lintas profesi dalam satu kegiatan belum cukup untuk menumbuhkan pemahaman mendalam tentang bagaimana kedua profesi tersebut saling melengkapi dalam praktik. Temuan ini sejalan dengan adab islami yang menekankan bahwa ta’awun (kerja sama) sejati menuntut lebih dari sekadar kehadiran bersama, melainkan kerendahan hati untuk sungguh-sungguh memahami peran dan batas kompetensi pihak lain, sehingga kolaborasi tidak berhenti pada tataran formal, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan berpikir dan bertindak yang benar-benar kolaboratif.

        Hasil-hasil kajian tersebut secara konsisten menunjukkan bahwa kerja tim yang sehat dan efektif dalam dunia kesehatan sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi, saling menghormati peran masing-masing profesi, dan kesediaan untuk bekerja sama secara terkoordinasi, yang pada dasarnya sejalan dengan nilai-nilai adab yang diajarkan dalam Islam.

        Berdasarkan uraian di atas, penulis melihat adanya keselarasan yang kuat antara konsep adab interaksi akademik islami dengan prinsip-prinsip kerja tim yang ditemukan dalam kajian ilmiah modern. Prinsip ta’awun ‘ala al-birr wat-taqwa yang diajarkan dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2 pada dasarnya menuntun setiap anggota tim untuk berorientasi pada kemaslahatan bersama, bukan pada kepentingan atau ego pribadi. Nilai ini sejalan dengan temuan kajian IPE dan IPC yang menekankan pentingnya kejelasan peran dan komunikasi yang berorientasi pada tujuan bersama, yaitu kebaikan pasien atau keberhasilan tim.

        Selain itu, adab akademik islami memiliki dimensi yang lebih mendalam dibandingkan sekadar keterampilan komunikasi, karena adab bersumber dari niat yang ikhlas dan kesadaran spiritual. Kerja sama yang dilandasi keikhlasan akan lebih tahan terhadap gesekan kepentingan pribadi, seperti keinginan untuk mendominasi kelompok, sikap enggan menerima kritik, maupun kebiasaan melempar tanggung jawab kepada anggota lain (free rider), yang kerap menjadi sumber konflik dalam kerja kelompok di lingkungan akademik. Hadits tentang mukmin yang saling menguatkan bagaikan bangunan juga memberikan gambaran yang relevan dengan konsep kerja tim modern, bahwa kekuatan sebuah tim tidak ditentukan oleh kehebatan satu individu, melainkan oleh soliditas dan saling dukung antaranggota.

        Dengan demikian, penulis berpendapat bahwa adab interaksi akademik islami tidak bertentangan, bahkan memperkuat, prinsip-prinsip kerja tim yang dikembangkan dalam kajian ilmiah kesehatan modern. Keduanya sama-sama menempatkan komunikasi yang baik, saling menghormati, dan orientasi pada tujuan bersama sebagai kunci keberhasilan kerja sama, hanya saja adab islami memberikan landasan spiritual yang menjadikan nilai-nilai tersebut lebih kokoh dan konsisten dijalankan.

        Dalam Kode Etik Ahli Gizi yang diterbitkan oleh Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), terdapat bab khusus mengenai kewajiban terhadap teman seprofesi dan mitra kerja. Di antara kewajiban tersebut, ahli gizi diharuskan untuk senantiasa bekerja sama, melibatkan, dan menghargai berbagai disiplin ilmu sebagai mitra kerja dalam upaya meningkatkan dan memelihara status gizi masyarakat, serta memelihara hubungan persahabatan yang harmonis dengan organisasi maupun profesi lain yang terkait dengan upaya peningkatan status gizi, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Ketentuan ini menunjukkan bahwa kerja sama lintas profesi bukan sekadar anjuran, melainkan bagian dari tanggung jawab etis profesi ahli gizi.

