Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Semangat Iqra’ sebagai Fondasi Budaya Belajar Sepanjang Hayat bagi Profesi Perawat

    Sep 04 202628 Dilihat

    Pendahuluan

      Profesi perawat menuntut kemampuan untuk terus belajar karena pelayanan kesehatan berkembang seiring munculnya bukti ilmiah baru, teknologi, perubahan pola penyakit, serta kebutuhan pasien yang semakin kompleks. Pengetahuan yang diperoleh selama pendidikan formal tidak cukup untuk menjamin kompetensi seorang perawat sepanjang kariernya. Karena itu, budaya belajar sepanjang hayat perlu dipandang bukan sekadar kewajiban profesional, melainkan sebagai sikap hidup yang melekat pada identitas perawat. Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, semangat tersebut memiliki fondasi kuat dalam perintah “iqra’” sebagai awal mula wahyu. Iqra’ dapat dipahami bukan hanya sebagai tindakan membaca teks, tetapi juga sebagai dorongan untuk memperoleh, memahami, menghargai, dan menerapkan pengetahuan dengan tetap berlandaskan pengetahuan tentang Allah.

      Topik ini penting karena kualitas pembelajaran berkelanjutan berhubungan dengan kemampuan tenaga kesehatan mempertahankan kompetensi dan memberikan pelayanan yang aman. WHO menempatkan pendidikan sebagai salah satu arah strategis penting dalam penguatan profesi keperawatan dan menekankan perlunya tenaga perawat memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan masyarakat (World Health Organization [WHO], 2021). Esai ini bertujuan menganalisis semangat iqra’ sebagai fondasi budaya belajar sepanjang hayat serta menjelaskan penerapannya dalam praktik profesi perawat dengan memadukan nilai Al-Qur’an, hadis, pandangan keilmuan, dan tuntutan profesional.

      Pembahasan

        Semangat pembelajaran sepanjang hayat dalam profesi keperawatan berakar dari sifat dinamis ilmu keperawatan. Perawat tidak hanya membutuhkan pengetahuan teoretis, tetapi juga keterampilan klinis, pemikiran kritis, komunikasi, literasi digital, dan pengambilan keputusan berbasis bukti. Budaya belajar sepanjang hayat berarti menjadikan proses belajar sebagai kebiasaan yang berlangsung sejak pendidikan dasar profesi, memasuki dunia kerja, hingga sepanjang perjalanan karier. Bentuknya dapat berupa membaca literatur ilmiah, mengikuti pelatihan, melakukan refleksi praktik, berdiskusi dengan sejawat, memanfaatkan sumber belajar digital, mengikuti pendidikan berkelanjutan, dan memperbarui kompetensi sesuai perkembangan ilmu.

        Dalam konteks ini, konsep iqra’ memberikan landasan spiritual yang kuat. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1–5:

        اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

        Artinya: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakanmu. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Agung. Dia mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajar manusia apa yang belum mereka ketahui” (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2019).

        Ayat tersebut menunjukkan bahwa aktivitas memperoleh pengetahuan memiliki hubungan dengan pengakuan terhadap Allah sebagai sumber ilmu. Perintah iqra’ juga diikuti dengan penyebutan “nama Tuhanmu”, sehingga proses belajar tidak berhenti pada pengumpulan informasi. Bagi calon maupun praktisi perawat, hal ini dapat dimaknai sebagai ajakan untuk membaca ilmu kesehatan dengan niat yang benar, memahami bukti secara kritis, kemudian menggunakannya untuk kemaslahatan pasien. Dengan demikian, semakin tinggi pengetahuan seorang perawat, seharusnya semakin besar pula tanggung jawab moralnya dalam menggunakan pengetahuan tersebut.

        Pesan tersebut diperkuat oleh beberapa hadis Nabi Muhammad SAW :

        مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

        Artinya: “Barang siapa menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.” (Muslim, n.d., Hadis No. 2699).

        مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

        Artinya : “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam agama” (HR. Bukhari dan Muslim)

        طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

        Artinya : “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah, No. 224.)

        بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

        Artinya : “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. Bukhari, No. 3461.)

        Hadis ini memberikan penghargaan yang tinggi terhadap proses mencari ilmu. Jika diterapkan dalam keperawatan, proses mengikuti pendidikan, membaca hasil penelitian, memperbaiki keterampilan, dan mengevaluasi pengalaman klinis dapat dipandang sebagai bagian dari perjalanan mencari ilmu yang harus dijalani secara sungguh-sungguh. Nilai tersebut juga membentuk motivasi intrinsik agar perawat tidak belajar hanya karena tuntutan administrasi atau kewajiban memperoleh sertifikat.

