Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Fitrah sebagai Dasar Perilaku Hidup Sehat: Refleksi bagi Pendekatan Edukasi Kesehatan Gizi

    • Nov 03 2026 • 5 Dilihat

    Pendahuluan

    Masalah gizi masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Survei Status Gizi Indonesia 2024 mencatat prevalensi stunting pada balita sebesar 19,8%, turun dari 21,5% pada 2023 (Kementerian Kesehatan RI, 2025). Angka ini membaik, tetapi masih berarti bahwa sekitar satu dari lima balita belum tumbuh optimal. Kekurangan gizi pada ibu dan anak tidak hanya meningkatkan risiko kesakitan dan kematian, tetapi juga berdampak jangka panjang pada perkembangan kognitif dan produktivitas (Black et al., 2013) Ironisnya, informasi tentang gizi sebenarnya mudah diperoleh. Namun banyak program edukasi berhenti pada penyampaian pengetahuan, sehingga perilaku makan keluarga tidak banyak berubah. Karena itu, edukasi gizi membutuhkan landasan yang lebih mendasar, yaitu pemahaman tentang manusia itu sendiri.

    Islam memandang manusia sebagai makhluk yang diciptakan dengan fitrah, yakni potensi bawaan untuk mengenal kebenaran dan cenderung pada kebaikan. Esai ini bertujuan menguraikan fitrah sebagai dasar perilaku hidup sehat, khususnya perilaku gizi. Esai ini juga merefleksikan implikasinya bagi pendekatan edukasi dan konseling gizi yang dilakukan tenaga gizi.

    Pembahasan

    Allah Swt. berfirman:

    فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

    “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” (QS. Ar-Rum [30]: 30)

    Menurut (Shihab, 2002), kata fitrah berakar dari fatara yang berarti mencipta, sehingga fitrah dipahami sebagai asal kejadian dan potensi bawaan manusia. (Katsir, 1999) menafsirkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan siap mengenal Tuhannya dan menerima kebenaran. Rasulullah saw. menegaskan peran lingkungan dalam menjaga potensi itu:

    كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

    “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari no. 1385)

    Hadis ini memang berbicara tentang keyakinan. Namun prinsipnya dapat diperluas ke ranah perilaku: manusia lahir dengan potensi yang lurus, sedangkan kebiasaan dibentuk oleh keluarga dan lingkungan. Fitrah juga tampak pada tubuh. Bayi sehat lahir dengan refleks hisap serta isyarat lapar dan kenyang yang jelas, sehingga tubuh dibekali mekanisme alami untuk mengatur kebutuhannya. Perilaku makan yang keliru, seperti memaksa anak menghabiskan makanan, memberi makanan manis berlebihan, atau mengikuti pantangan tanpa dasar, sering kali merupakan hasil pembentukan lingkungan dan bukan sifat bawaan.

    Prinsip keseimbangan dalam fitrah ini tampak dalam tuntunan makan. Allah berfirman,

     “وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ“

    Yang artinya “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf [7]: 31). Rasulullah saw. juga bersabda:

    مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

    “Tidak ada wadah yang diisi manusia yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2380)

    (al-Jauziyyah, 1994) menjelaskan bahwa makan memiliki tiga tingkatan: kebutuhan, kecukupan, dan kelebihan. Hadis di atas mengajarkan agar manusia berada pada tingkat kecukupan, yaitu tidak kekurangan dan tidak berlebihan. Pesan ini sejalan dengan kondisi gizi masa kini. (Black et al., 2013) menunjukkan bahwa negara berpendapatan rendah dan menengah menghadapi beban ganda malnutrisi, yakni kekurangan gizi dan kelebihan berat badan. Pedoman Gizi Seimbang pun menekankan keberagaman pangan, porsi yang tepat, dan kecukupan air (Kementerian Kesehatan RI, 2014). Dengan demikian, ajaran tentang keseimbangan dalam Islam dan prinsip gizi seimbang dalam ilmu gizi saling menguatkan.

