Grace Rose Lina Silaban • Oct 19 2026 • 36 Dilihat

Manusia merupakan ciptaan Allah yang memiliki kedudukan istimewa karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dalam Kejadian 1:27 dikatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Hal tersebut menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki martabat dan nilai yang harus dihormati. Manusia juga diberikan akal untuk berpikir, keinginan atau dorongan dalam dirinya, serta kehendak untuk menentukan pilihan. Kemampuan tersebut membuat manusia dapat mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Topik mengenai akal, nafsu, dan kehendak penting untuk dibahas karena ketiganya berkaitan dengan kemampuan manusia dalam mengambil keputusan. Dalam perspektif Kristen, kebebasan manusia bukanlah kebebasan tanpa batas, tetapi harus digunakan dengan tanggung jawab dan kasih kepada sesama. Roma 12:2 mengajarkan tentang pembaruan budi agar manusia mampu membedakan kehendak Allah, sedangkan Galatia 5:22-23 mengajarkan tentang penguasaan diri. Prinsip tersebut memiliki hubungan dengan penghormatan terhadap otonomi pasien dalam pelayanan.
Tujuan penulisan esai ini adalah untuk menjelaskan keistimewaan akal, keinginan, dan kehendak manusia dalam perspektif Kristen serta menganalisis hubungannya dengan penghormatan terhadap otonomi pasien.
Manusia merupakan ciptaan Allah yang memiliki martabat dan nilai yang melekat pada dirinya. Dalam Kejadian 1:27 dinyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dasar tersebut menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki nilai yang harus dihormati, termasuk ketika seseorang sedang mengalami masalah kesehatan dan membutuhkan pelayanan gizi. Dalam pelayanan kesehatan, pasien tidak seharusnya dipandang hanya sebagai objek yang menerima tindakan, tetapi sebagai pribadi yang memiliki kemampuan untuk berpikir, memiliki keinginan, menentukan pilihan, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil. Ferdynus (2024) menjelaskan bahwa martabat manusia merupakan nilai yang penting dalam pelayanan kesehatan dan tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh konsep otonomi. Oleh karena itu, penghormatan terhadap martabat pasien perlu menjadi bagian dari hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien.
Akal merupakan kemampuan manusia untuk berpikir, memahami informasi, mempertimbangkan pilihan, serta mengambil keputusan. Dalam perspektif Kristen, kemampuan menggunakan akal perlu diarahkan kepada hal yang baik dan benar. Roma 12:2 mengajarkan tentang pembaruan budi sehingga manusia mampu membedakan kehendak Allah. Ayat tersebut dapat dikaitkan dengan pelayanan gizi karena pasien membutuhkan informasi yang benar agar mampu memahami kondisi gizinya, manfaat suatu intervensi, risiko, serta pilihan makanan atau tindakan yang sesuai dengan kebutuhannya. Dengan demikian, ahli gizi tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga membantu pasien memahami alasan di balik rekomendasi gizi yang diberikan.
Lozano (2024) menjelaskan bahwa otonomi merupakan salah satu prinsip penting dalam bioetika dan berkaitan dengan penghormatan terhadap individu. Dalam perspektif Kristen, penghormatan terhadap otonomi tetap perlu ditempatkan dalam kerangka martabat manusia dan tanggung jawab moral. Artinya, pasien memiliki hak untuk terlibat dalam keputusan mengenai dirinya, sedangkan tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi yang memadai agar keputusan tersebut dapat dibuat secara sadar. Prinsip ini sesuai dengan pelayanan gizi yang berpusat pada pasien, karena ahli gizi perlu melibatkan pasien dalam menentukan tujuan dan pilihan intervensi yang sesuai dengan kondisi serta kebutuhan pasien.
Bukti empiris menunjukkan bahwa keterlibatan pasien dalam pelayanan gizi masih menjadi tantangan. Lina Al-Adili (2022) melakukan penelitian melalui enam diskusi kelompok dengan 29 dietisien klinis di pelayanan primer dan rumah sakit di Swedia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para dietisien berusaha memahami cerita, kemampuan, dan sumber daya pasien sebelum menentukan tujuan, tetapi masih ditemukan kurangnya partisipasi pasien dalam penetapan tujuan intervensi gizi. Penelitian tersebut menunjukkan pentingnya penerapan shared decision-making agar tujuan pelayanan gizi tidak hanya ditentukan berdasarkan pertimbangan tenaga kesehatan, tetapi juga mempertimbangkan tujuan dan kebutuhan pasien.
Keinginan atau dorongan manusia juga merupakan bagian yang perlu diperhatikan. Dalam perspektif Kristen, keinginan tidak seharusnya diikuti tanpa pertimbangan, tetapi perlu diarahkan melalui penguasaan diri. Galatia 5:22-23 menyebutkan penguasaan diri sebagai salah satu buah Roh. Dalam pelayanan gizi, prinsip penguasaan diri dapat dikaitkan dengan kemampuan pasien dalam mengatur kebiasaan makan dan memilih makanan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatannya. Ahli gizi tidak seharusnya menyalahkan atau mempermalukan pasien ketika pasien mengalami kesulitan mengubah pola makan. Sebaliknya, ahli gizi perlu membantu pasien menemukan strategi yang realistis dan sesuai dengan kemampuan pasien.
