Aqela Alyfia Thasbitha Zahra • Oct 28 2026 • 24 Dilihat

Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam pelayanan kesehatan perempuan, ibu, bayi, dan keluarga. Dalam menjalankan profesinya, seorang bidan tidak hanya membutuhkan pengetahuan dan keterampilan klinis, tetapi juga sikap profesional dalam berkomunikasi, mengambil keputusan, serta memberikan pelayanan kepada pasien. Hal ini karena pelayanan kebidanan berhubungan langsung dengan manusia yang memiliki kondisi fisik, psikologis, sosial, dan kebutuhan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, profesionalisme bidan seharusnya tidak hanya dilihat dari kemampuan dalam melakukan tindakan kebidanan, tetapi juga dari karakter dan tanggung jawab yang dimiliki.
Dalam perspektif Islam, iman, ilmu, dan amal merupakan hal yang saling berkaitan. Ilmu yang dimiliki seseorang seharusnya tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi diwujudkan dalam tindakan yang memberikan manfaat. Begitu juga dengan iman yang seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari. Ahmad (2022) membahas pendidikan karakter melalui integrasi iman, ilmu, dan amal sebagai satu kesatuan yang dapat membentuk perilaku dan karakter seseorang. Konsep tersebut dapat diterapkan dalam pendidikan kebidanan karena mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk menguasai teori dan keterampilan, tetapi juga untuk memiliki sikap yang sesuai dengan tanggung jawab profesinya.
Gambaran mengenai hubungan antara dasar yang kuat dan hasil yang baik dapat ditemukan dalam Al-Qur’an melalui perumpamaan pohon yang baik. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 24 juga QS. Ibrahim ayat 25 yang menjelaskan buah yang dihasilkan:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
Artinya: “Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit.” (QS. Ibrahim [14]: 24).
QS. Ibrahim [14]: 25
تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Artinya: “Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.”
Ayat tersebut dapat menjadi refleksi bagi mahasiswa kebidanan bahwa suatu profesi yang baik juga membutuhkan dasar yang kuat. Dalam tulisan ini, akar pohon dapat dimaknai sebagai iman, batang dan cabangnya sebagai ilmu serta kompetensi, sedangkan buahnya sebagai amal atau pelayanan yang memberikan manfaat. Dengan menggunakan metafora tersebut, profesionalisme bidan dapat dipahami sebagai sesuatu yang dibangun secara bertahap melalui perpaduan antara nilai, pengetahuan, dan tindakan nyata.
Pohon yang baik memiliki akar yang kuat sebagai dasar pertumbuhannya. Jika dikaitkan dengan profesionalisme bidan, akar tersebut dapat menggambarkan iman dan nilai moral yang menjadi dasar dalam menjalankan profesi. Seorang bidan pada dasarnya memegang amanah karena berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan manusia. Kesadaran bahwa pekerjaan merupakan amanah dapat membantu seorang bidan untuk menjalankan tugas dengan lebih bertanggung jawab dan tidak hanya berorientasi pada penyelesaian tindakan.
Nilai amanah tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. dalam QS. An-Nisa ayat 58:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. An-Nisa [4]: 58).
Dalam praktik kebidanan, amanah dapat diwujudkan melalui sikap jujur, menjaga kerahasiaan pasien, menghargai keputusan pasien, memberikan informasi dengan benar, serta melaksanakan pelayanan sesuai dengan kompetensi. Karakter seperti ini tidak selalu terlihat dalam bentuk tindakan klinis, tetapi justru menjadi bagian penting dari bagaimana seorang bidan menjalankan profesinya.
Akar yang kuat saja belum cukup untuk membuat pohon tumbuh dan berkembang. Pohon membutuhkan batang dan cabang yang menggambarkan proses pertumbuhan. Dalam konteks kebidanan, bagian tersebut dapat dikaitkan dengan ilmu dan kompetensi. Mahasiswa kebidanan perlu memahami bahwa ilmu merupakan dasar dalam memberikan pelayanan yang aman. Pengetahuan mengenai kehamilan, persalinan, masa nifas, bayi baru lahir, kesehatan reproduksi, serta berbagai kondisi yang membutuhkan perhatian khusus harus disertai dengan keterampilan yang sesuai.
Islam sendiri memberikan perhatian besar terhadap proses mencari ilmu. Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).
Hadis tersebut dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk tidak melihat proses belajar hanya sebagai kewajiban untuk mendapatkan nilai. Dalam bidang kesehatan, ilmu yang dipelajari nantinya akan digunakan ketika berhadapan dengan kondisi nyata. Karena itu, mahasiswa kebidanan perlu membiasakan diri untuk belajar secara bertanggung jawab, mengikuti perkembangan ilmu, dan menyadari bahwa kompetensi harus terus dikembangkan.