    Fitrah juga tampak pada pemenuhan gizi awal kehidupan. Allah berfirman,

     “وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ“

     Yang artinya “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh” (QS. Al-Baqarah [2]: 233). Ayat ini sejalan dengan bukti ilmiah bahwa ASI, pemberian makan yang tepat, dan gizi ibu pada seribu hari pertama kehidupan menentukan pertumbuhan dan kesehatan anak (Black et al., 2013). Di sinilah tenaga gizi berada pada posisi strategis karena mendampingi ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga balita dalam menerapkan pola makan yang tepat.

    Edukasi gizi yang efektif juga perlu memahami bagaimana perilaku berubah. (Glanz et al., 2015) menegaskan bahwa perubahan perilaku kesehatan tidak cukup dengan pengetahuan, tetapi juga memerlukan motivasi, keyakinan akan kemampuan diri, dukungan sosial, dan lingkungan yang mendukung. Teori determinasi diri menambahkan bahwa perilaku yang bertahan lama tumbuh dari motivasi intrinsik, yaitu ketika seseorang merasa memiliki pilihan, merasa mampu, dan merasa terhubung dengan orang lain (Ryan & Deci, 2000). Menurut analisis penulis, konsep fitrah dapat dibaca sejalan dengan temuan ini. Karena manusia diciptakan dengan kecenderungan pada kebaikan, pendekatan yang paling tepat adalah membangkitkan kesadaran yang sudah ada dalam diri, bukan menakut-nakuti atau menggurui. Di sini terdapat gagasan yang ditawarkan esai ini: edukasi gizi berbasis fitrah, yang bergerak melalui tiga langkah. Pertama, mengenali isyarat alami tubuh serta kebutuhan gizi klien. Kedua, meluruskan kebiasaan dan keyakinan lingkungan yang menyimpang dari fitrah dan bukti ilmiah. Ketiga, menguatkan motivasi dengan memaknai tubuh sebagai amanah dari Allah yang wajib dijaga.

    Dalam praktik profesi, langkah ini dapat diterapkan tenaga gizi pada konseling gizi di puskesmas, posyandu, rumah sakit, maupun program gizi masyarakat. Misalnya, ketika seorang ibu menghindari ikan atau telur untuk balitanya karena pantangan turun-temurun, ahli gizi tidak cukup hanya melarang. Ahli gizi dapat memulai dengan mendengarkan alasan ibu, menjelaskan manfaat protein hewani bagi pertumbuhan anak berdasarkan bukti ilmiah, lalu menghubungkannya dengan nilai menjaga amanah anak yang diyakini ibu. Pada klien yang gemar makan berlebihan atau berat badannya berlebih, pesan “jangan berlebihan” dan prinsip sepertiga lambung dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran makan yang penuh perhatian (mindful eating), bukan sekadar daftar pantangan. Pendekatan dialogis ini menghormati nilai budaya dan agama klien, sekaligus melibatkan keluarga sebagai lingkungan yang membentuk kebiasaan makan. Nilai agama berfungsi memperkuat motivasi, sedangkan rekomendasi gizi tetap berpijak pada bukti ilmiah dan pedoman resmi.

    Penutup

    Fitrah dapat dipahami sebagai landasan perilaku hidup sehat: manusia diciptakan dengan potensi bawaan untuk menjaga keseimbangan, dan lingkungan berperan menjaga atau menyimpangkan potensi tersebut. Prinsip ini selaras dengan gizi seimbang dan dengan teori perubahan perilaku modern. Karena itu, edukasi gizi yang membangkitkan kesadaran dan motivasi dari dalam diri lebih bermakna daripada sekadar penyampaian informasi.

    Berdasarkan pembahasan tersebut, penulis menyarankan beberapa hal. Pertama, tenaga gizi sebaiknya mengintegrasikan pendekatan berbasis fitrah dalam konseling dan edukasi gizi, yaitu dengan mendengarkan klien, meluruskan kebiasaan keliru secara empatik, dan menguatkan motivasi spiritual tanpa meninggalkan dasar ilmiah. Kedua, institusi pendidikan gizi perlu memasukkan keterampilan konseling yang menghargai nilai agama dan budaya klien ke dalam kurikulum. Ketiga, penelitian lanjutan perlu menguji efektivitas pendekatan ini terhadap perubahan perilaku makan, misalnya pada ibu balita atau klien dengan berat badan berlebih.

