Yesika Riani Simanungkalit • Oct 30 2026 • 18 Dilihat

Proses kelahiran sering kali direduksi menjadi sekadar peristiwa biomedis: serangkaian prosedur klinis yang diukur dari denyut jantung janin, pembukaan serviks, dan lama persalinan. Reduksi semacam ini, meskipun bermanfaat secara teknis, berpotensi mengaburkan dimensi kemanusiaan yang melekat pada peristiwa kelahiran, yaitu penghormatan terhadap martabat ibu sebagai subjek, bukan sekadar objek tindakan medis. Fenomena kekerasan obstetrik, minimnya informed consent, dan sikap paternalistik tenaga kesehatan terhadap perempuan bersalin menunjukkan bahwa dehumanisasi dalam pelayanan kelahiran masih menjadi persoalan nyata di berbagai fasilitas kesehatan.
Di tengah persoalan tersebut, agama sesungguhnya memiliki fungsi profetik yang relevan untuk dihadirkan kembali, yaitu fungsi menyuarakan keadilan, membela martabat manusia yang rentan, dan menumbuhkan harapan akan tatanan yang lebih manusiawi. Dalam tradisi Kristen, fungsi profetik ini berakar pada kasih dan keadilan Allah yang berpihak pada mereka yang lemah, termasuk perempuan yang sedang berjuang melahirkan kehidupan baru. Esai ini bertujuan menganalisis bagaimana fungsi profetik agama Kristen dapat menjadi kerangka etis-teologis bagi terwujudnya praktik kelahiran yang memanusiakan, sekaligus menegaskan relevansinya bagi implementasi pelayanan kebidanan yang berpusat pada martabat ibu dan bayi.
Fungsi profetik dalam agama Kristen tidak terbatas pada tindakan meramalkan masa depan, melainkan pada peran mengkritisi ketidakadilan yang sedang berlangsung sekaligus membangkitkan imajinasi tentang tatanan hidup yang lebih adil. Theolog Walter Brueggemann, dalam karyanya The Prophetic Imagination, menjelaskan bahwa tugas profetik memiliki dua sisi yang saling melengkapi, yakni mengkritik tatanan yang menindas (criticizing) dan menghadirkan energi harapan bagi realitas alternatif (energizing). Para nabi Perjanjian Lama seperti Amos, Yesaya, dan Mikha secara konsisten menyuarakan pembelaan terhadap kaum lemah, yatim, janda, dan orang miskin, sebagai wujud kehendak Allah yang berpihak pada martabat manusia yang terpinggirkan. Karya profetik ini kemudian mencapai puncaknya dalam pribadi dan pelayanan Yesus Kristus, yang senantiasa menghadirkan pemulihan dan penghormatan bagi mereka yang direndahkan oleh sistem sosial pada zamannya.
Landasan teologis mengenai nilai kehidupan sejak dalam kandungan dapat ditemukan dalam Mazmur 139:13-14, yang menegaskan bahwa manusia dibentuk dan ditenun oleh Allah sendiri di dalam rahim ibunya, sehingga keberadaannya digambarkan sebagai sesuatu yang dahsyat dan ajaib (Alkitab, Mazmur 139:14). Ayat ini, bila dibaca bersama Kejadian 1:27 tentang manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei), memberikan dasar teologis bahwa setiap proses kelahiran adalah peristiwa sakral yang menyingkapkan karya penciptaan Allah, bukan semata proses biologis yang netral nilai. Implikasinya, ibu yang sedang menjalani proses melahirkan patut diperlakukan sebagai penjaga sekaligus pelaku utama dari peristiwa penciptaan tersebut, bukan sebagai objek pasif dari tindakan medis.
Dalam Perjanjian Baru, Injil Yohanes 16:21 menggambarkan pengalaman perempuan yang bersalin dengan penuh empati, yaitu bahwa perempuan berdukacita pada saatnya melahirkan, namun sukacita menggantikan penderitaan itu setelah anaknya lahir ke dunia (Alkitab, Yohanes 16:21). Ungkapan ini menunjukkan pengakuan Yesus sendiri atas beratnya penderitaan fisik dan psikologis yang dialami perempuan dalam proses kelahiran, sekaligus menegaskan bahwa penderitaan tersebut layak mendapat pendampingan penuh empati, bukan diabaikan atau dianggap sebagai bagian rutin dari prosedur klinis semata. Kisah kelahiran Yesus sendiri dalam Injil Lukas, yang diwarnai kunjungan Maria kepada Elisabet dan pengakuan atas berkat yang mereka alami sebagai perempuan (Lukas 1:41-45), turut memperlihatkan penghormatan mendalam terhadap pengalaman kehamilan dan kelahiran perempuan sebagai peristiwa yang dirayakan dalam komunitas iman, bukan disembunyikan atau diperlakukan tanpa penghargaan.
Analisis teologis di atas selaras dengan kajian ilmiah kontemporer tentang gerakan pelayanan persalinan yang menghormati martabat perempuan. World Health Organization (2018) dalam pedomannya tentang perawatan intrapartum menegaskan pentingnya penghormatan terhadap martabat, otonomi, dan partisipasi aktif ibu dalam setiap pengambilan keputusan selama proses persalinan. Sejalan dengan itu, kajian Sadler dkk. (2016) mengidentifikasi bahwa kekerasan obstetrik bersumber dari dimensi struktural pelayanan kesehatan yang bersifat paternalistik dan mengabaikan hak-hak dasar perempuan bersalin. Kedua rujukan ilmiah ini memperkuat argumen bahwa nilai-nilai profetik keagamaan, yaitu keberpihakan pada yang lemah dan penghormatan terhadap martabat manusia, memiliki relevansi langsung dengan standar pelayanan kebidanan yang berbasis bukti dan berorientasi pada hak asasi manusia.