Hal tersebut juga didukung oleh penelitian Chakraborty et al. (2023) mengenai cakupan praktik dan kompetensi bidan di beberapa negara. Penelitian tersebut menunjukkan adanya variasi dalam kompetensi dan ruang lingkup praktik bidan jika dibandingkan dengan standar internasional. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa keterampilan bidan dapat diperoleh melalui pendidikan sebelum bekerja, pelatihan setelah bekerja, maupun pengalaman di tempat kerja. Temuan ini memperlihatkan bahwa pendidikan dan pengembangan kompetensi merupakan proses yang berkelanjutan dalam profesi kebidanan.
Selanjutnya, ilmu perlu diwujudkan dalam amal. Dalam metafora pohon, amal dapat digambarkan sebagai buah. Pohon dikatakan memberikan manfaat ketika menghasilkan buah yang dapat dirasakan. Begitu juga dengan ilmu yang dimiliki seorang bidan. Pengetahuan dan keterampilan akan memiliki nilai yang lebih besar ketika digunakan untuk memberikan pelayanan kepada pasien dan masyarakat.
Hubungan antara iman, ilmu, dan amal juga dapat dilihat dari firman Allah Swt. dalam QS. Al-‘Asr ayat 1–3:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asr [103]: 1–3).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa iman tidak berdiri sendiri, tetapi diikuti dengan amal saleh. Jika diterapkan dalam kehidupan mahasiswa kebidanan, ilmu yang diperoleh selama pendidikan seharusnya dapat membentuk perilaku dan tindakan yang baik. Misalnya, ketika melakukan praktik klinik, mahasiswa tidak hanya berusaha melakukan prosedur dengan benar, tetapi juga belajar berkomunikasi dengan pasien secara sopan, menghargai privasi, mendengarkan keluhan, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Konsep pohon juga memiliki hubungan dengan gagasan integrasi keilmuan. Muaz, Natsir, dan Haryanti (2022) menjelaskan bahwa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggunakan pohon ilmu sebagai metafora dalam menggambarkan paradigma integrasi keilmuan. Pohon digunakan untuk menggambarkan keterhubungan antara berbagai unsur dalam pengembangan ilmu. Walaupun penelitian tersebut juga memberikan catatan bahwa model integrasi tersebut masih memiliki keterbatasan dari sisi filosofis, gagasan pohon ilmu tetap dapat digunakan untuk memahami bahwa ilmu memiliki dasar dan cabang yang saling berhubungan.
Jika dikaitkan dengan kebidanan, integrasi tersebut dapat diterapkan melalui hubungan antara ilmu kebidanan dengan etika, komunikasi, psikologi, ilmu kesehatan, dan nilai keagamaan. Seorang bidan tidak hanya menghadapi kondisi medis, tetapi juga berhadapan dengan perempuan dan keluarga yang memiliki kekhawatiran, harapan, dan kebutuhan emosional. Oleh sebab itu, kemampuan untuk memahami pasien sebagai manusia menjadi bagian dari profesionalisme.
Buchanan et al. (2022), melalui kajian tentang care ethics dalam praktik kebidanan, menjelaskan bahwa etika kepedulian dapat membantu meningkatkan kepekaan etis dalam pelayanan maternitas. Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian tidak seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang terpisah dari kompetensi profesional. Dalam praktik kebidanan, sikap peduli dapat berjalan bersama dengan kemampuan klinis dan pengambilan keputusan yang tepat.
Penelitian Menage et al. (2020) juga memberikan gambaran mengenai pengalaman perempuan terhadap pelayanan kebidanan yang penuh kasih. Dalam penelitian kualitatif terhadap 17 perempuan, pengalaman tersebut berkaitan dengan kehadiran bidan, hubungan dengan bidan, dan pemberdayaan perempuan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa cara bidan berinteraksi dengan pasien merupakan bagian penting dari pengalaman pelayanan yang diterima perempuan.
Dari sini dapat dilihat bahwa profesionalisme bidan bukan hanya persoalan mampu atau tidak mampu melakukan suatu tindakan. Seorang bidan juga perlu mengetahui batas kompetensinya dan berani meminta bantuan atau melakukan rujukan ketika menghadapi kondisi yang berada di luar kewenangannya. Sikap tersebut justru menunjukkan tanggung jawab profesional karena keselamatan pasien harus menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pelayanan.
Selain itu, profesionalisme juga membutuhkan proses pengembangan diri secara berkelanjutan. Bidan perlu terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan karena perkembangan ilmu kesehatan tidak berhenti pada saat seseorang menyelesaikan pendidikan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Chakraborty et al. (2023) yang menunjukkan bahwa pengalaman kerja, pendidikan, dan pelatihan berhubungan dengan proses memperoleh berbagai kompetensi kebidanan.