    Daftar Pustaka

    al-Jauziyyah, I. Q. (1994). Zad al-Ma’ad fi hadyi khairil ’ibad. Mu’assasah ar-Risalah.

    Black, R. E., Victora, C. G., Walker, S. P., Bhutta, Z. A., Christian, P., de Onis, M., Ezzati, M., Grantham-McGregor, S., Katz, J., Martorell, R., & Uauy, R. (2013). Maternal and child undernutrition and overweight in low-income and middle-income countries. The Lancet, 382(9890), 427–451. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(13)60937-X

    Glanz, K., Rimer, B. K., & Viswanath, K. (2015). Health behavior: Theory, research, and practice (K. Glanz, B. K. Rimer, & K. Viswanath, Eds.; 5th ed.). Jossey-Bass.

    Katsir, I. (1999). Tafsir al-Qur’an al-’Azhim. Dar Thayyibah.

    Kementerian Kesehatan RI. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang. https://peraturan.bpk.go.id/Download/109856/Permenkes Nomor 41 Tahun 2014.pdf

    Kementerian Kesehatan RI. (2025). SSGI 2024: Prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8%. https://www.kemkes.go.id/id/ssgi-2024-prevalensi-stunting-nasional-turun-menjadi-198

    Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, 55(1), 68–78. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.1.68

    Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an (Vol. 10). Lentera Hati.

    Kontributor: Amanda Febryana Putri

    Editor: Ahmad Ali, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Pelayanan Spiritual bagi Pasien Nifas se...

    by Jenita Br Surbakti • Nov 03 2026

    I. Pendahuluan Masa nifas merupakan masa yang penting bagi seorang perempuan karena setelah melahirk...

    Penghormatan Martabat Pasien Sebagai Wuj...

    by Zahratus Syifa • Nov 03 2026

    Pendahuluan Dalam konteks asuhan keperawatan, penghormatan terhadap martabat pasien bukan sekadar pr...

    Maqashid Syariah sebagai Akar Filosofis ...

    by Keyla Calli Genia • Nov 02 2026

    PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...

    Narrative Medicine dan Integritas Seni d...

    by Ayla Azzura • Nov 02 2026

    Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...

    Transformasi Digital Pelayanan Gizi dala...

    by Fathahila Nailhan • Nov 02 2026

    1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...

    Konsep Ulul Albab sebagai Profil Ideal P...

    by Moses Beladio Sihombing • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Partisipasi Aktif sebagai Wujud Nyata Kekhalifa...

    Pendahuluan Manusia dalam Islam tidak hanya diposisikan sebagai makhluk individu yang memiliki kewajiban kepada Allah Swt., tetapi juga sebagai ...

    27 Oct 2026

    Nilai Agama dalam Kehidupan Sehari-Hari

    1. PENDAHULUAN Kehidupan modern di era globalisasi saat ini ditandai dengan kemajuan teknologi digital dan arus kemajuan yang sangat pesat. Peru...

    27 May 2026

    Etika Penggunaan Teknologi: Tanggung Jawab Mora...

    1. PENDAHULUAN Akselerasi teknologi informasi, khususnya Penggabungan antara Kecerdasan Buatan (AI) dan perangkat Internet of Things (IoT), tela...

    Al-Qur’an dan Sunnah sebagai Sumber Utama...

    Pendahuluan Gizi merupakan salah satu determinan utama derajat kesehatan individu maupun masyarakat, sehingga profesi ahli gizi menempati posisi...

    28 Oct 2026

    Etika Kepemimpinan Pelayanan Kesehatan Menurut ...

    I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan merupakan bidang yang berhubungan langsung dengan kehidupan, kesehatan, keselamatan, dan martabat manusia. Ol...

    back to top