        Dari perspektif keilmuan, pembelajaran berkelanjutan merupakan bagian penting dari profesionalisme. International Council of Nurses menempatkan kompetensi, tanggung jawab profesional, dan akuntabilitas sebagai unsur penting dalam praktik keperawatan yang etis (International Council of Nurses [ICN], 2021). Sejalan dengan itu, WHO menempatkan pendidikan sebagai salah satu dari empat area strategis penguatan keperawatan dan menekankan perlunya pengembangan kompetensi perawat agar mampu memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat (WHO, 2021). Artinya, budaya belajar bukan tambahan di luar profesi, tetapi bagian dari kemampuan perawat menjalankan tanggung jawab profesional.

        Kajian ilmiah terbaru juga menunjukkan bahwa teknologi dapat memperluas kesempatan belajar. Tinjauan sistematis Dentice et al. (2026) mengenai e-learning untuk pendidikan berkelanjutan tenaga kesehatan menemukan bahwa pembelajaran digital dapat memberikan manfaat pada hasil profesional dan aspek pelayanan pasien, meskipun efektivitasnya tetap dipengaruhi oleh desain pembelajaran dan konteks penerapannya. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa semangat iqra’ pada masa kini dapat diwujudkan melalui literasi digital yang bertanggung jawab. Perawat perlu mampu memilih sumber yang kredibel, membedakan informasi ilmiah dari informasi yang tidak terverifikasi, serta menggunakan teknologi sebagai sarana belajar, bukan sebagai pengganti penilaian profesional.

        Dalam praktik keperawatan, budaya belajar sepanjang hayat dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Seorang perawat dapat meluangkan waktu untuk membaca pedoman klinis terbaru sebelum melaksanakan tindakan tertentu, mengevaluasi pengalaman setelah memberikan pelayanan, mendiskusikan kasus dengan tim, dan mencari bukti ilmiah ketika menghadapi persoalan yang belum dipahami.

        Kebiasaan tersebut mencerminkan siklus belajar: menemukan persoalan, mencari pengetahuan, menilai bukti, menerapkan pengetahuan, kemudian merefleksikan hasilnya. Pada tingkat institusi, budaya ini dapat diperkuat melalui diskusi kasus, pelatihan berkala, mentoring, journal club, simulasi, dan akses terhadap sumber ilmiah.

        Semangat iqra’ juga memiliki dimensi etis. Perawat berhadapan langsung dengan manusia yang berada dalam kondisi membutuhkan bantuan. Ketika seorang perawat berhenti belajar, terdapat risiko pengetahuannya tertinggal dari perkembangan praktik. Sebaliknya, kemauan memperbarui pengetahuan menunjukkan penghargaan terhadap keselamatan dan martabat pasien. Karena itu, belajar sepanjang hayat tidak semata-mata bertujuan meningkatkan karier, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab terhadap amanah profesi. Pengetahuan yang dipelajari harus diarahkan pada pelayanan yang aman, efektif, manusiawi, dan sesuai bukti.

        Menurut Benner (1984), perkembangan kompetensi perawat berlangsung melalui pengalaman dan pembelajaran yang bertahap, dari pemula menuju tingkat keahlian yang lebih tinggi. Pandangan ini memperkuat gagasan bahwa kompetensi bukan sesuatu yang selesai ketika seseorang memperoleh ijazah. Pengalaman praktik perlu disertai refleksi dan pembelajaran agar pengalaman tersebut benar-benar berkembang menjadi kompetensi. Dalam kerangka Islam, proses tersebut dapat dipadukan dengan niat ibadah dan tanggung jawab untuk memberikan manfaat. Dengan demikian, iqra’ menjadi jembatan antara ilmu, pengalaman, refleksi, dan pengabdian.

        Analisis tersebut menunjukkan bahwa budaya belajar sepanjang hayat bagi perawat sebaiknya dibangun melalui tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu kesadaran spiritual, tanggung jawab ilmiah, dan penerapan profesional. Kesadaran spiritual membuat belajar memiliki orientasi nilai; tanggung jawab ilmiah membuat perawat mencari pengetahuan berdasarkan bukti; sedangkan penerapan profesional memastikan ilmu tersebut benar-benar meningkatkan kualitas pelayanan. Ketiganya menjadikan semangat iqra’ bukan sekadar slogan, melainkan kebiasaan nyata dalam kehidupan profesional perawat.