Dengan demikian, metafora pohon yang baik dapat menjadi refleksi sederhana bagi mahasiswa kebidanan. Iman menjadi akar yang memberikan arah dan dasar moral. Ilmu menjadi batang serta cabang yang membuat seseorang berkembang secara akademik dan profesional. Sementara itu, amal menjadi buah yang menunjukkan bagaimana ilmu tersebut digunakan untuk memberikan manfaat. Ketiganya perlu berjalan bersama karena profesionalisme tanpa karakter dapat kehilangan nilai kemanusiaannya, sedangkan karakter tanpa ilmu juga tidak cukup untuk memberikan pelayanan kesehatan yang aman.
Profesionalisme bidan pada dasarnya tidak hanya dibangun melalui penguasaan ilmu dan keterampilan, tetapi juga melalui karakter serta nilai yang menjadi dasar dalam menjalankan profesi. Metafora pohon yang baik dalam QS. Ibrahim ayat 24–25 memberikan gambaran bahwa sesuatu yang baik membutuhkan akar yang kuat dan menghasilkan buah yang bermanfaat. Dalam konteks kebidanan, akar tersebut dapat dimaknai sebagai iman, batang dan cabangnya sebagai ilmu serta kompetensi, sedangkan buahnya sebagai amal melalui pelayanan kepada pasien dan masyarakat.
Integrasi iman, ilmu, dan amal dapat membantu mahasiswa kebidanan memahami bahwa menjadi tenaga kesehatan profesional bukan hanya tentang mendapatkan nilai yang baik atau mampu melakukan tindakan klinis. Profesionalisme juga tercermin dari kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, kemampuan berkomunikasi, penghargaan terhadap pasien, serta kemauan untuk terus belajar. Oleh karena itu, pembentukan karakter sebaiknya dimulai sejak masa pendidikan agar nilai tersebut tidak hanya menjadi teori, tetapi menjadi kebiasaan yang terbawa dalam praktik profesi.
Sebagai calon bidan, mahasiswa perlu terus mengembangkan ketiga aspek tersebut secara seimbang. Ilmu perlu dipelajari dengan sungguh-sungguh, iman perlu dijadikan dasar dalam bersikap, dan ilmu yang diperoleh perlu diwujudkan dalam tindakan yang memberikan manfaat. Dengan cara tersebut, profesionalisme bidan tidak hanya menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten, tetapi juga pribadi yang amanah, peduli, dan bertanggung jawab terhadap pasien serta masyarakat.
Ahmad, F. R. A. (2022). Pendidikan karakter berbasis iman, ilmu dan amal. Proceeding of F-ICIS, 1(1), 128–136. https://e-proceedings.iain-palangkaraya.ac.id/FICIS/article/view/1183/1216
Buchanan, K., Newnham, E., Ireson, D., Davison, C., & Geraghty, S. (2022). Care ethics framework for midwifery practice: A scoping review. Nursing Ethics, 29(5), 1107–1133. https://doi.org/10.1177/09697330221073996
Chakraborty, S., Saggurti, N., Adanu, R., Bandoh, D. A. B., Berrueta, M., Gausman, J., Kenu, E., Khan, N., Langer, A., Nigri, C., Odikro, M. A., Pingray, V., Ramesh, S., Vázquez, P., Williams, C. R., Warren, C. E., & Jolivet, R. R. (2023). Validating midwifery professionals’ scope of practice and competency: A multi-country study comparing national data to international standards. PLOS ONE, 18(5), e0286310. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0286310
Menage, D., Bailey, E., Lees, S., & Coad, J. (2020). Women’s lived experience of compassionate midwifery: Human and professional. Midwifery, 85, 102662. https://doi.org/10.1016/j.midw.2020.102662
Muaz, M., Natsir, N. F., & Haryanti, E. (2022). Paradigma integrasi ilmu perspektif pohon ilmu UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Al-Afkar: Journal for Islamic Studies, 5(1), 302–319. https://doi.org/10.31943/afkarjournal.v5i1.221
Kontributor: Aqela Alyfia Thasbitha Zahra
Editor: Ahmad Fauzi, M.Pd.
I. Pendahuluan Profesi keperawatan merupakan salah satu profesi kesehatan yang memiliki tanggung jaw...
PENDAHULUAN Keperawatan merupakan profesi yang berperan sentral dalam sistem pelayanan kesehatan kar...
Pendahuluan Masalah gizi masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Survei Status Gi...
I. Pendahuluan Masa nifas merupakan masa yang penting bagi seorang perempuan karena setelah melahirk...
Pendahuluan Dalam konteks asuhan keperawatan, penghormatan terhadap martabat pasien bukan sekadar pr...
PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...

I. Pendahuluan Profesi ahli gizi memiliki peran penting dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pemberian pelayanan serta in...

Pendahuluan Bidan adalah tenaga kesehatan yang sering berhadapan langsung dengan pasien. Dalam menjalankan tugasnya, bidan tidak hanya membutuhk...

1. PENDAHULUAN Korupsi dalam sektor kesehatan di Indonesia adalah masalah sistemik yang telah berlangsung lama, dengan pola penggelapan dana pub...

Pendahuluan Ma’rifatullah, yaitu mengenal Allah SWT dengan sebenar-benarnya pengenalan, merupakan pondasi utama keimanan seorang muslim. I...

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Islam merupakan agama yang menempatkan aspek ketuhanan (ilahiyah) dan kemanusiaan (insaniyah) sebagai dua dime...

No comments yet.