        Nilai-nilai adab akademik islami yang dibiasakan sejak masa perkuliahan, seperti ikhlas dalam berkontribusi, rendah hati menerima masukan, jujur dalam menyampaikan data maupun pendapat, serta menghormati peran setiap anggota tim, akan menjadi modal karakter yang sangat relevan ketika mahasiswa gizi kelak terjun ke dunia kerja. Dalam praktiknya di rumah sakit maupun puskesmas, ahli gizi senantiasa bekerja dalam tim asuhan gizi bersama dokter, perawat, dan apoteker, sehingga dibutuhkan kemampuan berkomunikasi secara santun dan efektif, menjaga amanah data serta kerahasiaan pasien, dan menghargai kompetensi masing-masing profesi. Kebiasaan menjaga adab dalam tugas kelompok, praktikum, penelitian, maupun organisasi kemahasiswaan semasa kuliah pada dasarnya adalah latihan awal untuk membentuk karakter tersebut, sehingga ketika mahasiswa gizi resmi menjadi ahli gizi profesional, adab tersebut telah menjadi kebiasaan yang melekat dan bukan sekadar aturan formal yang dihafalkan.

        PENUTUP

          Kesimpulan

          Adab interaksi akademik islami, yang berlandaskan pada prinsip ta’awun, ukhuwah, keikhlasan, dan kerendahan hati, merupakan modal karakter yang sangat penting bagi mahasiswa gizi dalam membangun kerja tim yang sehat. Landasan Al-Qur’an, hadits, dan pendapat ulama menegaskan bahwa kerja sama yang baik harus berorientasi pada kebaikan bersama dan dijalankan dengan akhlak yang mulia. Nilai-nilai ini selaras dengan hasil kajian ilmiah modern mengenai kolaborasi interprofesi dan komunikasi efektif dalam dunia kesehatan, yang sama-sama menekankan pentingnya kejelasan peran, saling menghormati, dan orientasi pada tujuan bersama. Dalam konteks profesi ahli gizi, adab akademik islami yang dibiasakan sejak masa perkuliahan akan menjadi fondasi karakter yang memudahkan pelaksanaan kewajiban etis profesi, khususnya dalam bekerja sama dengan berbagai disiplin ilmu kesehatan lainnya.

          Saran

          Mahasiswa gizi disarankan untuk membiasakan adab interaksi akademik islami sejak dini, baik dalam tugas kelompok, praktikum, penelitian, maupun kegiatan organisasi kemahasiswaan, sebagai bentuk latihan karakter yang akan terbawa hingga memasuki dunia profesi. Institusi pendidikan, khususnya program studi gizi, juga disarankan untuk mengintegrasikan nilai-nilai adab islami ke dalam pembelajaran kerja tim dan pendidikan interprofesional (IPE), sehingga lulusan yang dihasilkan tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki akhlak dan adab yang menjadi modal kerja sama yang sehat dalam pelayanan kesehatan.

          DAFTAR PUSTAKA

            Al-Asqalani, I. H. (t.t.). Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari (Jilid 10).

            Al-Bukhari, M. I. I. (t.t.). Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, Hadits No. 6011.

            Al-Qur’an al-Karim. Surah Al-Ma’idah ayat 2.

            An-Nawawi, Y. (t.t.). Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi (Hadits riwayat Abu Musa Al-Asy’ari tentang perumpamaan mukmin sebagai bangunan).

            At-Tirmidzi, M. I. I. (t.t.). Sunan at-Tirmidzi, Hadits No. 1162.

            Dewangga, M. W., Fitriyah, O., Lestari, S., Adhi, W. P., Muryanto, S., Jati, D. K. C., Arif, A. M., Kasumbung, M. T., Yuda, W. K., Dewi, A. F., Arianto, F. I. N., & Viandara, D. M. K. (2024). Pentingnya kolaborasi interprofesi tenaga kesehatan dalam pelayanan fisioterapi. Prosiding Seminar Informasi Kesehatan Nasional, 7-12.

            Huda, N., Faizin, F. Z., Ulinnuha, L. L., Hikmah, Z. N., Herlina, Fadillah, R., Himmati, I., Huda, N. U., Albatta, R. A. M., & Khoiriyati, A. (2025). Keterampilan komunikasi efektif dan kerja tim perawat dengan inter profesional. Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia (Indonesian Health Scientific Journal), 10(1).