Pemikiran teolog Stanley Grenz mengenai relational self dalam kerangka Imago Dei turut memperkaya analisis ini, dengan menegaskan bahwa martabat manusia tidak berdiri sendiri, melainkan terwujud dalam relasi yang saling menghormati antarpribadi (Grenz, 2001). Prinsip relasional ini secara langsung relevan dengan hubungan antara bidan dan ibu bersalin, yang idealnya dibangun di atas kesetaraan, komunikasi terbuka, dan penghormatan, bukan hubungan kuasa yang timpang. Dengan demikian, fungsi profetik agama Kristen, yang menuntut keberpihakan pada yang lemah dan penghormatan atas martabat manusia, dapat diterjemahkan secara konkret dalam praktik kebidanan melalui penerapan asuhan sayang ibu, yaitu pendampingan yang berempati, penghormatan atas otonomi ibu dalam mengambil keputusan, penyediaan informasi yang jujur dan memadai, serta penolakan tegas terhadap segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat perempuan selama proses persalinan.
Implementasi nilai profetik tersebut dalam praktik profesi kebidanan dapat diwujudkan melalui peran bidan sebagai penyuara kepentingan ibu, advokat bagi hak-hak pasien, serta pendamping spiritual bagi ibu yang membutuhkan penguatan iman di tengah proses persalinan. Bidan yang menghayati fungsi profetik ini akan senantiasa mengutamakan kasih dan keadilan dalam setiap tindakan, memastikan bahwa setiap ibu diperlakukan sebagai pribadi yang bermartabat dan bukan sekadar pasien yang menjalani prosedur. Dengan cara ini, pelayanan kebidanan tidak hanya berorientasi pada keselamatan fisik ibu dan bayi, tetapi juga pada pemulihan makna kelahiran sebagai peristiwa sakral yang memanusiakan.
Fungsi profetik agama Kristen, yang berakar pada kasih, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia, memberikan landasan teologis-etis yang kuat bagi terwujudnya kelahiran yang memanusiakan. Ayat-ayat Alkitab dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru menegaskan bahwa kehidupan sejak dalam kandungan dan proses kelahiran adalah peristiwa sakral yang menuntut penghormatan penuh terhadap martabat perempuan, sebuah pandangan yang selaras dengan kajian ilmiah kontemporer tentang pelayanan persalinan yang berpusat pada hak dan otonomi ibu. Oleh karena itu, disarankan agar tenaga kesehatan, khususnya bidan, secara sadar menginternalisasi nilai-nilai profetik tersebut dalam praktik sehari-hari, sehingga pelayanan kebidanan tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga menghadirkan keadilan dan kasih sebagaimana dikehendaki oleh iman Kristen.
Alkitab. (2000). Alkitab Terjemahan Baru. Lembaga Alkitab Indonesia. https://indonesian.bible/
Brueggemann, W. (2001). The prophetic imagination (2nd ed.). Fortress Press. https://www.stanleyjgrenz.com/Books/social-god-relational-self.html
Grenz, S. J. (2001). The social god and the relational self: A Trinitarian theology of the imago Dei. Westminster John Knox Press. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1016/j.rhm.2016.04.002
Sadler, M., Santos, M. J., Ruiz-Berdún, D., Rojas, G. L., Skoko, E., Gillen, P., & Clausen, J. A. (2016). Moving beyond disrespect and abuse: Addressing the structural dimensions of obstetric violence. Reproductive Health Matters, 24(47), 47–55.
World Health Organization. (2018). WHO recommendations: Intrapartum care for a positive childbirth experience. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789241550215
Kontributor:Â Yesika Riani Simanungkalit
Editor:Â Dani Habibi, M.Ag.
PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...
Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...
1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...
PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...
PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...
Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

1. PENDAHULUAN Dalam dua dekade terakhir, Indonesia mencatat pertumbuhan ekon...

A. Pendahuluan Profesi Kesehatan Seperti, dokter, perawat, bidan, hingga tenaga farmasi beroperasi dalam struktur waktu yang paling tidak kenal ...

Pendahuluan Politik dalam pandangan Islam tidak hanya berkaitan dengan kekuasaan, tetapi juga dengan keadilan dan tanggung jawab. Nilai tersebut...

Pendahuluan Gizi merupakan salah satu determinan utama derajat kesehatan individu maupun masyarakat, sehingga profesi ahli gizi menempati posisi...

I. PENDAHULUAN Pelayanan gizi merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan karena keadaan gizi seseorang dapat memengaruhi kondisi tubuh, ...

No comments yet.