Carolina Octaviona Siahaan • Oct 30 2026 • 21 Dilihat

Ilmu gizi merupakan bidang kesehatan yang tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan zat gizi, perhitungan energi, dan penyusunan makanan, tetapi juga berhubungan dengan perilaku makan, kondisi kesehatan, lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, serta kemampuan individu dalam menerapkan anjuran gizi. Oleh sebab itu, praktik ilmu gizi membutuhkan kompetensi ilmiah sekaligus kemampuan memahami kondisi manusia yang menerima pelayanan. Standar Profesi Nutrisionis menempatkan standar kompetensi dan kode etik sebagai dasar dalam menjalankan pelayanan profesional sehingga pelayanan gizi dapat diberikan secara bertanggung jawab.
Dalam praktiknya, terdapat kondisi ketika rekomendasi gizi yang benar secara ilmiah belum tentu mudah diterapkan oleh pasien. Seseorang dapat memperoleh anjuran diet yang sesuai dengan kondisi kesehatannya, tetapi mengalami kesulitan menjalankannya karena keterbatasan ekonomi, ketersediaan bahan pangan, pekerjaan, kebiasaan keluarga, budaya makan, kondisi psikologis, atau kurangnya pemahaman. Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan memberikan rekomendasi yang benar. Tenaga gizi perlu memahami kondisi yang menyebabkan pasien sulit menerapkan rekomendasi tersebut.
Pada keadaan inilah empati memiliki peranan penting. Empati merupakan kemampuan untuk memahami pengalaman, perasaan, kebutuhan, dan sudut pandang orang lain serta memberikan respons yang sesuai. Dalam praktik gizi, empati bukan berarti tenaga gizi harus menyetujui semua pilihan pasien. Empati lebih tepat dipahami sebagai kemampuan untuk memahami alasan dan kondisi di balik perilaku pasien sehingga intervensi yang diberikan dapat disampaikan dan diterapkan secara lebih sesuai.
De Graaff, Bennett, dan Dart (2024) melalui scoping review mengenai empati dalam nutrition and dietetics menunjukkan bahwa empati merupakan keterampilan penting dalam pelayanan nutrisi dan dietetik yang berpusat pada pasien. Kajian tersebut juga menekankan pentingnya pengembangan empati dalam pendidikan dan praktik profesional nutrisi dan dietetik. Sementara itu, Goodchild, Skinner, dan Parkin (2005) menemukan bahwa respons yang lebih empatik dalam konsultasi dietetik berkaitan dengan kepuasan pasien yang lebih tinggi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa hubungan interpersonal dalam konsultasi tidak dapat dipisahkan dari kualitas pengalaman pasien dalam menerima pelayanan.
Berdasarkan hal tersebut, empati dalam praktik ilmu gizi tidak seharusnya dipandang hanya sebagai sikap tambahan. Empati dapat menjadi penghubung antara kompetensi ilmiah tenaga gizi dan kebutuhan nyata pasien. Kompetensi ilmiah membantu menentukan tindakan yang tepat berdasarkan bukti, sedangkan empati membantu tenaga gizi memahami bagaimana tindakan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan pasien. Esai ini membahas peran empati sebagai jembatan antara kompetensi ilmiah dan kebutuhan pasien serta batas penerapannya dalam menjaga profesionalisme pelayanan gizi.
A. Kompetensi Ilmiah dan Tantangan Kondisi Nyata Pasien
Kompetensi ilmiah merupakan fondasi utama dalam praktik ilmu gizi. Nutrisionis perlu memiliki kemampuan melakukan pengkajian, mengidentifikasi masalah gizi, menentukan intervensi, memberikan edukasi, serta melakukan pemantauan dan evaluasi. Setiap keputusan tersebut harus didasarkan pada pengetahuan dan bukti ilmiah agar pelayanan yang diberikan aman dan dapat dipertanggungjawabkan. Nagy et al. (2022) menegaskan bahwa praktik dietetik merupakan profesi berbasis bukti ilmiah. Namun, penerapan bukti ilmiah dalam praktik juga perlu mempertimbangkan keahlian profesional serta nilai dan keadaan klien. Kajian mereka terhadap 76 penelitian menunjukkan bahwa hubungan terapeutik merupakan komponen yang bernilai dalam praktik dietetik dan bersifat kompleks serta melibatkan berbagai faktor.