Penelitian Kirsten Whitehead (2022) mengenai komunikasi dietisien menunjukkan bahwa pelayanan yang berpusat pada pasien melibatkan partisipasi pasien, pencarian pendapat pasien, serta proses pengambilan keputusan bersama. Penelitian tersebut juga menunjukkan pentingnya keterampilan komunikasi dalam membantu pasien merasa didengarkan, dihargai, dihormati, dan didukung. Hal ini memperkuat bahwa penguasaan diri dan perubahan perilaku makan tidak cukup hanya dengan memberikan daftar makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Pasien perlu dilibatkan dalam proses sehingga perubahan pola makan dapat disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan mereka.
Kehendak merupakan kemampuan manusia untuk menentukan pilihan dan mengambil keputusan. Dalam Galatia 5:13, kebebasan manusia diarahkan untuk digunakan dalam kasih dan pelayanan kepada sesama. Berdasarkan prinsip tersebut, kebebasan memilih dalam pelayanan gizi perlu disertai tanggung jawab. Pasien memiliki hak untuk memilih makanan dan menentukan keputusan terkait intervensi gizinya setelah memperoleh informasi yang memadai. Namun, ahli gizi tetap berkewajiban menjelaskan manfaat, risiko, serta konsekuensi dari setiap pilihan yang tersedia.
Dalam pelayanan gizi, penghormatan terhadap kehendak pasien dapat diterapkan melalui proses shared decision-making. Sebagai contoh, ketika pasien membutuhkan perubahan pola makan, ahli gizi tidak langsung menetapkan seluruh menu tanpa melibatkan pasien. Ahli gizi dapat mendiskusikan kebiasaan makan pasien, makanan yang disukai, kondisi ekonomi, budaya, keyakinan, kemampuan menyediakan makanan, serta tujuan kesehatan pasien. Setelah itu, ahli gizi dan pasien bersama-sama menentukan perubahan yang paling memungkinkan dilakukan. Dengan cara tersebut, keputusan gizi tetap berdasarkan ilmu dan kebutuhan kesehatan, tetapi juga mempertimbangkan pilihan serta keadaan pasien.
Penelitian William M. Tierney (2023) mengenai pengembangan alat untuk shared decision-making tentang diet di pelayanan primer menunjukkan pentingnya pendekatan yang berorientasi pada pengguna dalam membantu pasien dan tenaga kesehatan mengambil keputusan mengenai pola makan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa keputusan terkait diet sebaiknya tidak hanya berpusat pada rekomendasi kesehatan, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan dan pilihan orang yang menerima pelayanan gizi.
Penghormatan terhadap otonomi juga berkaitan dengan hati nurani, nilai, dan keyakinan seseorang. Dalam pelayanan gizi, pasien dapat memiliki kebiasaan makan yang dipengaruhi oleh agama, budaya, keluarga, dan nilai pribadi. Kirchhoffer (2023) menjelaskan bahwa penghormatan terhadap hati nurani berkaitan dengan penghormatan terhadap martabat manusia karena manusia memiliki kemampuan untuk menggunakan akal, membuat pilihan, dan mempertimbangkan nilai moral. Oleh karena itu, ahli gizi perlu memahami latar belakang pasien dan tidak langsung menganggap pilihan makanan pasien sebagai sesuatu yang salah tanpa memahami alasan di baliknya.
Nilai kasih juga menjadi bagian penting pelayanan berdasarkan ajaran Kristen. Markus 12:31 mengajarkan untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dalam pelayanan gizi, prinsip kasih dapat diwujudkan melalui komunikasi yang sopan, tidak menghakimi, tidak mempermalukan pasien karena kondisi tubuh atau pola makannya, serta memberikan dukungan ketika pasien mengalami kesulitan. Stahl (2025) menempatkan martabat manusia, kepedulian, hubungan antarmanusia, dan perhatian terhadap kelompok rentan sebagai bagian penting dalam pendekatan bioetika Kristen.
Penerapan prinsip tersebut semakin penting karena pelayanan gizi membutuhkan hubungan kerja sama antara ahli gizi dan pasien. Lina Al-Adili (2022) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara tujuan yang berorientasi klinis dan dietisien dengan tujuan pribadi pasien. Perbedaan tersebut menjadi hambatan dalam menetapkan tujuan intervensi gizi. Oleh karena itu, ahli gizi perlu mendengarkan tujuan pasien dan mencari titik temu antara kebutuhan klinis dengan kondisi serta kemampuan pasien.