        Penutup

          Semangat iqra’ dapat menjadi fondasi yang kuat bagi terbentuknya budaya belajar sepanjang hayat dalam profesi perawat. Perintah membaca dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1–5 dan hadis tentang keutamaan menempuh jalan mencari ilmu menunjukkan bahwa proses memperoleh pengetahuan memiliki nilai spiritual sekaligus moral. Dalam keperawatan, nilai tersebut sejalan dengan tuntutan profesional untuk mempertahankan kompetensi, mengikuti perkembangan ilmu, menggunakan bukti ilmiah, dan menjaga keselamatan pasien. Oleh karena itu, mahasiswa dan perawat perlu membangun kebiasaan belajar yang konsisten melalui membaca literatur, refleksi praktik, pendidikan berkelanjutan, diskusi ilmiah, dan pemanfaatan teknologi secara kritis. Institusi pendidikan dan pelayanan juga perlu menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran berkelanjutan. Dengan menjadikan iqra’ sebagai budaya, perawat tidak hanya menjadi tenaga kesehatan yang terampil, tetapi juga pribadi pembelajar yang bertanggung jawab, berintegritas, dan berorientasi pada kemaslahatan manusia.

          Daftar Pustaka

          Benner, P. (1984). From novice to expert: Excellence and power in clinical nursing practice. Addison-Wesley.

          Dentice, S., Moreal, C., Chiappinotto, S., Dussi, G., Magro, G., Iurilli, M., Mazzaccara, A., & Palese, A. (2026). Professional and patient care outcomes of e-learning in healthcare continuing education: A systematic review. Nurse Education in Practice, 94, 104866. https://doi.org/10.1016/j.nepr.2026.104866

          International Council of Nurses. (2021). The ICN code of ethics for nurses. International Council of Nurses.

          Dentice, S., Moreal, C., Chiappinotto, S., Dussi, G., Magro, G., Iurilli, M., Mazzaccara, A., & Palese, A. (2026).

          Professional and patient care outcomes of e-learning in healthcare continuing education: A systematic review. Nurse Education in Practice, 94,

          International Council of Nurses. (2021). The ICN code of ethics for nurses.  International Council of Nurses.

          Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Muslim, I. (n.d.). Sahih Muslim (Hadis No. 2699).

          World Health Organization. (2021). The WHO global strategic directions for nursing and midwifery 2021–2025. World Health Organization. https://doi.org/10.2471/9789240033863

          Kontributor: Azizi Fatihul Aldra

          Editor: M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.

          Share to

          Related News

          Kompetensi Klinis dan Kedalaman Spiritua...

          by Shofwatun Nisa Sep 17 2026

          I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...

          Akhlak Kepada Allah Sebagai Fondasi Spir...

          by Selvi Hertati Br Simbolon Sep 17 2026

          PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...

          Cinta Allah pada Keindahan sebagai Landa...

          by Naswa Nabila Putri Sep 16 2026

          I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...

          Benteng Akhlak Ahli Gizi dalam Menghadap...

          by Anggun Rizqiyana Sep 15 2026

          Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...

          Budaya Kerja Berbasis Nilai Ihsan dalam ...

          by Mutiara Situmorang Sep 15 2026

          I. Pendahuluan  Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...

          Kisah Penumpang Kapal dalam Hadis Nabi s...

          by Jennysa Maulani Sep 15 2026

          I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

          No comments yet.

          Please write your comment.

          Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

          *

          *

          Jurnal Dedikasi

          Jurnal Madani

          Jurnal Cendekia

          Other News

          Mengapa Kebijakan Internasional Sulit Diterapka...

          1. PENDAHULUAN Dalam hubungan antarnegara saat ini, arus globalisasi telah memaksa setiap negara untuk saling terhubung dalam menyelesaikan berb...

          Generasi Milenial: Harapan Indonesia Bebas Koru...

          1. PENDAHULUAN Indonesia adalah bangsa dengan potensi yang sangat besar kaya akan sumber daya alam, memiliki jumlah penduduk muda yang signifika...

          11 Apr 2026

          Dampak Korupsi terhadap Program Pencegahan Stun...

          1. PENDAHULUAN Latar Belakang Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi dalam 1.000 ha...

          Hak-Kewajiban Warga Negara: Titik Temu Konsep K...

          Pendahuluan Hak dan kewajiban warga negara merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ked...

          13 Sep 2026

          Antara Amanah Ilmu dan Kemudahan AI

          Dilema Mahasiswa Muslim di Era Kecerdasan Buatan 1. PENDAHULUAN Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam beberapa tahun...

          09 Jun 2026
          back to top