Hal tersebut menunjukkan bahwa ilmu gizi tidak berlangsung dalam ruang yang terpisah dari kehidupan pasien. Rekomendasi yang diberikan selalu berhadapan dengan kondisi nyata. Misalnya, seorang pasien dianjurkan mengonsumsi makanan tertentu untuk memenuhi kebutuhan proteinnya. Secara ilmiah, rekomendasi tersebut dapat tepat. Akan tetapi, pasien mungkin memiliki keterbatasan ekonomi, sulit memperoleh bahan makanan tersebut, atau tidak terbiasa mengonsumsinya. Jika tenaga gizi hanya berfokus pada apakah rekomendasi sudah sesuai dengan teori, hambatan pasien dapat terabaikan. Akibatnya, ketika pasien tidak mampu mengikuti anjuran, masalah tersebut dapat dengan mudah dianggap sebagai ketidakpatuhan. Padahal, ketidakmampuan menjalankan rekomendasi dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang sebenarnya dapat diketahui melalui komunikasi yang baik.
Dengan demikian, kompetensi ilmiah tetap menjadi dasar utama, tetapi penerapannya membutuhkan pemahaman terhadap konteks kehidupan pasien. Di sinilah empati menjadi penting.
B. Empati sebagai Jembatan antara Ilmu dan Kebutuhan Pasien
Empati dapat berfungsi sebagai jembatan karena membantu tenaga gizi menghubungkan pengetahuan profesional dengan pengalaman pasien. Tenaga gizi tidak hanya bertanya mengenai apa yang dimakan pasien, tetapi juga berusaha memahami mengapa pola makan tersebut terjadi. Sebagai contoh, apabila seorang pasien tidak mengikuti diet yang dianjurkan, tenaga gizi tidak seharusnya langsung memberikan penilaian bahwa pasien tidak disiplin. Tenaga gizi dapat menggali apakah terdapat masalah biaya, akses terhadap makanan, pekerjaan, dukungan keluarga, kebiasaan makan, pemahaman terhadap diet, atau faktor lainnya.
Cara pandang tersebut bukan berarti membenarkan semua perilaku pasien. Sebaliknya, empati memberikan informasi tambahan yang dapat membantu tenaga gizi menentukan pendekatan yang lebih tepat. Pasien dengan masalah ekonomi tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan pasien yang sebenarnya memiliki akses makanan yang baik tetapi kurang memahami tujuan diet. De Graaff et al. (2024) menunjukkan bahwa empati merupakan bagian penting dari pelayanan nutrisi dan dietetik. Kajian tersebut juga menunjukkan bahwa empati perlu dikembangkan sebagai kompetensi yang dapat dipelajari dan dikembangkan dalam pendidikan serta praktik profesional.
Dengan demikian, empati bukan pengganti kompetensi ilmiah. Empati justru membantu kompetensi ilmiah mencapai sasaran yang lebih tepat. Ilmu menentukan apa yang dibutuhkan pasien, sedangkan empati membantu memahami bagaimana kebutuhan tersebut dapat diwujudkan dalam kondisi kehidupan pasien.
C. Empati dalam Proses Konseling dan Intervensi Gizi
Empati dapat diterapkan secara konkret dalam proses pelayanan gizi. Proses tersebut dapat dimulai dari kemampuan mendengarkan pasien. Pasien perlu diberikan kesempatan untuk menceritakan kebiasaan makan, kesulitan menjalankan diet, pengalaman sebelumnya, dan harapan terhadap pelayanan. Sladdin et al. (2017), melalui kajian integratif terhadap 27 penelitian tentang patient-centred care dalam praktik dietetik, mengidentifikasi beberapa tema penting, antara lain hubungan positif antara dietisien dan pasien, perilaku humanistik, komunikasi yang efektif, serta penyesuaian pelayanan dengan kebutuhan individual pasien.
Artinya, kemampuan berkomunikasi tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan informasi. Komunikasi juga berfungsi untuk memperoleh informasi mengenai pasien. Semakin terbuka pasien dalam menjelaskan kondisinya, semakin besar peluang tenaga gizi memahami hambatan yang sebenarnya terjadi. Setelah hambatan diketahui, tenaga gizi dapat mempertimbangkan penyesuaian dalam intervensi. Penyesuaian tersebut tetap harus berada dalam batas ilmu dan standar profesi. Misalnya, apabila pasien tidak mampu membeli jenis makanan tertentu, tenaga gizi dapat mencari alternatif bahan makanan dengan nilai gizi yang sesuai dan lebih terjangkau.