Dengan demikian, penghormatan terhadap otonomi dalam pelayanan gizi tidak berarti ahli gizi membiarkan pasien menentukan segala sesuatu tanpa arahan. Otonomi berarti memberikan kesempatan kepada pasien untuk memahami informasi, menyampaikan nilai dan keinginannya, mempertimbangkan pilihan, serta ikut menentukan keputusan. Ahli gizi tetap mempunyai tanggung jawab profesional untuk memberikan rekomendasi berdasarkan bukti ilmiah dan menjelaskan manfaat maupun risiko dari pilihan yang tersedia. Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip pelayanan yang berpusat pada pasien dan shared decision-making (Lina Al-Adili, 2022; Kirsten Whitehead, 2022).
Berdasarkan uraian tersebut, akal, keinginan, dan kehendak manusia memiliki hubungan yang erat dengan penghormatan terhadap otonomi. Akal memungkinkan manusia memahami dan mempertimbangkan informasi, keinginan perlu diarahkan melalui penguasaan diri, sedangkan kehendak memungkinkan manusia menentukan pilihan secara bertanggung jawab. Dalam perspektif Kristen, kemampuan tersebut perlu digunakan dengan berlandaskan kasih, martabat manusia, tanggung jawab moral, dan penghormatan terhadap kehidupan. Dalam pelayanan gizi, prinsip tersebut diwujudkan melalui pemberian informasi yang benar, komunikasi yang menghargai pasien, pelibatan pasien dalam penetapan tujuan, serta pengambilan keputusan. Dengan demikian, pelayanan gizi tidak hanya berorientasi pada pencapaian tujuan kesehatan, tetapi juga menghormati pasien sebagai manusia yang memiliki martabat dan kehendak.
Keistimewaan akal, keinginan, dan kehendak merupakan kemampuan manusia yang diberikan Allah. Akal membantu manusia berpikir dan mempertimbangkan sesuatu, keinginan perlu dikendalikan dengan penguasaan diri, sedangkan kehendak memungkinkan manusia menentukan pilihan secara bertanggung jawab. Berdasarkan Kejadian 1:27, manusia memiliki martabat karena diciptakan menurut gambar Allah. Oleh sebab itu, dalam pelayanan gizi, setiap pasien harus dihargai sebagai pribadi yang memiliki martabat dan hak untuk terlibat dalam pengambilan keputusan. Penghormatan terhadap otonomi harus dilakukan dengan memberikan informasi yang jelas, memberikan pelayanan dengan kasih, serta tetap memperhatikan tanggung jawab moral dan keselamatan. Dengan demikian, pelayanan gizi dapat mencerminkan nilai-nilai Kristen melalui kasih, penghormatan terhadap martabat manusia, dan tanggung jawab dalam melayani sesama.
Ferdynus, M. P. (2024). Apakah martabat masih diperlukan dalam perawatan kesehatan? Dari definisi hingga pengakuan martabat manusia. Jurnal Agama dan Kesehatan.
Kirchhoffer, D. G. (2023). Martabat, hati nurani, dan pluralisme agama dalam layanan kesehatan: Argumen untuk asumsi yang mendukung penghormatan terhadap keyakinan agama. Bioetika.
Kirsten Whitehead, T. P. (2022). Pandangan ahli gizi Inggris tentang keterampilan komunikasi untuk perubahan perilaku: Survei tindak lanjut 10 tahun. Jurnal Nutrisi dan Dietetik Manusia.
Lina Al-Adili, J. M.-M. (2022). Menetapkan tujuan dengan pasien yang berisiko kekurangan gizi: Studi kelompok fokus dengan ahli diet klinis. Pendidikan dan Konseling Pasien.
Lozano, A. J. (2024). Prinsip-prinsip bioetika untuk dokter Kristen: Otonomi dan penghormatan. Linacre Quarterly.
Stahl, D. (2025). AI dan martabat manusia dalam pelayanan kesehatan: Penilaian bioetika Kristen. Jurnal Iman & Urusan Internasional.
William M. Tierney, J. M. (2023). Desain berpusat pada pengguna untuk alat klinis dalam pengambilan keputusan bersama tentang diet di pelayanan kesehatan primer: Tierney dkk. Jurnal Kedokteran Internal Umum.
Kontributor:Â Grace Rose Lina Silaban
Editor:Â M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.
I. Pendahuluan Profesi keperawatan merupakan salah satu profesi kesehatan yang memiliki tanggung jaw...
PENDAHULUAN Keperawatan merupakan profesi yang berperan sentral dalam sistem pelayanan kesehatan kar...
Pendahuluan Masalah gizi masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Survei Status Gi...
I. Pendahuluan Masa nifas merupakan masa yang penting bagi seorang perempuan karena setelah melahirk...
Pendahuluan Dalam konteks asuhan keperawatan, penghormatan terhadap martabat pasien bukan sekadar pr...
PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...

Sinergi Zakat dan Pajak untuk Kesejahteraan Bersama 1. PENDAHULUAN Indonesia hingga kini masih bergumul dengan masalah ketimpangan sosial-ekonom...

PENDAHULUAN Profesi keperawatan memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan pelayanan kepada individu, keluarga, dan masyarakat. Perawat tida...

PENDAHULUAN Korupsi di Indonesia bagaikan penyakit kronis yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagaimana dikemukak...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan permasalahan kompleks yang merugikan perekonomian, mengacaukan masyarakat, mengikis kepercayaan terhadap pemeri...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu tantangan serius yang dapat menghambat pembangunan sektor kesehatan di berbagai negara. Praktik koru...

No comments yet.