Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Gereja Profetik: Menghidupi Imago Dei, Pembebasan Sosial, dan Transendensi Melalui Kasih Kristus dalam Pelayanan

    Sep 07 202640 Dilihat

    PENDAHULUAN

    Gereja pada mulanya dipanggil bukan hanya sebagai lembaga ritual yang menyelenggarakan ibadah, tetapi sebagai persekutuan umat yang hidup di tengah dunia dengan segala pergumulannya. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, gereja berhadapan dengan realitas kemiskinan, ketimpangan sosial, marginalisasi kelompok rentan, dan krisis makna hidup manusia modern. Situasi ini menuntut gereja untuk tidak berhenti pada dimensi spiritual privat, melainkan tampil sebagai suara kenabian (profetik) yang berani menyuarakan keadilan sekaligus menghadirkan kasih Allah secara nyata di tengah masyarakat.

    Pentingnya topik ini terletak pada kenyataan bahwa banyak gereja masa kini cenderung mereduksi panggilannya menjadi sekadar aktivitas seremonial, sehingga kehilangan daya profetiknya dalam menjawab persoalan kemanusiaan. Padahal, doktrin Imago Dei menegaskan bahwa setiap manusia memiliki martabat luhur karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26–27), sehingga penindasan terhadap sesama manusia sesungguhnya adalah pelanggaran terhadap kekudusan Allah sendiri. Di sisi lain, misi Yesus Kristus yang dinyatakan dalam Injil Lukas menegaskan bahwa pembebasan bagi yang tertindas merupakan inti dari kabar baik itu sendiri. Ketegangan antara kesalehan personal dan tanggung jawab sosial inilah yang perlu didudukkan kembali melalui gagasan gereja profetik.

    Berdasarkan latar belakang tersebut, tulisan ini bertujuan untuk menganalisis secara teologis dan ilmiah bagaimana konsep Imago Dei, pembebasan sosial, dan transendensi kasih Kristus membentuk identitas gereja sebagai komunitas profetik, serta merumuskan implikasi praktisnya bagi pelayanan gereja masa kini.

    PEMBAHASAN

    Secara konseptual, gereja profetik dapat dipahami sebagai gereja yang mengambil peran sebagaimana para nabi dalam Perjanjian Lama, yaitu menyuarakan kebenaran Allah, mengecam ketidakadilan, dan memperjuangkan pemulihan relasi antara Allah, manusia, dan ciptaan. Peran profetik ini tidak berdiri sendiri, melainkan berakar pada doktrin Imago Dei, yakni keyakinan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sehingga memiliki martabat yang tidak dapat direduksi oleh status sosial, ekonomi, ataupun politik. Ketika martabat tersebut diinjak oleh sistem yang menindas, gereja terpanggil untuk bersuara dan bertindak. Dengan demikian, Imago Dei bukan sekadar doktrin antropologis yang abstrak, melainkan landasan etis bagi keterlibatan sosial gereja.

    Landasan teologis utama bagi kesadaran profetik ini berakar kuat dalam narasi penciptaan dan penyataan karya Kristus. Dalam Kitab Kejadian 1:27 dicatat:

    “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” (Lembaga Alkitab Indonesia, 2012)

    Secara eksegetis, penggunaan istilah selem (gambar) dan demuth (rupa) menandaskan bahwa setiap individu memantulkan refleksi keagungan Pencipta. Konsep ini mematahkan pandangan hierarkis kuno dan menegaskan kesetaraan ontologis seluruh manusia. Penindasan sosial atau perendahan martabat manusia dengan demikian merupakan pelanggaran langsung terhadap kedaulatan Allah. Kesadaran akan Imago Dei ini menemukan bentuk operasionalnya dalam misi Yesus Kristus. Di rumah ibadat Nazaret, Yesus membacakan mandat pelayanan-Nya yang tertera dalam Injil Lukas 4:18–19:

    “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk memberitakan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Lembaga Alkitab Indonesia, 2012)

    Melalui pemaknaan teks ini, Yesus mendeklarasikan bahwa kabar baik (euangelion) tidak bersifat abstrak atau terbatas pada ruang eskatologis belaka. Kata “pembebasan” (aphesis) dalam bahasa Yunani merujuk pada pemulihan ikatan, pelepasan dari belenggu, dan pemulihan utuh yang membawa dampak nyata pada tatanan fisik, sosial, dan spiritual. Misi Kristus menggabungkan perjumpaan pribadi yang transenden dengan tindakan konkret membebaskan kaum terpinggirkan.