Barkmeijer et al. (2022) dalam scoping review terhadap 28 penelitian mengidentifikasi tujuh strategi yang berkontribusi terhadap konseling diet yang efektif. Strategi tersebut antara lain menghubungkan konseling dengan motivasi pasien, menyesuaikan metode konseling, memberikan umpan balik secara berulang, menunjukkan empati, serta mempertimbangkan preferensi, keinginan, dan harapan klien dalam pengambilan keputusan.
Berdasarkan hal tersebut, penerapan empati dapat digambarkan melalui alur:
mendengarkan pengalaman pasien → memahami hambatan → menentukan pendekatan yang sesuai → menyesuaikan penerapan intervensi berbasis bukti → melakukan evaluasi bersama pasien.
Rangkaian tersebut merupakan sintesis penulis berdasarkan berbagai kajian mengenai empati, hubungan terapeutik, konseling diet, dan pelayanan berpusat pada pasien. Rangkaian tersebut bukan model klinis baku, tetapi dapat digunakan untuk menggambarkan bagaimana empati memiliki fungsi praktis dalam proses pelayanan gizi.
D. Empati dan Hubungan Terapeutik dalam Pelayanan Gizi
Pelayanan gizi membutuhkan hubungan profesional antara tenaga gizi dan pasien. Hubungan tersebut tidak hanya dibangun melalui kemampuan teknis, tetapi juga melalui komunikasi dan kepercayaan. Nagy et al. (2022) menemukan bahwa hubungan terapeutik dalam praktik dietetik dipandang bernilai oleh berbagai penelitian dan memiliki sifat multifaktorial. Kajian tersebut juga menunjukkan bahwa hubungan terapeutik membutuhkan keterampilan yang dapat dilatih dan dikembangkan dalam praktik. Namun, peneliti juga menekankan bahwa bukti kuantitatif mengenai hubungan langsung antara kekuatan hubungan terapeutik dan hasil kesehatan masih terbatas.
Hal ini penting untuk menjaga agar argumentasi mengenai empati tidak berlebihan. Empati tidak dapat diklaim sebagai satu-satunya penyebab keberhasilan intervensi gizi. Kondisi kesehatan, lingkungan, ekonomi, dukungan keluarga, akses pangan, motivasi, dan berbagai faktor lain juga berpengaruh terhadap keberhasilan pelayanan. Namun demikian, keterbatasan bukti tersebut tidak berarti empati tidak penting. Empati tetap memiliki nilai dalam proses pelayanan, khususnya dalam membangun hubungan profesional, memahami pengalaman pasien, dan mendukung komunikasi yang lebih efektif.
Goodchild et al. (2005) juga menemukan hubungan antara respons empatik dalam konsultasi dietetik dan kepuasan pasien. Temuan tersebut memberikan bukti langsung dalam konteks konsultasi dietetik bahwa aspek interpersonal dapat berhubungan dengan pengalaman pasien terhadap pelayanan. Dengan demikian, posisi empati yang lebih tepat bukan sebagai “jaminan keberhasilan” intervensi gizi, melainkan sebagai salah satu unsur yang membantu menciptakan proses pelayanan yang lebih responsif terhadap pasien.
E. Empati Tidak Berarti Mengabaikan Standar Profesional
Empati memiliki batas. Tenaga gizi tetap bertanggung jawab memberikan pelayanan berdasarkan bukti ilmiah, standar profesi, keamanan pasien, dan etika. Oleh sebab itu, empati tidak dapat diartikan sebagai keharusan untuk menyetujui semua keinginan pasien. Misalnya, seorang pasien menginginkan pola makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan klinisnya. Respons yang empatik bukan berarti tenaga gizi langsung mengikuti keinginan tersebut. Tenaga gizi perlu memahami alasan pasien memilih pola tersebut, menjelaskan manfaat dan risiko berdasarkan bukti ilmiah, kemudian mencari alternatif yang lebih aman dan tetap mempertimbangkan kondisi pasien.