            Ibnu ‘Asyur, M. T. (t.t.). Tahrir wa Tanwir.

            Ita, K., Pramana, Y., & Righo, A. (2021). Implementasi interprofessional collaboration antar tenaga kesehatan yang ada di rumah sakit Indonesia: Literature review. Jurnal ProNers, 6(1), 1-6.

            Julian, I., Nugroho, G. A., Desmiaty, Y., & Rahmat, D. (2026). Peningkatan pemahaman kolaborasi farmasi dan gizi melalui edukasi interprofesional untuk pencegahan diabetes melitus tipe 2 pada mahasiswa STIKes Holistic Purwakarta. Jurnal SOLMA, 15(2), 2970-2981.

            Metilda, M., Dinda, P. R., Permadi, R. P., Rohman, R. N., Anjani, R., & Irmawati, I. (2025). Literature review: Kolaborasi interprofesional dalam praktik keperawatan untuk meningkatkan mutu pelayanan, keselamatan pasien dan kepuasan kerja tenaga kesehatan. SINERGI: Jurnal Riset Ilmiah, 2(12), 5183-5203.

            Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi). (2019). Kode Etik Ahli Gizi dan Penjelasan Pelaksanaan. Dewan Pimpinan Pusat Persagi.

            Kontributor: Rangga Alfizar

            Editor: Ahmad Ali, M.Pd.

            Share to

            Related News

            Tauhid sebagai Paradigma Pelayanan: Refl...

            by Cyrilla Maheswari • Oct 06 2026

            Pendahuluan Tenaga kesehatan merupakan bagian terpenting dalam keberlangsungan pelayanan kesehatan k...

            Ballighu ‘Anni Walau Ayah sebagai Pija...

            by Santika Ghazelya Rayputri • Oct 06 2026

            A. Pendahuluan Persoalan gizi masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan kesehatan di Indonesi...

            Hak Atas Kesehatan Sebagai Perwujudan Hi...

            by Alika Putri Soleha • Sep 28 2026

            1. Pendahuluan Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar sekaligus hak fundamental setiap manus...

            Hikmah Sakit Sebagai Sarana Penggugur Do...

            by Putri Maulyda Nasution • Sep 21 2026

            I. Pendahuluan Sakit merupakan bagian dari kehidupan manusia yang dapat memengaruhi kondisi fisik, p...

            Kompetensi Klinis dan Kedalaman Spiritua...

            by Shofwatun Nisa • Sep 17 2026

            I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...

            Akhlak Kepada Allah Sebagai Fondasi Spir...

            by Selvi Hertati Br Simbolon • Sep 17 2026

            PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...

            No comments yet.

            Please write your comment.

            Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

            *

            *

            Jurnal Dedikasi

            Jurnal Madani

            Jurnal Cendekia

            Other News

            Kecerdasan Buatan dan Etika Keilahian: Tantanga...

            1.  PENDAHULUAN Dunia teknik elektro saat ini sedang mengalami pergeseran yang sangat besar. Kita tidak lagi sekadar bicara soal otomatisas...

            23 May 2026

            Menyusun Desain Rencana Penyuluhan Anti Korupsi...

            1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu persoalan paling fundamental yang dihadapi bangsa Indonesia. Berdasarkan data Transparency Internati...

            12 Apr 2026

            Menelusuri Ma’rifatullah lewat Ayat Qauliyah ...

            PENDAHULUAN Ma’rifatullah merupakan proses mengenal Allah SWT melalui pemahaman, penghayatan, dan perenungan terhadap kebesaran serta kekuasaa...

            06 Sep 2026

            Evaluasi Penyuluhan Anti-Korupsi: Urgensi Indik...

            1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan permasalahan kompleks yang merugikan perekonomian, mengacaukan masyarakat, mengikis kepercayaan terhadap pemeri...

            Al-Qur’an dan Sunnah Sebagai Sumber Etika...

            A. Pendahuluan Setiap profesi memerlukan pedoman etik yang menjadi acuan berperilaku, tidak terkecuali profesi ahli gizi yang setiap harinya ber...

            back to top