    Dalam tradisi teologis, salah satu pemikir yang relevan untuk memperdalam pemahaman Imago Dei adalah Emil Brunner, teolog Reformed asal Swiss. Brunner memandang bahwa citra Allah dalam diri manusia pertama-tama terletak pada relasi manusia dengan Allah, yakni tanggung jawabnya di hadapan Allah dan kemungkinan manusia untuk hidup dalam persekutuan dengan-Nya, sebagaimana dijelaskan oleh Lumintang, Hutasoit, dan Awule (2017). Menurut pandangan relasional ini, Allah yang berkehendak menyatakan kemuliaan-Nya menghendaki manusia menjadi makhluk yang menanggapi panggilan kasih-Nya dengan tanggapan kasih yang penuh syukur. Analisis atas pemikiran Brunner ini menegaskan bahwa Imago Dei bukan sekadar atribut statis yang melekat pada manusia, melainkan sebuah relasi dinamis: manusia sungguh menjadi gambar Allah ketika ia hidup dalam hubungan kasih dengan Allah dan, sebagai konsekuensinya, dengan sesama. Pemahaman relasional ini sejalan dengan semangat teologi pembebasan yang berkembang di Amerika Latin, di mana Gustavo Gutierrez menegaskan bahwa iman kepada Allah harus diwujudkan melalui praksis nyata bagi kaum miskin dan tertindas, sebab pembebasan manusia dari struktur dosa sosial merupakan bagian tak terpisahkan dari karya keselamatan Allah.

    Kajian ilmiah kontemporer turut memperkuat kerangka berpikir tersebut. Gunawan (2020) menegaskan bahwa etika Kristen yang berpijak pada Imago Dei semestinya melahirkan tanggung jawab sosial gereja yang konkret terhadap persoalan kemanusiaan di sekitarnya. Hoekema (2019) menjelaskan bahwa gambar Allah dalam diri manusia mencakup dimensi struktural sekaligus fungsional, sehingga penghayatan Imago Dei selalu berimplikasi pada cara manusia menjalankan mandat budaya dan relasi sosialnya. Manurung (2021) menambahkan bahwa gereja memiliki peran strategis dalam membela martabat manusia di tengah tekanan sosial-politik, sebagai wujud nyata dari penghayatan iman terhadap hak asasi manusia. Sejalan dengan itu, Krisdiyanti dan Harefa (2025) menemukan bahwa gereja di Indonesia dituntut untuk aktif merespons berbagai isu sosial di tengah keberagaman budaya dan agama, bukan sekadar menjadi penonton pasif. Sementara itu, Singgih (2000) mengingatkan bahwa keterlibatan gereja dalam ranah publik dan politik, termasuk dalam era reformasi Indonesia, merupakan konsekuensi logis dari iman yang hidup dan bukan sesuatu yang asing bagi panggilan gerejawi.

    Berdasarkan pemaparan tersebut, penulis melihat bahwa ketiga dimensi yang menjadi fokus tulisan ini, yaitu Imago Dei, pembebasan sosial, dan transendensi kasih Kristus, sesungguhnya membentuk satu kesatuan organik yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Imago Dei memberikan dasar teologis mengapa martabat manusia harus dihormati; pembebasan sosial merupakan wujud konkret dari penghormatan tersebut dalam ranah struktural dan sosial; sedangkan transendensi kasih Kristus menjadi sumber daya spiritual yang mencegah keterlibatan sosial gereja terjebak pada aktivisme yang kehilangan akar rohaninya. Tanpa transendensi, pembebasan sosial dapat merosot menjadi gerakan sosial semata yang kehilangan dimensi ilahi; sebaliknya, tanpa keberpihakan sosial, penghayatan transendensi dapat menjadi spiritualitas yang lepas dari realitas penderitaan sesama. Gereja profetik justru lahir dari ketegangan produktif antara kedua kutub ini, yaitu doa yang mengarah kepada tindakan dan tindakan yang berakar pada doa.

    Implementasi gagasan ini dalam praktik pelayanan gereja dapat diwujudkan melalui beberapa langkah konkret. Pertama, pelayanan pastoral perlu diperluas maknanya bukan hanya sebagai pendampingan rohani individual, tetapi juga sebagai advokasi terhadap jemaat dan masyarakat yang mengalami ketidakadilan struktural, misalnya melalui pelayanan diakonia transformatif yang memberdayakan, bukan sekadar karitatif. Kedua, mimbar gereja perlu menghadirkan khotbah yang menggabungkan kedalaman spiritual dengan kepekaan terhadap isu-isu keadilan sosial, kemiskinan, dan martabat kelompok rentan seperti penyandang disabilitas dan kaum minoritas. Ketiga, pendidikan Kristiani di gereja dan lembaga pendidikan teologi hendaknya membentuk jemaat yang kritis dan bertanggung jawab secara etis-politik, sehingga iman tidak lagi dipahami sebagai urusan privat semata. Bagi para pelayan gereja dan pekerja di bidang keilmuan teologi maupun pelayanan sosial, penghayatan gereja profetik ini menuntut integrasi antara kompetensi spiritual, kepekaan sosial, dan keberanian moral dalam menjalankan tugas panggilan mereka sehari-hari.