Pada keadaan tersebut terlihat bahwa kompetensi ilmiah dan empati memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi. Kompetensi ilmiah menjaga agar keputusan tetap benar secara profesional, sedangkan empati membantu agar keputusan tersebut disampaikan dan diterapkan dengan mempertimbangkan manusia yang menerimanya. Standar Profesi Nutrisionis menjadi penting dalam menjaga keseimbangan tersebut karena profesi tidak hanya membutuhkan kompetensi, tetapi juga landasan etika dalam pelayanan. Dengan demikian, kepedulian terhadap pasien tidak boleh menghilangkan tanggung jawab profesional.
F. Empati dalam Perspektif Nilai Kristiani
Dalam perspektif Kristen, kepedulian terhadap pasien dapat dikaitkan dengan perintah untuk mengasihi sesama. Matius 22:39 mengajarkan, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Nilai tersebut dapat menjadi dasar moral bagi tenaga gizi untuk memperlakukan pasien dengan hormat, tidak merendahkan, serta memperhatikan kebutuhan dan keterbatasannya.
Prinsip tersebut juga dapat dikaitkan dengan Filipi 2:4 yang mengajarkan agar seseorang tidak hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi juga kepentingan orang lain. Dalam pelayanan gizi, prinsip tersebut dapat diwujudkan melalui kesediaan mendengarkan pasien dan mempertimbangkan kondisi yang memengaruhi kemampuan pasien dalam menjalankan anjuran.
Namun, nilai kasih tidak berarti menggantikan ilmu pengetahuan. Pelayanan yang penuh kasih justru harus tetap bertanggung jawab. Tenaga gizi tidak dapat memberikan rekomendasi yang tidak aman hanya karena ingin menyenangkan pasien. Kasih perlu diwujudkan melalui pelayanan yang benar, aman, menghargai martabat manusia, dan tetap sesuai dengan standar profesi.
Dengan demikian, perspektif Kristen memberikan landasan moral mengenai bagaimana pasien diperlakukan, sedangkan kompetensi ilmu gizi memberikan dasar profesional mengenai apa yang tepat untuk diberikan. Keduanya dapat berjalan bersama tanpa mencampuradukkan fungsi iman dan ilmu.
G. Sintesis: Empati sebagai Penghubung Kompetensi dan Kemanusiaan
Berdasarkan pembahasan sebelumnya, dapat dilihat bahwa persoalan utama dalam praktik ilmu gizi bukan hanya apakah tenaga gizi memiliki pengetahuan yang cukup, tetapi apakah pengetahuan tersebut dapat diterapkan secara bermakna pada pasien. Kompetensi ilmiah memberikan dasar untuk menentukan kebutuhan dan intervensi. Empati membantu tenaga gizi memahami pengalaman dan hambatan pasien. Komunikasi menjadi sarana untuk menyampaikan dan menggali informasi. Evaluasi kemudian digunakan untuk mengetahui apakah intervensi dapat diterapkan dan perlu disesuaikan.
Hubungan tersebut dapat diringkas sebagai berikut:
kompetensi ilmiah → memahami kebutuhan gizi → empati → memahami kondisi dan hambatan pasien → komunikasi → penyesuaian penerapan intervensi → evaluasi.
Gagasan ini menunjukkan bahwa empati bukan sekadar sikap tambahan dalam pelayanan. Empati memiliki fungsi sebagai penghubung antara ketepatan ilmiah dan realitas kehidupan pasien. Namun, penghubung tersebut tetap bekerja di dalam batas kompetensi, bukti ilmiah, etika, dan keselamatan pasien. Inilah alasan mengapa kualitas praktik ilmu gizi sebaiknya tidak hanya dinilai dari ketepatan rekomendasi. Kualitas juga dapat dilihat dari kemampuan tenaga gizi memastikan bahwa rekomendasi tersebut dipahami, dipertimbangkan sesuai keadaan pasien, dan dapat diterapkan secara realistis.
Praktik ilmu gizi membutuhkan lebih dari sekadar penguasaan teori dan kemampuan teknis. Kompetensi ilmiah merupakan fondasi yang menentukan ketepatan pengkajian dan intervensi, tetapi penerapannya berlangsung pada pasien yang memiliki kondisi sosial, ekonomi, budaya, keluarga, pekerjaan, pengalaman, dan kemampuan yang berbeda.