    PENUTUP

    Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gereja profetik adalah gereja yang menghidupi secara utuh tiga dimensi panggilannya, yaitu pengakuan terhadap martabat manusia sebagai Imago Dei, keterlibatan aktif dalam pembebasan sosial, dan pemeliharaan relasi transenden dengan Kristus sebagai sumber kasih yang menggerakkan pelayanan. Ketiga dimensi ini saling menopang dan tidak dapat direduksi menjadi salah satunya saja, sebab keseimbangan antara kedalaman spiritual dan tanggung jawab sosial merupakan ciri khas iman Kristen yang autentik.

    Penulis merekomendasikan agar gereja-gereja lokal secara berkala mengevaluasi program pelayanannya, apakah masih berorientasi pada aktivitas internal semata atau telah menyentuh persoalan keadilan sosial di tengah masyarakat. Selain itu, lembaga pendidikan teologi perlu memperkuat kurikulum yang mengintegrasikan kajian Imago Dei, teologi pembebasan, dan spiritualitas kontemplatif, sehingga menghasilkan pelayan-pelayan gereja yang tidak hanya saleh secara pribadi tetapi juga peka dan berani menyuarakan kebenaran di ruang publik. Penelitian lanjutan juga diperlukan untuk mengkaji secara empiris efektivitas program-program pelayanan profetik gereja di berbagai konteks sosial Indonesia yang beragam.

    DAFTAR PUSTAKA

    Alkitab. (2012). Alkitab Terjemahan Baru. Lembaga Alkitab Indonesia.

    Gunawan, B. (2020). Etika Kristen dalam terang Imago Dei: Tinjauan terhadap tanggung jawab sosial gereja masa kini. Jurnal Filsafat dan Teologi Kristen, 18(1), 67–84.

    Hoekema, A. A. (2019). Created in God’s image. Eerdmans.

    Krisdiyanti, N. A. M., & Harefa, O. (2025). Peran gereja dalam menanggapi isu sosial di tengah keberagaman budaya dan agama di Indonesia. Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(2), 124–136. https://doi.org/10.62282/juilmu.v2i2.124-136

    Lumintang, M., Hutasoit, B. M., & Awule, C. S. E. (2017). Memahami Imago Dei sebagai potensi ilahi dalam pelayanan Kristiani. Epigraphe: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani, 1(1), 39–52.

    Manurung, R. (2021). Teologi dan hak asasi manusia: Peran gereja dalam membela martabat manusia di tengah tekanan sosial politik. BPK Gunung Mulia. Singgih, E. G. (2000). Iman dan politik dalam era reformasi di Indonesia. BPK Gunung Mulia.

    Kontributor: Yolanda Margaretha Harefa

    Editor: M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Kompetensi Klinis dan Kedalaman Spiritua...

    by Shofwatun Nisa Sep 17 2026

    I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...

    Akhlak Kepada Allah Sebagai Fondasi Spir...

    by Selvi Hertati Br Simbolon Sep 17 2026

    PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...

    Cinta Allah pada Keindahan sebagai Landa...

    by Naswa Nabila Putri Sep 16 2026

    I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...

    Benteng Akhlak Ahli Gizi dalam Menghadap...

    by Anggun Rizqiyana Sep 15 2026

    Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...

    Budaya Kerja Berbasis Nilai Ihsan dalam ...

    by Mutiara Situmorang Sep 15 2026

    I. Pendahuluan  Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...

    Kisah Penumpang Kapal dalam Hadis Nabi s...

    by Jennysa Maulani Sep 15 2026

    I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Internalisasi Kerangka SATF Sebagai Karakter Pr...

    A. Pendahuluan Profesi bidan menempati posisi yang sangat khas dalam kehidupan manusia karena bersentuhan langsung dengan peristiwa paling menda...

    RELASI AGAMA DAN PANCASILA

    Harmoni Nilai Ketuhanan dalam Dasar Negara Indonesia 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat keberaga...

    07 Jun 2026

    Transparasi Anggaran: Kunci Pencegahan Korupsi

    1. PENDAHULUAN Korupsi telah lama menjadi masalah sistemik yang menghambat pembangunan ekonomi, merusak kepercayaan publik, dan memperdalam kese...

    09 Apr 2026

    Pengendalian Amarah dan Pemaafan Sebagai Wujud ...

    Pendahuluan Bidan adalah tenaga kesehatan yang sering berhadapan langsung dengan pasien. Dalam menjalankan tugasnya, bidan tidak hanya membutuhk...

    Kreativitas dalam Penyuluhan: Kunci Menyampaika...

    1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan paling destruktif yang dihadapi Indonesia sejak era reformasi. Berdasarkan data Transpa...

    back to top