Dalam konteks tersebut, empati dapat menjadi jembatan antara kompetensi ilmiah dan kebutuhan pasien. Melalui empati, tenaga gizi dapat mendengarkan pengalaman pasien, memahami hambatan, membangun komunikasi yang lebih terbuka, serta mempertimbangkan penyesuaian penerapan intervensi tanpa meninggalkan dasar ilmiah. Berbagai kajian dalam bidang dietetik mendukung pentingnya empati, hubungan terapeutik, komunikasi, dan individualisasi dalam proses pelayanan gizi.
Meskipun demikian, empati bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan pelayanan gizi. Kondisi ekonomi, akses pangan, lingkungan, dukungan keluarga, kondisi kesehatan, motivasi, dan kemampuan individu juga perlu diperhitungkan. Oleh karena itu, tenaga gizi perlu mengembangkan kompetensi ilmiah sekaligus kemampuan komunikasi dan empati.
Dalam perspektif Kristen, empati dapat menjadi salah satu bentuk nyata kasih kepada sesama. Akan tetapi, kasih dalam pelayanan tidak berarti mengabaikan standar profesional. Kasih justru perlu diwujudkan melalui pelayanan yang benar, aman, bertanggung jawab, dan menghargai martabat pasien.
Dengan demikian, praktik ilmu gizi yang berkualitas adalah praktik yang mampu mempertemukan ketepatan ilmu dengan pemahaman terhadap manusia. Kompetensi ilmiah memastikan bahwa pelayanan memiliki dasar yang benar, sedangkan empati membantu memastikan bahwa dasar tersebut dapat diterapkan secara manusiawi dan sesuai dengan kebutuhan nyata pasien.
Barkmeijer, A., te Molder, H., Janssen, M., & Jager-Wittenaar, H. (2022). Towards effective dietary counseling: A scoping review. Patient Education and Counseling, 105(7), 1801–1817. https://doi.org/10.1016/j.pec.2021.12.011
de Graaff, E., Bennett, C., & Dart, J. (2024). Empathy in nutrition and dietetics: A scoping review. Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics, 124(9), 1181–1205. https://doi.org/10.1016/j.jand.2024.04.013
Goodchild, C. E., Skinner, T. C., & Parkin, T. (2005). The value of empathy in dietetic consultations: A pilot study to investigate its effect on satisfaction, autonomy and agreement. Journal of Human Nutrition and Dietetics, 18(3), 181–185. https://doi.org/10.1111/j.1365-277X.2005.00606.x
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Sekretariat Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia. (2020). Standar profesi nutrisionis: Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/342/2020. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Lembaga Alkitab Indonesia. (1974). Alkitab Terjemahan Baru. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.
Nagy, A., McMahon, A., Tapsell, L., & Deane, F. (2022). The therapeutic relationship between a client and dietitian: A systematic integrative review of empirical literature. Nutrition & Dietetics, 79(3), 303–348. https://doi.org/10.1111/1747-0080.12723
Rahayuningsih, L. A. S., & Cahyaningrum, N. (2023). Pengaruh sikap empati tenaga kesehatan terhadap kepuasan pasien: Meta analisis. Infokes, 13(2), 122–127. https://doi.org/10.47701/infokes.v13i2.3130
Sladdin, I., Ball, L., Bull, C., & Chaboyer, W. (2017). Patient-centred care to improve dietetic practice: An integrative review. Journal of Human Nutrition and Dietetics, 30(4), 453–470. https://doi.org/10.1111/jhn.12444
Kontributor:Â Carolina Octaviona Siahaan
Editor:Â Ahmad Fauzi, M.Pd.
PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...
Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...
1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...
PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...
PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...
Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

I. Pendahuluan Institusi gizi baik dalam bentuk unit gizi rumah sakit, puskesmas, layanan katering kesehatan, maupun program gizi masyarakat mer...

I. Pendahuluan Interaksi akademik merupakan bagian penting dalam kehidupan mahasiswa karena proses pendidikan tidak hanya berlangsung melalui ke...

Pendahuluan Kesehatan jantung merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas hidup manusia. Penyakit jantung tidak hanya terjadi karena faktor ...

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanyaan mengenai siapa manusia dan untuk apa manusia hidup merupakan salah satu persoalan paling mendasar d...

I. PENDAHULUAN Demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang memberikan hak kepada rakyat untuk memilih pemimpin dan menentukan arah kebijakan ne...

No comments yet.